Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Yuk Simak Asal Usul Bagaimana Bisa Pasir Pantai sampai ke Goa?

Posted: March 23rd 2019

Team pengamat independent dari Institut Technologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, mengusahakan menguak misteri situs Watu Gong di Desa Tumenggungan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka mendatangi serta mengerjakan sekumpulan analisa di situs purbakala itu, sejak mulai Rabu (15/11/2017) tempo hari.
Artikel Terkait : jangka sorong

Situs Watu Gong sampai kini memang tetap menyimpan pertanyaan besar yg belum juga terjawab. Satu diantaranya pertanyaan besarnya merupakan bagaimana mungkin pasir menyerupai pasir pantai mengendap pada dinding situs. Itu jadi pertanyaan dikarenakan dengan cara geografis, Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan serta jauh dari pesisir. Agustin Aryani, satu diantaranya pengamat, mengatakan, kehadiran pasir itu didapati sehabis team menerjunkan beberapa perabotan ke area terpendamnya Watu Gong. Perabotan moderen itu seperti drone, stabilizer, GPS, waktu sorong, digital mtr., geolistrik, dan seterusnya. ” Kami menemukannya ada bahan perekat bangunan atau semen purba serta paduan pasir putih atau pasir laut pada batu olahan penyusun candi. Ini berubah menjadi pertanyaan besar dari lokasi mana asal pasir itu? Apa disaat itu pasir laut berniat dihadirkan ke lokasi Wonosobo buat ’pabrik’ pemrosesan batu, atau apa bahan itu cuma berada pada Situs Watu Gong saja, ” kata Agustin, Kamis (16/11/2017) . Baca Ikut : Mengungkap Misteri Kapal VOC yg Karam dalam Perjalanan ke Batavia Menurut dia, analisa ini juga sekaligus jadi usaha buat tunjukkan suatu hepotesis yg menjelaskan situs Watu Gong berniat dipendam dalam tanah. Hepotesis ini udah diyakini warga sudah lama. Tetapi diperlukan tinjauan lebih dalam kembali buat memberi bukti. ” Dari analisa ini kami mau tunjukkan asumsi terkait bangunan situs yg berniat dipendam, ” ujar Aryani. Proses penggalian situs Watu Gong Wonosobo oleh Team Pengamat ITS, Kamis (16/11/2017) .


Simak Juga : Mikrometer Sekrup

(Dok Humas Pemkab Wonosobo) Team pengamat yg turut serta dalam misi ini terdiri dalam banyak pakar pelbagai disiplin pengetahuan, seperti Tehnik Elektro, Tehnik Informatika, Tehnik Industri dan Tehnik Geofisika. Mereka ikut dibantu oleh penduduk seputarnya. Agustin ceritakan, sepanjang analisa pihaknya ikut sukses menemukan ada getaran listrik pada batuan serta tanah yg bisa tembus kedalaman lebih kurang 40 mtr. dibawah tanah. Getaran itu terdeteksi dari alat Geolistrik. Tidak hanya itu, susulnya, team ikut menemukannya ada denah area simetris di situs yg dikira berumur beberapa ribu tahun itu. “Denah area simetris berikut ini yg dipandang sebagai pintu gerbang analisa sesudah itu, dimana ada sandi-sandi menarik yang wajib lekas dipecahkan oleh banyak ahli pengamat dari lintas disiplin pengetahuan, ” papar ia. Di lain bagian, ujarnya, ada penemuan-penemuan baru itu dikehendaki berubah menjadi stimulasi pada pakar serta stakeholder buat senantiasa mengulas beberapa benda bersejarah ini. Dikarenakan, menurut dia situs Watu Gong tetap menyimpan banyak misteri yg belum juga terselesaikan, termasuk juga umur situs ini. “Pembacaan histori di Kabupaten Wonosobo mesti lekas dibenahi, lantaran mungkin saja kira-kira umur batuan penyusun bangunan purbakala merupakan lebih tua dari catatan-catatan histori yg udah ada serta memanfaatkan beberapa teknik moderen buat membangunnya, ” jelasnya.

Buat meyakinkan pekerjaan infrastruktur yg dikerjakan oleh rekan, Mirna lantas langsung mengerjakan penelusuran ke lapangan.

Area yg dicek merupakan pembagunan Jalan Sunan Abinowo Patebon, Jalan raya Gemuh-Tlahap di Desa Gebang, serta jalan Rejosari-Turunrejo Brangsong.

Penelusuran dilaksanakan melalui langkah ambil sampel bahan baku beton jalan, besarnya besi, serta ketinggian beton.

Bahkan juga kala mengerjakan penelusuran, Mirna gak segan-segan berjongkok sembari membawa penggaris waktu sorong manual buat mengukur ketinggian beton jalan.

Dari penelusuran itu didapati kalau pembangunan jalan Rejosari-Turunrejo retak walaupun sebenarnya tetap baru serta belum juga dilalui.

“Nanti pemborongnya bakal kami mohon buat membuka serta memperbaikinya, ” kata Mirna.

Tidak cuman paham ada jalan yg pembangunannya belum juga prima, Mirna ikut memperoleh aduan dari penduduk Patebon.

Ialah pembangunan Jalan Sunan Abinowo Patebon berdebu hingga mengganggu pernafasan.

“Pemborong di Jalan Sunan Abinowo ini sempat saya peringatkan lantaran menyalahi peraturan. Kelak bakal kembali kami kasih peringatkan. Bila senantiasa melanggar sampai 3 kali, bakal kami blacklist, ” pungkasnya.

Disamping itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum serta Penyusunan Area (PUPR) Sugiono mengemukakan, ada sejumlah titik jalan yg dibeton pada tahun ini.

Dari penelusuran barusan, ketinggian jalan udah sesuai keputusan.

“Kami terus akan mengerjakan pemantauan. Bila belum juga prima, bakal kami suruh buat menyempurnakan, ” imbuhnya.

Giono mengharapkan pembangunan jalan tahun ini dapat usai sesuai sama keputusan yg ada, hingga warga tak dirugikan.

“Saat ini gara-gara pembangunan jalan, warga yg pengin melalui mesti sabar lantaran antre, ” ujarnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php