Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Yuk Intip Peranan Matematika dalam Sejarah Intelektual Islam

Posted: April 1st 2019

Pengetahuan matematika mendapat tempat terpandang dalam histori intelektual Islam. Dengan cara historis, matematika dimaksud ulum riyadhiyah atau ta’limiyah (matematika pedagogik) . Pengetahuan ini terdiri atas empat cabang khusus, ialah aritmetika, geometri, astronomi, serta musik. Dalam sejumlah zaman penyebaran Islam, berlangsung perubahan seterusnya.

Simak Juga : bilangan bulat

Unsur beda masuk ke pengetahuan matematika, ialah aljabar, trigonometri, mekanika, serta optik. Menurut Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen, subjek-subjek matematis dalam wujudnya undang perhatian beberapa ilmuwan besar. Mereka membuahkan karya-karya matematika yg mengesankan.

Perolehan pakar matematika di dunia Islam awal beraneka sifatnya. Di sektor aritmetika lahir beberapa terobosan. Umpamanya, timbulnya pecahan desimal berlangsung sejak mulai terbitnya karya pakar aritmetika dari Damaskus, Suriah, Abu al-Hasan al-Uqludisi dalam Kitab al-Fushul fi al-Hisab al-Hindi yg diatur pada 952-953 Masehi.

Pecahan ini lantas diperkenalkan kembali jadi al-kusur a’syariyah berbarengan dengan pemunculan metode nilai-tempat yg dihimpun buat bilangan bundar serta pecahan dalam karya pakar matematika Persia, Jamsyid bin Mas’ud al-Kasyi dalam karyanya Miftah al-Hisab. Karya itu diatur di Samarkand pada 1427 Masehi.

Walau karya al-Uqlidisi kurang memiliki pengaruh, pujian dikasihkan padanya buat pemanfaatan coretan jadi isyarat desimal pun perlakuan pertama yg sukses pada akar pangkat tiga. Akan tetapi, peran sangat penting pengetahuan matematika dari dunia Islam untuk pengetahuan moderen bukan pada sektor matematika yg sesungguhnya.

Lihat Juga : bilangan cacah

Namun dari sektor optik. Di tangan umat Islam sektor ini berubah menjadi revolusioner yg berlangsung disaat saat keemasan ilmu dan pengetahuan dalam peradaban Islam. Tokoh yg berjasa merupakan Ibnu Haitsam dengan karyanya Kitab al-Manazhir. Tujuh bukunya terkait optik dialihkan ke bahasa Latin serta Italia.

Buku Haitsam termasuk juga buku-buku ilmiah pertama yg dibuat serta sangatlah pengaruhi karya-karya pemikir Latin, Renasains zaman pertengahan, serta zaman ke-17. Dalam perubahannya, matematika di dunia Islam tidak hanya dimonopoli para laki laki. Wanita pun mainkan andilnya di sektor ini.

Women’s Contribution to Classical Islamic Civilisation : Science, Medicine and Politics, arikel yg ditulis Salim TS al-Hassani, profesor emeritus di University of Manchester, Inggris, menjelaskan kalau Sutayta al-Mahamli adalah satu diantara wanita yg kuasai matematika.

Sutayta hidup di paruh ke dua zaman ke-10. Dia datang dari keluarga terdidik di Baghdad, Irak. Ayahnya merupakan seseorang hakim bernama Abu Abdallah al-Hussein, yang menulis beberapa buku, satu diantaranya Kitab fi al-fiqh, Salat al-‘idayn. Dia mendapat pujian dari sejarawan, seperti Ibnu al-Jawzi, Ibnu al-Khatib Baghdadi, serta Ibnu Kathir.

Sutayta gak sekadar kuasai satu sektor ilmu dan pengetahuan, namun beberapa sektor. Dia mendalami literatur, hadis, hukum, serta matematika. Ia jago dalam aritmatika serta perhitungan waris. Ke dua cabang pengetahuan matematika itu berkembang sangatlah baik pada zamannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php