Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Simaklah Resmi akan Divestasi, Ini Alasan Stanchart Lepas Bank Permata

Posted: February 26th 2019

Manajemen Standar Chartered (StanChart) siap jual 45% kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk (BNLI) serta punya potensi kantongi nilai sampai hampir US$ 1 miliar atau seputar Rp 14 triliun (anggapan Rp 14.000/dolar AS).

Manajemen StanChart pun mengutarakan jika gagasan pelepasan saham itu adalah usaha perseroan lakukan reklasifikasi atas kepemilikan saham perusahaan, serta kurangi asset tertimbang menurut resiko sebesar US$ 9 miliar.

Lihat Juga : CEO adalah

Ditambah lagi, dalam tempo bertepatan StanChart pun melaunching gagasan strategis tiga tahun yang membanderol tujuan level return on equity (ROE) atau tingkat pengembalian laba atas ekuitas sampai diatas 10%, dari level sekarang ini seputar 5%.
PILIHAN REDAKSI
Akan Dibeli Investor Jepang, Saham Bank Permata Naik 2,55%
Terlepas Usaha Private Equity, StanChart Bisa Rp 2,3 T
RHB: Mizuho Jadi Calon Mungkin Caplok Bank Permata
Masalah Divestasi Bank Permata, Bos Stanchart Tutup Mulut
Bank Permata Bikin Laba Rp 901 M di 2018, Naik 20%
StanChart Akan Terlepas 45% Saham Bank Permata

Tidak cuma itu, bank global yang berbasiskan di London, Inggris itu, pun memiliki komitmen akan merestrukturisasi operasi di empat pasar bekerja rendah yaitu Korea, Indonesia, Uni Emirat Arab, serta India, walau menyatakan tidak keluar seutuhnya dari satu diantara 65 negara dimana perseroan beroperasi.

StanChart mempunyai jaringan internasional yang mencakup lebih dari 1.700 cabang serta lebih dari 5.800 ATM yang menyebar di lokasi Asia, Afrika serta Timur Tengah. Dengan global, bank ini ada dari 70 negara di benua Asia Pasifik, Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika, Inggris Raya serta Amerika.

Dalam info sah, Indonesia diklaim adalah kontributor ke enam paling besar dalam jaringan global Standar Chartered Bank. Menjadi salah satunya bank paling tua di Indonesia, Standar Chartered Bank sudah ada di Indonesia saat 150 tahun, semenjak tahun 1863.

Dalam satu interviu dengan Financial Times (FT), Bill Winters, CEO Standar Chartered Bank Grup Bill Winters menjelaskan jika gagasan penjualan saham Bank Permata akan membebaskan modal perseroan untuk kembali pada investor, lewat peluang pembelian kembali saham (buyback) serta penghasilan dividen yang tambah tinggi yaitu naik 2x lipat pada 2021 dari level sekarang ini seputar 20 sen.

“Kami telah mempunyai biaya investasi yang sehat untuk dimasukkan ke gagasan perusahaan. Dengan begitu, menambahkan modal mesti ada untuk pembelian kembali dalam periode waktu yang relatif cepat,” tuturnya pada Financial Times, diambil CNBC Indonesia, Selasa (26/2/2019).

Per akhir Desember 2018, pemegang saham Bank Permata yakni, PT Astra International Tbk (ASII) sekitar 44,56% atau sekitar 12,50 miliar saham, lalu StanChart 44,56% atau 12,50 miliar saham serta Penduduk 10,88% atau 3,05 miliar.

Simak Juga : K3 adalah

Berdasarkan catatan FT, saham StanChart kehilangan kurang lebih 37% dari nilainya di Bank Permata sesudah dicaplok perusahaan pada 2015. Walau Winters serta beberapa eksekutifnya sudah dipojokkan oleh investor yang menekan supaya manajemen melakukan perbaikan neraca keuangan Bank Permata, tetapi sekarang BNLI mulai berusaha penuhi tujuan keuntungan.

Tahun kemarin, Bank Permata menuliskan laba bersih sebesar Rp 901,25 miliar atau naik 20% year on year (YoY) dari tahun 2017 sebesar Rp 748,43 miliar.

Winters menampik memaparkan angka pembelian kembali, walau analis memprediksi bank dapat membayar pengembalian modal seputar US$ 1,3 miliar.

“Pesan utamanya ialah jika dalam periode tiga tahun ke depan kami siap untuk lihat jika [kelebihan modal] di kirim kembali pada pemegang saham,” kata Andy Halford, Chief Financial Officer StanChart, diambil FT.

Menurut perhitungan FT, penjualan saham Permata oleh StanChart punya potensi kantongi US$ 1 miliar atau seputar Rp 14 triliun berdasar pada penilaian pasar bank di Indonesia, sekaligus juga kurangi asset tertimbang menurut resiko sebesar US$ 9 miliar.

Sekarang ini, StanChart diwajibkan untuk masukkan semua asset Permata di neraca tapi cuma mendapatkan faedah dari 45% dari keuntungan, hingga membuat tingkat ROE menyusut.

Awal mulanya, dalam talkshow dengan Christine Tan dalam acara Managing Asia yang disiarkan CNBC, Jumat (23/11/2018) Bill Winters menguraikan keadaan usaha Bank Permata. Dia mengaku anak upayanya itu melawan rintangan yang berat dalam bersihkan bank yang dimilikinya bersama dengan Astra itu.

Winters pun mengutarakan tiga pilihan yang ada baginya berkaitan kepemilikan saham perusahaan di Bank Permata. “Beli, jual, atau tahan. Itu ialah pilihannya.” Winter pun janji akan buka kejelasan ini pada Februari, manajemen StanChart menepati janji walau belumlah sah memberi pengakuan sah ke otoritas berkaitan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php