Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Mengenal Lebih Dekat Malala Yousafzai, Melantang bagi Pendidikan Anak

Posted: November 3rd 2018

Ia berubah menjadi sorotan global disaat lolos dari uji-coba pembunuhan oleh Taliban pada umur 15 tahun. Malala Yousafzai asal Pakistan ditembak pada sisi kepalanya oleh seseorang penembak Taliban pada 2012. Sejak mulai itu, ia mengucapkan perlawanan pada group itu. Ia mendorong biar wanita di ijinkan buat mendapat pendidikan. Pada 2014, ia menggapai penghargaan Nobel Perdamaian atas andilnya dalam mengucapkan hak anak. Kehidupan awal serta Taliban Malala Yousafzai lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, kota paling besar Swat Valley, propinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Ia putri dari pasangan Ziauddin serta Tor Pekai Yousafzai, dan punyai dua adik laki laki. Kehidupan sebelumnya demikian menyenangkan dikarenakan tempat tinggalnya adalah tempat wisata digemari banyak orang serta diketahui dengan festival musim panasnya.

Semuanya itu berganti disaat group Taliban coba kuasai daerah itu. Umur Malala tetap 10 tahun disaat Taliban mulai mengontrol Swat Balley serta berubah menjadi menguasai di sektor politik serta sosial. Taliban melarang wanita bersekolah serta aktivitas budaya seperti menari, bahkan juga menyaksikan tv pun tak di ijinkan. Serangan bom bunuh diri menebar serta sampai akhir 2008, Taliban memusnahkan lebih kurang 400 sekolah. Tetapi, sehabis Taliban mulai menyerang sekolah wanita di Swat, ia memberikan pidato di Peshawar pada September 2008. Pidato pertamanya itu berjudul ” Begitu beraninya Taliban mengambil hak dasarnya buat bersekolah? ” . Malala Yousafzai, ayahnya Ziauddin, serta wartawan CNN Christiane Amanpour berfoto berbarengan sebelum mengerjakan interview di New York, Kamis (10/10/2013) . (EMMANUEL DUNAND / AFP) Menulis situs Jadi remaja yg demikian perduli dengan dunia pendidikan, Malala menulis situs buat BBC perihal kehidupan dibawah ultimatum Taliban yg menampik pendidikan. Identitasnya disembunyikan hingga ia memanfaatkan nama samaran jadi Gul Makai. Ia mengatakan kalau Taliban memaksanya buat tinggal dalam rumah hingga ia menyoalkan motif dari group itu. Perang Pakistan menantang Taliban meletus pada 2009, serta Malala berubah menjadi pengungsi di negaranya. Ia serta keluarganya mesti tinggalkan rumah buat mencari area aman yg jauhnya beberapa ratus km.

Disaat kembali lagi rumah sejumlah minggu lantas, Malala memanfaatkan saranan wadah buat menyambung kampanye hak buat sekolah. Suaranya tambah nyaring hingga ia serta ayahnya berubah menjadi diketahui seantero Pakistan. Aktivitas aktivisnya berbuah manis dengan masuknya Malala jadi nominasi penghargaan Nobel Perdamaian Anak Internasional pada 2011. Di tahun yg sama, ia memperoleh penghargaan Pakistan’s National Youth Prize. Team medis Pakistan membawa Malala Yousafzai dengan tandu dalam rumah sakit, sehabis ia di serang oleh orang bersenjata di Mingora pada 9 Oktober 2012. (AFP) Ditembak Taliban Tak banyak orang menyongsong baik upaya Malala memperjuangkan pendidikan untuk anak wanita. Pada 9 Oktober 2012, remaja berumur 15 tahun itu ditembak oleh Taliban. Ia duduk di bus ketujuan rumah dari sekolahnya. Malala tengah mengobrol dengan teman-temannya terkait PR sekolah. Terus, dua anggota Taliban menyudahi bus.

Seseorang pemuda Taliban menyebut nama Malala serta menembak 3 kali ke arahnya. Satu peluru tembus kepalanya serta bersarang pada bahunya. Malala terluka serius. Dalam hari yg sama, ia dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar. Empat hari sesudah itu, ia diterbangkan ke Birmingham, Inggris, buat terima perawatan mendalam. Walaupun butuh banyak operasi, termasuk juga perbaikan saraf muka buat melakukan perbaikan segi kiri parasnya yg lumpuh, ia tak menanggung derita rusaknya otak besar. Pada Maret 2013, ia mulai bersekolah di Birmingham. Atas penembakan itu, support besar-besaran mengalir padanya. Nobel perdamaian Pada 2013, ia mengerjakan pidato buat PBB serta menerbitkan buku pertamanya berjudu I am Malala. 1 tahun lantas, Malala menyapu Penghargaan Nobel Perdamaian kala ia berumur 17 tahun. Malala berubah menjadi orang termuda yg menggapai penghargaan itu. Malala Yousafzai, aktivis remaja yg hampir meninggal dunia ditembak Taliban tahun yang kemarin, berpidato di PBB pas pada ulang tahunnya yg ke-16, Jumat (12/7/2013) . Malala mendorong dunia buat berikan akses pendidikan sebesar-besarnya buat anak-anak. (STAN HONDA / AFP) ” Penghargaan ini bukan hanya buat saya. Ini buat anak-anak yg terabaikan yg mau meniti pendidikan. Ini buat anak-anak yg ketakutakan, yg menghendaki perdamaian, ” ujarnya.

” Ini buat anak-anak yg tak dapat bersuara, yg menghendaki pergantian, ” ujarnya. Pada tahun yg sama, Malala dirikan instansi amal Malala Fund dengan dibantu ayahnya. Saat ini instansi itu melibatkan anak wanita buat memproduksi kemampuan diri hingga bisa berubah menjadi pemimpin kuat untuk negara. Project pendidikan dari Malala Fund menyebar di enam negara serta bekerja sama-sama dengan pemimpin dunia. Kembali lagi Pakistan Pada 29 Maret 2018, Malala kembali lagi Pakistan buat sekali-kalinya sejak mulai serangan brutal pada 2012. Ia bersua dengan Perdana Menteri Shahid Khawan Abbasi serta memberikan pidato yg emosional. Sepanjang kunjungan empat hari itu, ia mengatakan kerinduan pada tanah airnya. Bacalah juga : Biografi Tokoh Dunia : Amelia Earhart, Pionir Dunia Penerbangan ” Dalam lima tahun paling akhir, saya senantiasa punya mimpi kembali lagi negara saya. Saya tidak akan pergi, ” ujarnya. Agen pergantian Malala senantiasa memajukan wanita untuk jadi agen pergantian buat populasi mereka. Saat ini, ia tengah meniti pendidikan di Kampus Oxford di Inggris. Diakui dia mau bertempat di Pakistan selesai menuntaskan kuliahnya

selengkapnya : http://www.gopintar/ 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php