Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Kamu Harus Tahu Rahasia Doa Iftitah

Posted: January 11th 2019

Doa Iftitah yg umum dibaca dalam shalat translate-nya yaitu : ” Allah Maha besar dengan sebesar-besarnya. Semua puji yg sekitar untuk Allah. Maha suci Allah waktu pagi serta petang hari.

Artikel Terkait : doa iftitah

Saya menghadapkan wajahku terhadap Tuhan yg udah membuat langit serta bumi dengan segala kepatuhan serta kepasrahan diri, serta saya tidaklah termasuk juga beberapa orang yg menyekutukan-Nya. Kenyataannya, shalatku, ibadah-ku, hidup, serta matiku sebatas punya Allah, Tuhan semesta alam, yg tidak ada satu lantas sekutu bagi-Nya. Dengan semua tersebut, saya disuruh serta saya merupakan termasuk juga beberapa orang yg berserah diri (Muslim) ” .

Dalam pandangan ulama fikih, doa Iftitah satu diantaranya bacaan yg sangatlah direkomendasikan buat dihafal serta dibaca sehabis takbir ihram. Sejak mulai saat kecil dihafalkan doa itu seakan berubah menjadi rukun shalat. Untuk banyak ‘arifin, doa Iftitah bukan hanya utnuk ingat terus dibaca tiap-tiap selesai takbir ihram, namun mesti dihayati kedalaman arti doa Iftitah ini.

Doa Iftitah adalah sambungan dari takbir ihram. Dan, takbir ihram dalam pandangan ‘arifin adalah starting poin dalam perjalanan mi’raj ketujuan serta buat menjumpai Tuhan.

Doa Iftitah kenyataannya adalah ungkapan kefanaan (disappear/annihilate) seseorang hamba yg tengah bersua dengan Tuhannya. Fana tersebut kerap disebut jadi moment spiritual disaat seseorang hamba ada dalam puncak kesadaran dengan Tuhannya.

Dalam perspektif tasawuf, kondisi fana miliki tahapan-tahapan, salah satunya yaitu fana dari keter ikatan dengan dirinya dengan cara fisik (al- fana’an al-ta’alluqat al-nafsiyyah) , fana dari ketergantungan dengan kalbunya (al-fana’an al-ta’alluqat al-qalbiyyah) , serta fana dari zat serta semua materi (al-fana’an al-dzati) .

Doa Iftitah lebih merasa jadi ungkapan batin yg mengalir dari jiwa terdalam seseorang hamba. Doa Iftitah diawali terlebih dulu dengan takbir, tahmid, serta tasbih, lantas dilanjutkan dengan ung kapan : wajjahtu wajhiya (saya menghadapkan wajahku) .

Untuk banyak ‘arifin, kata ” muka ” di sini tidak hanya muka yg melekat di tubuh terus disasarkan menghadap menuju kiblat, namun lebih utama dari itu yaitu jiwa atau kalbu terdalam bertawajjuh dengan Tuhan.

Kata hanifan Musliman (kepatuhan serta kepasrahan diri) merupakan ungkapan kepasrahan diri dengan cara keseluruhan terhadap Allah SWT serta pada sisi akhir doa ditekankan kembali dengan ungkapan : Ana min al-muslimin, yg kerap diatikan jadi ” saya seseorang Muslim ” dengan konotasi Muslim resmi, walaupun sebenarnya kata itu lebih pas disebut dengan ” saya merupakan termasuk juga beberapa orang yg berserah diri ” . Bersambung. .

Selengkapnya : Gopintar.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php