Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Jangan Lewatkan Kena Rugi Kurs, Laba Jababeka Anjlok 52% Jadi Rp 41 M

Posted: April 10th 2019

Laba bersih PT Daerah Industri Jababeka Tbk (KIJA) anjlok 52% berubah menjadi Rp 40, 97 miliar selama tahun yang kemarin ketimbang dengan tahun 2017 sebesar Rp 84, 86 miliar.

Berpedoman laporan akunting perseroan, penurunan laba bersih ini sejalan dengan koreksi yg di alami di pos penerimaan tahun yang kemarin. KIJA mencatat keseluruhan penjualan serta penerimaan penggabungan sebesar Rp 2, 71 triliun pada 2018, turun 9% ketimbang 2017 Rp 2, 99 triliun.

Simak Juga : laporan laba rugi

Corporate Secretary Jababeka, Muljadi Suganda, mengemukakan argumen khusus penurunan laba bersih lantaran resiko gerakan perbedaan kurs.

Pada 2017, perseroan membukukan laba perbedaan kurs sebesar Rp 66, 4 miliar, sesaat pada 2018 dibukukan rugi perbedaan kurs Rp 247, 9 miliar.

” Keuntungan perbedaan kurs neto itu adalah banyaknya bersih dari keuntungan kerugian perbedaan kurs permodalan serta keuntungan dari kontrak lindung nilai, dan keuntungan/kerugian perbedaan kurs operasi, yang bisa diketemukan catatan atas laporan akunting konsolidasian pada account beban keuangan serta penerimaan yang lain tahun 2018, ” ujarnya dalam tayangan wartawan, Jumat (29/3/2019) .

Perseroan mencatat EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi serta amortisasi) tahun 2018 sebesar Rp 950, 3 miliar, bertambah dari EBITDA tahun 2017 sebesar Rp 913, 7 miliar.

Dalam penjualan real estate dengan cara marketing atau marketing sales, KIJA mencatat sebesar Rp 1, 36 triliun pada tahun 2018 ketimbang Rp 1, 53 triliun pada 2017.

Lihat Juga : teknik pengumpulan data

Sepanjang tahun 2018, perseroan melakukan revisi obyek awal marketing sales dari Rp 2, 25 triliun berubah menjadi Rp 1, 5 triliun dengan pertimbangan hasil perolehan kemampuan penjualan s/d kuartal ke-tiga 2018 serta pipeline dan prospek pada
kala itu.

Akan tetapi dalam akhir tahun 2018, ujarnya, perseroan membukukan 90% dari revisi obyek itu yg terpenting diakibatkan oleh melemahnya penjualan daerah industri.

Tahun yang kemarin, penjualan dari Cikarang tetap adalah kontributor khusus dari marketing sales dengan pengumpulan sebesar Rp 1, 1 triliun, sama dengan perolehan tahun 2017. Marketing sales dari Kendal sebesar Rp 163, 5 miliar serta Tanjung Lesung serta yang lain membukukan sebesar Rp 91, 1 miliar pada tahun 2018.

Dengan cara detail, penerimaan dari pilar usaha land development serta property turun 7% dari Rp 1, 10 triliun di tahun 2017 berubah menjadi Rp 1, 03 triliun pada 2018, terpenting disebabkan penurunan penjualan dari Kendal sebesar 40% walaupun penjualan dari Cikarang dll bertambah sebesar 15%.

Penerimaan barisan infrastruktur turun 12% berubah menjadi Rp 1, 57 triliun, terpenting diakibatkan resiko dari status Reserve Shutdown pembangkit listrik PT Bekasi Power (BP) yg menimbulkan penurunan penjualan kekuatan listrik sebesar 19%.

Barisan usaha leisure serta hospitality membukukan penurunan penerimaan sebesar 4% berubah menjadi Rp 115 miliar pada tahun 2018. Penerimaan berulang (recurring revenue) dari barisan infrastruktur berikan peran 58% pada keseluruhan penerimaan pada tahun 2018 ketimbang dengan 59% pada 2017.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php