Berbagi Ilmu dan Pengetahuan

Beginilah Toleransi Agama, Masjid Dulu Baru Gereja

Posted: December 31st 2018

Di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, ada panorama unik. Masjid serta gereja sama sama berhadap-hadapan. Cuma dipisahkan jalan desa yg lebarnya kurang dari 5 mtr.. Tetapi, umat beragama di sini hidup rukun sama sama berampingan. Selanjutnya laporan wartawan Radar Kudus Achmad Ulil Albab kala Natal menginap disana.

ADZAN Isya usai dikumandangkan di Masjid Nurul Hikmah. Sehabis melantunkan pujian tidak lama, muazin mengumandangkan iqomah. Salat Isya lantas di mulai. Sehabis Salat Isya, kemeriahan gereja baru di mulai.

Minggu (9/12) malam terus, penduduk kristen Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, tengah rayakan Natal. Ya, perayaan hari kelahiran Yesus di sini memang lebih awal. Membuka waktu malam 25 Desember atau pagi harinya. Dikarenakan, Gereja Group Desa Tempur menginduk ke Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) Damarwulan di Desa Damarwulan. Jaraknya lebih kurang 9 km. Hingga kala 25 Desember umat kristiani di sini ikuti misa Natal di GITJ itu.

Lihatlah : Doa setelah adzan

Tidak hanya itu sebagai tidak sama dari peryaan Natal dari lain tempat. Ada soal yg lebih unik. Dikarenakan, Gereja Group Desa Tempur berhadap-hadapan langsung dengan Masjid Nurul Hikmah. Tetapi pada kaum muslim serta kristiani terus rukun dan hidup sama sama berdampingan.

Termasuk juga kala perayaan Natal pada Minggu (9/12) waktu lalu. Tempatnya di gereja ditempat yg berhadap-hadapan langsung dengan masjid. Dari pintu masjid gereja dapat dijangkau gak lebih dari lima langkah.

Bergeser malam, sejumlah penduduk mulai banyak yang datang. Area dalam gereja mulai penuh. Di tenda luar, kursi-kursi plastik berwarna hijau udah disesaki tamu undangan. Mereka yg datang itu tidak saja penduduk beragama Kristen. Jadi banyak penduduk muslim yg ada.

”Setiap tahun kami memang senantiasa mengundang tetangga muslim kami. Termasuk juga kades (Tempur) serta tokoh agama Islam pun datang ikuti aktivitas (Natal) sampai usai. Bahkan juga kerapkali penyambut tamu sampai yg menyuguhkan santapan, kami dibantu mereka (penduduk muslim, Red) , ” kata Suwadi, pendeta juga sekaligus tokoh Kristen Desa Tempur.

Baca juga : doa masuk masjid

Ia mengemukakan, buat beribadah, di Dukuh Pekoso berlangsung perjanjian pada Islam serta Kristen kala malam hari. Islam menjalankan beribadah lebih dahulu. Baru sehabis umat Kristiani. Seperti kala perayaan Natal tempo hari. Umat Islam mengadakan Salat Isya lebih dahulu. Kemudian di gereja diadakan Natalan.

”Dulu kala awal-awal ada Kristen di sini (Desa Tempur, Red) memang benar ada perjanjian terdaftar. Dalamnya mengontrol beribadah biar sama sama menjunjung serta menghargai kedua-duanya, ” kata Suwadi.

Perjanjian itu di pandang sangatlah butuh dilaksanakan. Dikarenakan, umat Kristiani pun punyai skedul beribadah kala malam hari. ”Malam Rabu, malam Jumat, pun malam Minggu kami ada beribadah doa. Semestinya mesti ada perjanjian buat bergantian, biar mengontrol kekhusukan beribadah semasing. Ditambah lagi kala bulan Maulid tempo hari, sepanjang lebih kurang 12 hari di masjid kan ramai. Semestinya dengan kesadaran bergantian bakal sama sama kuatkan kerukunan antarumat beragama di desa ini (Desa Tempur, Red) , ” jelas pria yang profesinya jadi pedagang kopi ini.

Ketua Ranting NU Tempur juga sekaligus tokoh agama Nur Salam sangatlah mengapresiasi bentuk toleransi beragama serta kerukunan penduduk yg ditampakkan di Desa Tempur ini. Menurut dia, hal semacam itu dilaksanakan lantaran saling berikhtiar sama sama lakukan perbuatan baik.

”Mereka (mumat Kristiani, Red) baik, kami (mumat Islam, Red) pun baik. Kami baik, mereka pun baik. Kerapkali di acara-acara yg kami melakukan pun mereka gak malas mendukung. Ada acara pengajian, mereka yg kami undang senantiasa ada. Turut makan jajan serta turut dengerin ceramah pun, ” papar Nur Salam.

Bahkan juga, lanjut Nur Salam, kala set-ulang masjid Nurul Hikmah yg letaknya persis di muka gereja, umat Kristen pun ikut mendukung. Baik tenaga atau ongkos. ”Waktu tetap awal pembangunan, seperti ngecor penduduk Kristen ikut pula gotong royong. Kerapkali mereka pun ikut nyumbang. Umpamanya beli semen serta kepentingan set-ulang masjid beda, ” katanya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php