Yuurie Chichiro ^^

Fosfat _ Kelompok 9

Posted: March 1st 2015

DESKRIPSI

Fosfat adalah golongan persenyawaan kimia dimana salah satu logam bersenyawa dengan fosfat  yang radikal. Golongan ini dicirkan dengan adanya gugus anion PO4 dan pada umunya berkilap kaca serta cenderung lunak, rapuh, struktur kristal bagus, serta berwarna (Christya, 2013). Fosfat adalah unsur dalam batuan beku (apatif) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis (Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan, 2005). Berikut merupakan contoh mineral fosfat :

1. Apatite

Picture1

Gambar 1. Apatite (Christya,2013)

2. Monasit

Picture2

Gambar 2. Monasit (Christya, 2013)

POTENSI DAN PENYEBARAN DI INDONESIA

Keberadaan batuan fosfat di Indonesia cukup banyak ditemukan. Batuan fosfat umumnya terdapat di daerah pegunungan karang, batu gamping, atau dolomitik yang merupakan deposit gua. Berdasarkan Pusat Sumber Daya Geologi (2008), deposit batu fosfat di Indonesia menurut Peta Potensi Sumber Daya Geologi seluruh Kabupaten di Indonesia adalah sebagai berikut :

Picture4

Picture4

Deposit fosfat alam di Indonesia menurut data yang dikumpulkan dati tahun 1968-1985 diperkirakan 895.000 ton, 66% terdapat di Pulau Jawa, 17% terdapat di Sumatera Barat, 8% terdapat di Kalimantan, 5% terdapat di Sulawesi, dan 4% terdapat di Papua, Aceh, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara. Data deposit fosfat alam tersebut yaitu :

Picture5

Deposit fosfat alam di Indonesia menurut data yang dikumpulkan sebelum perang dunia II hingga 1958 diperkirakan 663.000 ton, sekitar 76% terdapat di Pulau Jawa dan sekitar 23% terdapat di Sumatera Barat. Data deposit fosfat alam tersebut yaitu :

Picture6

MANFAAT

Penggunaan Fosfat Alam untuk Industri dan Pertanian

Metode untuk mengefisiensikan pupuk P dapat dilakukan dengan cara biologi, yakni dengan membuat fosfokompos, penginokulasian dengan mikoriza, penggunaan mikroorganisme pelarut P, dan menggunakan spesies tanaman yang toleran terhadap defisiensi P. Menurut Widawati dan Suliasih (2008), bakteri pelarut fosfat dalam bahan kompos dapat menstimulir aktivitas amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen, dan fosforilasi, sehingga akan meningkatkan produktivitas tanah secara permanen.

Menurut Sutriadi dkk. (2010), secara kimiawi metode untuk mengefisinesikan superfosfat dan fosfat alam, dapat dilakukan dengan pengasaman sebagian yang dikenal dengan pupuk PARP (Partially Acidulated Phosphate Rock). Teknologi ini menggunakan cara yang sama ketika membuat pupuk superfosfat, hanya saja penggunaan asam yang ditambahkan tidak sebanyak dalam penggunaan superfosfat. Keuntungan metode ini selain menggunakan asam yang lebih rendah, kapasitas pabrik dapat ditingkatkan, dan dapat menggunakan batuan fosfat alam yang tidak dapat digunakan kembali untuk membuat pupuk superfosfat. Pupuk tersebut dapat dipergunakan pada tanah masam dan pada tanah netral dengan kadar P yang rendah.

PERMASALAHAN PENGELOLAAN

Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan di danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan. Tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai pada malam hari, bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang fotosintesis pada siang hari, pancaran sinar matahari ke dalam air akan berkurang sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. Makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air.

Salah satu produk yang mengandung mineral fosfat adalah detergen. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat proses penguraian biologis. Penggunaan fosfat yang lainnya yaitu sebagai pupuk, namun ada pula permasalahan yang akan ditimbulkan jika tidak dikelola dengan baik. Pupuk fosfat mengandung unsur logam berat dan radioisotop yang dapat membahayakan pada konsentrasi tertentu dan berakibat mencemari lingkungan setelah fosfat alam yang digunakan langsung sebagai pupuk larut dalam tanah. Bahan baku pupuk fosfat adalah fosfat alam yang ditambang dan merupakan sumber yang tidak tergantikan sehingga cadangan yang tersedia di dunia hanya akan bertahan untuk 100-120 tahun jika penambangan fosfat tidak dikelola dengan tepat.

STRATEGI PENGENDALIAN PENCEMARAN AKIBAT PEMANFAATAN FOSFAT

Menurut Sutriadi (2010), langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat, yaitu :

  1. Menerapkan prinsip-prinsip penambangan yang berkelanjutan, yaitu dengan memperhitungkan dampak terhadap kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun sosial budaya.
  2. Menerapkan beberapa teknologi pengendalian residu logam berat dari fosfat alam yang digunakan pada bidang pertanian, antara lain :

a. Teknologi peningkatan efisiensi penggunaan pupuk fosfat dengan diberikan secara langsung dan digunakan dengan takaran yang tepat.

b. Teknologi fitoremediasi, yaitu memanfaatkan pertumbuhan tanaman untuk mengurangi kadar logam berat.

c. Teknologi bioremediasi, yaitu perbaikan tanah telah tercemar logam berat dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah.

Pengendalian pencemaran akibat pemanfaatan fosfat terutama di wilayah permukiman penduduk dapat dilakukan dengan cara pembuatan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk karena sejalan dengan populasi penduduk yang terus meningkat, maka akan meningkat pula konstribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari limbah sumber fosfat. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat berlebihan. Begitu pula pad produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung zat adiktif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, juga terhadap sektor peternakan agar meminimalkan fosfat yang akan dilepas ke lingkungan air.

Penggunaan fosfat yang tidak memenuhi standar SNI 02-3776-2005 secara teknis dan ekonomis akan merugikan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan kualitas untuk melindungi pengguna fosfat atau petani dari kemungkinan pemalsuan baik oleh produsen maupun pedagang pupuk, menjaga kualitas fosfat alam yang digunakan dalam produksi pertanian tetap baik, menjaga efektifitas, dan mencegah pencemaran lingkungan. Survei dan eksplorasi deposit fosfat alam di Indonesia juga perlu dilakukan untuk mengetahui jika ada perkiraan cadangan mineral fosfat yang telah ditemukan.


Kelompok 9:

Ancilla Christina. H.

Tania Holly Valencia A.N

Novia Hertiyani

Heri Susanto


 

DAFTAR PUSTAKA

Christya, H. M. 2013. Golongan Mineral Halida, Fosfat, dan Native Element. Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran”, Yogyakarta.

Kasno, A., Rochayati, S. dan Prasetyo, B. H. 2009. Deposit, Penyebaran dan Karakteristik Fosfat Alam.

Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan. 2005. Fosfat.

http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Fosfat/ulasan.aspxdir=Fosfat&commId=14&comm=Fosfat. 27 Februari 2015.

Sutriadi, M.T., Rochayati dan Rachman, A. 2010. Pemanfaatan Fosfat Alam Ditinjau dari Aspek Lingkungan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Widawati, S. dan Suliasih. 2008. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensila Sebagai Pemacu Pertumbuhan

Caysin (Brasica ceventis Oed.) di Tanah Marginal. Biodiversitas. 7(1): 10-14.


17 responses to “Fosfat _ Kelompok 9”

  1. pelangiasmara says:

    banyaknya fosfat yang terdapat dalam limbah detergen dan pupuk mungkin dapat mengilhami penelitian untuk mengambil kembali fosfat yang sudah terbuang sehingga dapat dimanfaatkan lagi

  2. Maya Narita says:

    setuju sama @pelangiasmara 🙂 ada satu hal yang membuat saya penasaran, diartikel ditulis bahwa “ada bakteri pelarut fosfat dalam bahan kompos dapat menstimulir aktivitas amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen, dan fosforilasi, sehingga akan meningkatkan produktivitas tanah secara permanen,” nah, kira-kira jenis bakterinya apa yah? ini juga menarik untuk penelitian 🙂

    • yuurie989 says:

      Bakteri BOS membentuk lapisan bio-film yang melapisi permukaan mineral yang mengandung tembaga. Oksidasi yang dilakukan oleh bakteri terhadap mineral akan menghasilkan ferrosulfat dan “oksidan”. Oksidan akan bereaksi de-ngan mineral-mineral tembaga-sulfida se-perti kalkopirit (CuFeS2), kalkosit (Cu2S), kovelit (CuS), dan bornit (Cu5FeS4), de-ngan melepaskan larutan CuSO4 (www. personals.psu.edu). Tembaga selanjutnya dapat dipisahkan melalui proses elektroli-sis. Penelitian lain menunjukkan bahwa T. ferrooxidans dan L. ferrooxidans di-laporkan sebagai organisme yang paling signifikan dalam proses oksidasi mineral-mineral sulfidik.

  3. alfonslie says:

    Pemaparan yang sangat mendetail mengenai fosfat dan potensinya di Indonesia, mungkin bisa ditambahkan mengenai alternatif bahan lain yang dapat menggantikan fosfat sehingga pengelolaan fosfat dapat lebih terkendali. terima kasih.

    • yuurie989 says:

      Menurut saya, penggantian fosfat dengan senyawa lain sulit dilakukan, karena fosfat punya gugus yang spesifik.. mungkin ke depannya dapat ditemukan fosfat sintetis, sehingga penggunaan fosfat alam dapat dikurangi..

  4. santha21 says:

    Dalam menangani dampak pencemaran fosfat ke lingkungan salah satu caranya adalah dengan fitoremediasi. Bagaiamnaa yaa proses fittorremediasinya?? Seberapa jauh kemampuan fitoremediasi dalam mendegradasi fosfat di lingkungan dibandingkan teknologi pengendalian yang lainn ?? thanks

    • yuurie989 says:

      fotoremidiasi fosfat dalam air salah satunya dapat menggunakan eceng gondok..wkwkwk.. Eceng gondok sendiri terkenal bahwa ia adaah tanaman yang tahan banting dalam menyerap berbagai senyawa, termasuk fosfat dan logam berat.. Untuk fotoremediasi di air, penggunaan eceng gondok sudah cukup baik.. Bila anda akan menggunakan bioremediasi, tentu anda sudah harus paham betul mikrobia apa yang dapat mendegradasi fosfat tersebut, memperbanyaknya, dan memastikan bahwa mikrobia tersebut berhasil menangani fosfat tersebut.. Untuk segi kemudahan, fotoremediasi sangat baik untuk diterapkan.. Namun, untuk segi keefektifan, bioremediasi bagus untuk diterapkan.. Nah sekarang tinggal tergantung anda ingin mengupayakan tipe pengendalian yang mana..wkwk

  5. sommaandi says:

    terimaksi atas informasi mengenai fosfat yang and tulis.
    selesai membaca artikel ini, saya jadi ingin tahu, seberapa penting sih sebenarnya unsur fosfat bagi alam kita di sekitar? tolong di jelaskan yah….
    terimakasih

    • yuurie989 says:

      contoh sederhana dapat kita lihat pada pertumbuhan makanan. Tumbuhan yang kekurangan fosfat, akan menjadi kerdil dikarenakan produksi dan suplai energi yang tidak baik. Contoh sederhana ini, memangla sepintas tidak begitu menarik.. tapi bila anda dapat membayangkan terjadinya hal tersebut pada semua tanaman yang ada, apakah yang akan terjadi pada kita? Tumbuhan yang tidak sehat, pertumbuhannya juga tidak baik bahkan dapat mati.. Bila tumbuhan mati, herbivora juga mati, begitu juga semua organisme yang ada pada rantai makanan.. Bila anda berpikir demikian, anda akan menyadari bahwa 1 unsur kecil penting ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena dapat menyebabkan dampak yang besar untuk kita.

  6. richardkion says:

    indonesia memiliki potensi mineral yang sangat besar. namun terkadang ada orang yang serakah sehingga mengeksploitasi mineral tersebut tanpa memperhitungkan dampaknya bagi lingkungan sekitar. disini tidak hanya peran pemerintah tapi peran masyarakat juga dalam pengawasan. dari fosfat kita bisa belajar bahwa “sesuatu yang bermanfaat tetapi jika dipakai berlebihan akan timbul masalah”

  7. Junaidi Pratama says:

    Menurut Anda, apakah langkah langkah pengendalian akibat pencemaran fosfat tsb sudah dilakukan di Indonesia? Sudah seberapa jauh tindak lanjutnya mengenai dampak pencemarannya? Thanks..

    • yuurie989 says:

      menurut saya, semua upaya pengendalian tersebut sudah mulai di kembangkan di Indonesia, melihat ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang (terutama biologi).

  8. selviaemanuella says:

    Untuk fosfat sendiri kan terdiri atas apatite dan monasit dari segi kandungan dan struktur yang lebih sering untuk dimanfaatkan yang mana ya ? trims

    • yuurie989 says:

      lebih sering pakai yang apatite.. Namun kebetulan kedua jenis ini ada di Indonesia. Monasit digunakan dalam pengikatan pada unsur-unsur langka yang menghasilkan radioaktif seperti theorium dan cerium. Oleh karena teknologi di sini belum memadai, penggunaan monosit ini lebih sulit diterapkan

  9. alanpeter says:

    Apakah penangan pencemaran akibat fosfat dapat terus dipertahankan melihat dengan sumber daya manusia yang terdapat di Indonesia ?

    • yuurie989 says:

      bisa kok.. mala lebih bagus bila upaya-upaya tersebut harus tetap dipertahankan untuk menyeimbangkan akibat penambangan fosfat yang terus menerus

  10. Arum Wulan says:

    artikel yang sangat menarik. dan baru tahu kalau fosfat juga banyak di Indonesia. sebagai mahasiswa Biologi, bagaimana Anda menanggapi penambangan fisfat tersebut. mengingat kalau habis, SD ini kan nggak bisa diperbarui.. Trima kasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php