Yuurie Chichiro ^^

The Bleeding Toad From Western Java^^

Posted: December 1st 2014

Leptophryne cruentata

Di Jawa terdapat 2 spesies kodok dari genus Leptophryne yang sudah dikenali, yakni L.borbonica dan L.cruentata. L.cruentata yang dikenal sebagai “Kodok Merah” sebagai nama lokalnya atau juga sering disebut bleeding toad merupakan endemik khas Jawa Barat. Sejauh ini, L.cruentata terlokasikan pada air terjun Cibeureum, Lebak Saat, Rawa Denok, Ciapus, Salabintana, dan Curug Luhur yang mana area ini masih terdapat pada area Taman Nasional Gede Pangrango. Namun, pada tanggal 14 Agustus 2003, jenis katak ini ditemukan di daerah Cikeris yang termasuk pada area Taman Nasional Gunung Halimun  pada ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Jenis ini hanya diketahui berada di Jawa Barat, sedangkan L.borbonica memiliki penyebaran lebih luas yakni mulai dari Thailand bagian selatan, Kalimantan, dan Sumatra (Iskandar, 1998).

Bleeding-toad-dorsal-profile

Gambar 1. Leptophryne cruentata (Dept. of Forest Resources Conservation and Ecotourism, IPB, Bogor)

Klasifikasi dari L.cruentata menurut Iskandar (1998) dapat dilihat sebagai berikut:

Kerajaan                    : Animalia

Filum                          : Chordata

Kelas                           : Amphibia

Bangsa                       : Anura

Suku                            : Bufonidae

Anak Suku                 : Adenominae

Marga                         : Leptophryne

Jenis                           : Leptophryne cruentata

  1. Morfologi

L.cruentata berukuran kecil ramping, mempunyai sepasang kelenjar tiroid kecil yang terkadang tidak jelas. Bagian atas kepala tidak mempunyai alur bertulang, moncong meruncing, gendang telinga kecil dan tidak jelas. Ujung jari tangan dan kaki agak membengkak, jari kaki ketiga dan kelima membentuk jaringan sampai ke benjolan subarikuler. Bagian kulit punggung berbintik-bintik kecil, sedangkan bagian perut halus dengan sedikit bintik-bintik kecil dan berbentuk bulat telur.(Iskandar, 1998).

Menurut Liem (1973), kodok jantan dan betina dapat dibedakan berdasarkan kantung suara dan tonjolan pada ibu jari. Kodok jantan mempunyai kantung suara dan tonjolan jari pertama berwarna hitam, pada beberapa individu dijumpai pada jari kedua. Menurut Iskandar (1998), ukuran jantan dewasa berkisar 20-30 mm, sedangkan betina dewasa berkisar 25-40 mm.

Menurut Iskandar (1998), terdapat dua macam pola warna dari Kodok Merah. Pola pertama terdiri atas individu-individu yang ditandai dengan jam pasir pada punggung, pinggirannya berwarna merah dan kuning, sedangkan di bagian tengah berwarna hitam. Pola kedua terdiri atas individu dengan bercak kuning pada punggung yang tersebar di atas warna dasar hitam.

  1. Habitat

Habitat tempat ditemukannya kodok ini adalah kantung-kantung air dari sungai kecil berbatu dengan arus cukup deras yang terdapat pada hutan primer. Kodok ini aktif pada malam hari, tetapi kadang dapat dijumpai pada siang hari ketika beraktifitas mencari makan di bawah rerimbunan semak tepi sungai. Pada habitatnya di daerah Cikeris, Kodok Merah dijumpai hidup berdampingan (simpatrik) dengan Kodok Jam Pasir (L.borbonica) yang juga merupakan kerabat dekat kodok ini.

Capture

Gambar 2. Lokasi Cikeris tempat ditemukannya kodok merah Leptophryne cruentata

  1. Permasalahan

Leptophryne cruentata dapat dikategorikan berdasarkan IUCN (2014) sebagai berikut:

Capture23

Gambar 3. Status Konservasi Leptophryne cruentata (IUCN, 2014) Critically Endangered

3.1 Faktor Kepunahan

Saat ini populasi kodok merah dapat dikatakan menurun. Kodok merah hanya dapat dijumpai di dalam hutan primer dan tidak pernah dijumpai pada area yang sudah rusak akibat aktifitas manusia (Liem, 1973). Oleh karena ketergantungan kodok merah pada hutan primer, maka dapat diasumsikan bahwa penyebab penurunan populasinya adalah pengrusakan hutan yang menyebabkan habitatnya terganggu.

Pengrusakan hutan di daerah Cikeris berupa penebangan pohon yang dilakukan oleh penduduk sekitar Taman Nasional untuk kebutuhan akan papan dan kayu bakar. Pengrusakan habitat hutan primer dapat menyebabkan naiknya suhu lingkungan. Jenis-jenis kodok yang bergantung pada keberadaan hutan sangat rentan terhadap kenaikan suhu, sehingga secara bertahap akan punah (Gardner, 2001).

Menurut Sparling dkk. (2000), pencemaran lahan basah pada hutan yang sering kali dijadikan tempat sebagai tempat pembuangan sampah, penampungan, dan pengakumulasian bahan pencemar juga akan dapat menurunkan populasi kodok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amfibi rentan terhadap senyawa-senyawa seperti logam berat, produk petroleum, herbisida, dan pestisida.

3.2 Konservasi di Indonesia

Amfibi adalah salah satu biota yang kurang mendapat perhatian dalam penelitian di Indonesia. Hal ini antara lain karena kurang dikenalnya hewan ini di masyarakat umum maupun di kalangan peneliti (Iskandar dan Erdelen, 2006). Adanya persepsi negatif bahwa adanya racun dan menjijikan membuat amfibi dijauhi masyarakat. Salah satu catatan mengenai diabaikannya amfibi secara politis adalah tidak adanya amfibi di Indonesia yang masuk ke dalam daftar satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang (Kusrini, 2007).

Rencana Aksi Personal

1. Dalam permasalahan diatas, disebutkan bahwa adanya persepsi jijik ataupun beracun dapat menurunkan tingkat ketersediaan dalam penelitian mengenai amfibi. Maka dari itu, adanya penyuluhan bagi anak-anak dan masyarakat luas mengenai pentingnya peran amfibi dalam ekosistem harus ditekankan. Di harapkan agar dengan adanya penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat akan keanekaragaman hayati Indonesia, dan meningkatkan simpati dan dukungan publik terhadap konservasi dan penelitian amfibi.

2. Ikut berpartisipasi dan mendukung konservasi Kodok Merah dan Habitatnya

3. Program breeding pada Kodok Merah

4.Sebagai mahasiwa/i dapat dilakukan penelitian lebih lanjut pada Kodok Merah, sebagai contoh :

  • Pembelajaran morfologi, anatomi, dan fisiologi lebih lanjut.
  • Mengidentifikasi faktor terjadinya penurunan populasi agar terdapat upaya untuk peningkatan populasi Kodok Merah secara alami
  • Program monitoring populasi.
  • Mempelajari habitat, ekosistem, reproduksi, makanan, dan pola penyebarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Gardner, T. 2001. Declining Amphibian Population; A Global Phenomenon in Conservation Biology. Animal

Biodiversity and Conservation 24(2): 25-44.

IUCN. 2014. IUCN Red List oF Threatened Species. http://www.redlist.org/ . Diakses pada 1 Desember 2014.

Iskandar, D.T. 1998. Amfibia Jawa dan Bali. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor.

Iskandar, D.T. and Erdelen, W.R. 2006. Conservation of Amphibian and Reptiles in Indonesia: Issues and

Problem. Amphib.Reptile Conserv. 4(1): 60-93.

Kusrini, D.M. 2007. Konservasi Amfibi di Indonesia: Masalah Global dan Tantangan. Media Konservasi

12(2) : 89-95.

Liem, D.S.S. 1973. The Frogs and Toads of Tjibodas National Park, MT.Gede, Java, Indonesia. The Philippine

Journal of Sciences 100 (2) : 131- 161.

Sparling, D.W., Linder, G., dan Bishop, C.A. 2000. Ecotoxicology of Amphibians and Reptiles. SETAC

Technical Publication. Columbia.Halaman 877.

Tania Holly Valencia A.N ~


18 responses to “The Bleeding Toad From Western Java^^”

  1. Elviena says:

    Program monitoring populasi yang anda rencanakan seperti apa ya? apakah menggunakan kamera pengintai atau bagaimana?

    • yuurie989 says:

      1.(Kuantitatif) Perlu ditekankan bahwa kodok ini hanya berada pada daerah kantung-kantung air yang terbentuk dari sungai di hutan primer. kita harus paham benar tentang daerah habitat dari si kodok. Setelah tau letak2 persis dari tempat sering ditemukannya kodok tersebut, kita dapat menangkap sacara sampling dari daerah2 tersebut. Kodok yang tertangkap di beri label khusus yg tidak mudah hancur yg di sisipkan pada kulit punggungnya dan kondisi tempat penangkapan serta kondisi kodok yang ditangkap di catat. Kita dapat melakukan perhitungan dgn densitas populasi (kepadatan populasi) untuk mengetahui padatan populasi di daerah tersebut ( jmlh individu / luas daerah). Dgn pengamatan secara periodik di tempat2 yang di jadikan sampel tersebut, kita dapat mengetahui populasi tersebut tumbuh/tidak.
      2. (Kualitatif) Dgn melihat pelabelan pada kodok yang di jadikan sampel tersebut. Kodok yang di jadikan sampel td diberi kode/tanda khusus (yg kondisi penangkapan dan lingkungan sekitarnya sudah di catat dan di komputasikan. Bila suatu saat dapat menangkap kodok yang sama, kita dapat mengetahui apakah lingkungan sekitar tempat kodok tersebut di tangkap kembali mengalami peningkatan populasi kodok/ tidak.

      semoga jawaban saya dapat memberi pengetahuan untuk anda ;)..
      Jika masih ada kesalahan, saya mohon maaf .. 😉

  2. adeirma says:

    Sungguh akan sangat disayangkan jika kodok ini punah, padahal belum tentu banyak orang mengetahui mengenai keberadaan katak ini. Apakah sudah ada UU yang mengatur mengenai perlindungan katak ini di Indonesia?

    • yuurie989 says:

      Menurut Kusrini (2007), belum ada UU ttg perlindungan satwa liar tentang kodok ini.. Sejauh ini, di Indonesia penelitian amfibi masih sedikit, seperti yang dikatakan di atas, bahwa masyarakat masih ada persepsi “jijik” pada amfibi, sehingga perlindungan/ penelitian ttg amfibi masih jarang. Keetidaktertarikan masyarakat tentang amfibi membuat seakan-akan amfibi di pandang sebelah mata.

      Arigatou gozaimasu 😀

  3. pelangiasmara says:

    apakah sudah ada pihak lain yang melakukan konservasi kodok merah atau konservasi amfibi?

  4. stefanicynara1983 says:

    saya mau tanya ni, kan diartikel ini disebutkan bahwa bentuk aksi personal anda untuk hal ini disebutkan anda ikut berpartipasi dalam kegiatan konservasi, nah contoh kegiatan konservasinya itu apa? lalu anda juga mengatakan bahwa anda juga ikut serta dalam melestarikan habitat si kodok merah juga, nah wujud konkrit dari anda sendiri itu apa? contohnya apa untuk menjaga kelestarian habitat si kodok merah nan menawan itu? terimakasih.. ^_^

    • yuurie989 says:

      Sebgi mahasiswa kita dpt mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pihak LSM/lembaga konservasi dalam menangani amfibia terutama kodok ini.. Jadi, bila benar-bnar nantinya akan ikut berperan langsung dalam menangani kodok ini, kita sudah ahli.
      2. Kan kamu sudah baca artikel di atas, bahwa kodok primer sangat tergantung dengan kondisi hutan primer. Maka, jelasla kita harus turut menaga hutan primer tsb. Misalnya mempertahankan kondisi hutan primer apa adanya tanpa terganggu aktivitas manusia. Misalnya cntoh sederhana dengan tidak mencemari air sungai di dalam hutan tersebut.

  5. arum08 says:

    Informasi yang sungguh baru bagi saya. Saya ingin bertanya, apa pendekatan Anda kepada generasi muda khususnya para pelajar dan anak- anak untuk mengajak mereka ikut melindungi si katak merah ini?

    • yuurie989 says:

      Di artikel di atas saya menyebutkan bahwa saya akan mengadakan sosialisasi/penyuluhan2 terhdp masyarakat umum mengenai hewan ini, sehingga mereka mengenal dan ikut berpartisipasi dalam konservasi kodok ini..

  6. Inge says:

    artikel yg okeee…
    di atas, ada statement ttg Taman Nasional… apakah maksudnya hutan tempat hidup kodok merah yang tersisa ini di dalam area Taman Nasional? kalau iya, Taman Nasional apa ya? Dan mengingat statusnya udah CE, ada ngga langkah konservasi yang dilakukan secara langsung oleh pihak Taman Nasional, misalnya mengambil beberapa kodok merah untuk dikonservasi secara ex situ begitu?
    Tengqyuuu… 😀

    • yuurie989 says:

      Taman Nasional Gunung Halimun.. iya.. si kodok tinggal ada di area TN tsb.. dan kmungkinan dr pihak TN sudah melakukan konservasi ex situ pd kodok ini,mengingat jumlah kodok ini mungkin sudah sangat sedikit dan jarang dijumpai.. 😉

  7. Sartika says:

    Informasi yang sangat bermanfaat banget. Ayo kita semua lestarikan amfibi. Tidak hanya amfibi saja tapi kita juga bisa melestarikan flora dan fauna lainnya yang sekiranya bermanfaat bagi kita semua 😀

  8. selviaemanuella says:

    Nah saya tertarik dengan aksi personal “program breeding” nah disitu anda akan mengajak kerja sama dengan siapa ? atau (stakeholders lembaga tertentu mungkin ? trims

  9. yuurie989 says:

    Saya akan mengajak anggota aktif dari lembaga konservasi terkait, pengelola TN, mahasiswa yang ingin ikut berandil dalam program tersebut. wkwk

  10. intanmiw says:

    Saya adalah salah satu orang yang jijik dan geli sama kodok gara-gara nonton film amig*s waktu kecil, adanya isu-isu racun dan apapun yang negatif tentang si kodok membuat takut dan jijik sehingga berita apapun tentang kodok sampai CE pun sepertinya “oh” saja, usaha berubah ada tapi sulit.
    Apa sih usaha awal kamu yang kira-kira bisa membuat orang-orang seperti saya berubah pikiran dan mulai berpikir bahwa saya tidak perlu jijik dan sadar untuk membantu konservasinya?
    Sempat membaca adanya penyuluhan atau sosialisasi, usaha apa yang akan dilakukan untuk membuat orang tertarik mengikutinya?Penyuluhan dan sosialisasi akan anda kemas seperti apa karena pada umumnya sosialisasi dan penyuluhan itu membosankan…

    • yuurie989 says:

      eto… sedikit susah untuk mengubah karakter seseorang bila susah jijik’ duluan..wkwk.. mgkn dengan pendekatan lebih pada orang tersebut (misalnya dengan menekankan bahwa kodok ini ngga beracun kok’ dipegang aj gpp’.. jgn takut duluan..) bsa membantu orang tersebut mau untuk berani memegang kodok tersebut, tentu saja hal ini tidak akan berlangsung secara instan tetapi melalui proses yang panjang..
      Kalau untuk anak-anak kecil tentu saja cara penyuluhannya harus dibawakan seperti sedang bicara dengan anak kecil ” Story telling atau bahkan dibawakan melalui drama” bisa agak membantu dalam hal ini.. Kalo untuk kaum terpelajar, saya kira seminar atau penjualan buku bergambar dengan kualitas yang menarik akan lebih menarik perhatian mereka

  11. christianbunardi says:

    Informasi yang anda berikan sangat bermanfaat.
    Sangat disayangkan jika sampai kodok khas jawa barat ini sampai menuju kepunahan, aksi personal yang ingin anda lakukan sudah tepat, semoga aksi personal anda dapat segera terealisasikan agar sang kodok tidak mengalami kepunahan.
    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php