Biology

Si Kecil Jambul Kuning

Posted: November 30th 2018

 

Gambar 1. Kakaktua jambul kuning (Hidayat, 2012)

Kakatua jambul kuning telah dimasukkan dalam kategori “Sangat Terancam Punah” oleh IUCN. Catatan IUCN, dalam 25 tahun terakhir, kakatua jambul kuning berkurang secara drastis. Kakatua jambul kuning di tahun 1992 di Sumba yang menjadi habitat terbaik ternyata hanya tinggal 3.200 ekor. Kakatua jambul kuning di tahun 2012 jumlahnya langsung menurun drastis, menjadi 563 ekor, sementera di Sulawesi jumlahnya juga tak banyak, tinggal sekitar 500an ekor (Rahmad dkk., 2015).

Kakatua jambul kuning termasuk dalam kingdom Animalia, divisi Vertebrata, Kelas Aves, ordo Psittaciformes, Famili Psittacidae, genus Cacatua, dan Spesies Cacatua sulphurea. Burung tersebut memiliki nama lokal yakni Kakatua Jambul Kuning (Hidayat, 2012). Cacatua sulphurea jantan memiliki ukuran sayap 221-245 mm, ekor 106-115 mm, paruh 38-39 mm, dan tarsus 22-25 mm, sedangkan untuk Cacatua sulphurea betina memiliki ukuran sayap 142-217 mm, ekor 99-113 mm, paruh 34-36 mm dan tarsus 22-25 mm (O’berin, 2007).

Kakatua jambul kuning memiliki bulu berwarna putih dengan pipi kuning kejingga-jinggaan. Jambul depan yang berbentuk melengkung dan berwarna kuning. Bulu dibawah sayap dan ekor berwarna kuning. Cincin mata berupa kulit yang berwarna kebiru-biruan. Warna iris juga dapat dijadikan pembeda kelamin jantan dan betina. Pada betina warna iris keabu-abuan pada usia 5-6 bulan dan akan berubah kecoklatan pada usia 7 bulan. Berat rata-rata sekitar 350 gram, panjang tubuh 330 mm, panjang rentang sayap 211-245 mm, panjang ekor 98-115 mm, panjang tungkai 21 – 25 mm (O’berin, 2007).

Burung kakatua hidup berpasangan, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Burung ini memiliki kemampuan berpegangan pada ranting dengan jari-jari kaku atau paruhnya. Saat menjelang kawin, pejantan akan melompat, mengembangkan sayap, mengangkat ekor dan jambul untuk menarik betina (Rahmad dkk., 2015).

Daerah sebaran kakatua jambul kuning adalah di Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua, di tempattempat yang masih banyak terdapat hutan-hutan primer dan sekunder. Makanan kakatua jambul kuning adalah biji-bijian, kacang, serangga dan aneka buah-buahan. Kakatua jambul kuning biasanya berkembang biak dengan cara bertelur 2-3 butir dengan masa pengeraman 30 hari. Penyebab kakatua jambul kuning terancam punah yaitu lemahnya penegakan hukum, penyeludupan kakatua jambul kuning untuk diperdagangkan, dan degradasi habitat (Rahmad dkk., 2015). Cara pelestarian kakatua jambul kuning yaitu melakukan kampanye tentang perlindungan kakatua jambul kuning melalui media sosial dan poster.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, O. 2012. Pengenalan Jenis Satwa Endemik Pulau Sumba: Kakaktua Sumba (Cacatua sulphurea cirinocristata). Balai Penelitian Kehutanan Kupang, Kupang.

O’berin, J. 2007. Husbandry Guidelines for Cacatua sp.. EEP, England.

Rahmad, B., Saleh, M., Sumedi, P., dan Kusuma, R. 2015. Warta Kehati: Selamatkan Si Jambul Kuning. Kehati, Jakarta.


10 responses to “Si Kecil Jambul Kuning”

  1. saraswatigelgel says:

    artikel sudah informatif dan menambah wawasan, terus ditingkatkan!

  2. landela says:

    artikelnya bagus dan menarik, lebih diperbanyak ya gambarnya hehehe..
    apakah sudah ada lembaga/tempat konservasi resmi terkait burung kakaktua jambul kuning?

  3. Philianta Angga says:

    Artikel sudah cukup menarik mungkin bisa ditambahkan gambar yang lebih detail dan bisa tambahkan cara melakukan konservasi burung kakaktua jambul kuning ini biar orang lain tertarik untuk melakukan konservasi

  4. Philianta says:

    Isi artikel sudah bagus tetapi masih ada kurangnya seperti gambar yang mendukung kurang, dan cara masyarakat melakukan konservasi dari burung kakatua jambul kuning ini.

  5. fransiscakrista says:

    Makasih informasinya,. menarik dan informatif. Saya jadi mengetahui bahwa burung kakaktua jambul kuning masuk ke dalam satwayang di lindungi.
    apakah ada peraturan pemerintah yang dibuat untuk melindungi satwa burung kakaktua jambul kuning?

  6. fifi says:

    artikel yang informatif
    pelestarian yang dilakukan lebih baik dikenalkan kepada masyarakat langsung

  7. fifi says:

    artikel yang bagus dan informatif
    pelestarian lebih baik dilakukan langsung dengan masyarakat yang ada.

  8. fifi says:

    artikel yang baik dan informatif. pelestarian lebih baik langsung dilakukan ke masnyarakat secara langsung

  9. fifiharindah says:

    artikel yang bagus dan informatif. pelestarian sebaiknya dilakukan langsung ke masyarakat sekitar

  10. mettapratywi says:

    terima kasih artikel ini sangat menambah pengetahuan saya, terutama saya baru mengetahui burung jambul kuning ini Sangat Terancam Punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php