Yunita Gole

Marapu’s Jambul Jingga

Posted: November 2nd 2016

Kakatua Jambul Jingga

a

Gambar 1. Kakatua Sumba (Sumber : google)

A. Taksonomi Kakatua Sumba (Jambul Jingga)

Kingdom         : Animalia

Divisi               : Vertebrata

Kelas               : Aves

Ordo                : Psittaciformes

Famili              : Psittacidae

Genus              : Cacatua

Spesies            : Cacatua sulphurea

Subspesies      : Cacatua sulphurea citri nocristata Fraser (1844)

Nama Lokal    : Kakatua Sumba, Kakatua jambul jingga

Burung ini merupakan burung paruh bengkok yang terancam punah akibat perdagangan dan degradasi habitat (PHPA/LIPI/Birdlife IP, 1998). IUCN (International Union Conservation Nation) mengkategorikan kedalam status kritis (Critically endangered). Pada tahun 2004, di pertemuan ke-13 COP (Conferences of the Parties) CITES (Convention on Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora), status Kakatua Sumba diusulkan untuk meningkat dari Appendiks 2 ke Appendiks 1, kemudian pada tanggal 24 Juni 2010 status Appendiks 1 ini berlaku. Melihat keterancaman jenis ini, pemerintah juga turut melindunginya melalui PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

B. Morfologi Kakatua Sumba (Jambul Jingga)

Bulu berwarna putih dengan pipi kuning kejingga-jinggaan. Jambul depan yang berbentuk melengkung, ketika dinaikkan berwarna jingga. Bulu dibawah sayap dan ekor berwarna kuning. Cincin mata berupa kulit yang berwarna kebirubiruan. Warna iris juga dapat dijadikan pembeda kelamin jantan dan betina. Pada betina warna iris keabu-abuan pada usia 5–6 bulan dan akan berubah kecoklatan pada usia 7 bulan. Berat rata-rata sekitar 350 gram, panjang tubuh 330 mm, panjang rentang sayap 211–245 mm, panjang ekor 98–115 mm, panjang tungkai 21–25 mm (O’brien, 2007).

C. Populasi dan Penyebaran

Cacatua sulphurea citrinocristata merupakan anak jenis Kakatua-kecil Jambul-kuning yang endemik di Pulau Sumba. Pada abad lalu spesies ini sangat umum dijumpai. Seorang pengunjung pernah melihat pohon-pohon menjadi putih karena dihinggapi Kakatua (Doherty 1891 dalam PHPA/LIPI/Birdlife International-IP, 1998). Riffel dan Bekti (1991) dalam PHPA/LIPI/Birdlife International-IP (1998) melaporkan dalam dua studi pada tahun 1980-an yang bertujuan untuk membantu menetapkan kuota penangkapannya. Pertama, awal tahun 1986, menghasilkan perkiraan total 12.000 burung dengan kepadatan 8 ekor/km2 di habitat yang sesuai; kedua, awal tahun 1989 ditemukan bahwa kepadatannya menurun hingga 1,8 ekor/km2, suatu penurunan yang tajam sebesar 80% dalam tiga tahun. Survei lapangan pada tahun 1989 dan 1992 (masih dinyatakan belum selesai oleh penulis) menghasilkan kepadatan 2,2 ± 1,1 ekor/km2 di dalam hutan bertajuk rapat seluas 1.080 km2 dengan populasin 2.376 ± 1.188, atau sekitar 3.200 ekor (perkiraan sementara), dan dianggap bahwa di Pulau Sumba C. sulphurea citrinocristata terancam punah (Jones dkk. 1995).

Analisis selanjutnya dari kumpulan data yang sama menghasilkan angka yang telah diperbaiki, yaitu 1.150–2.644 ekor (Marsden 1995 dalam PHPA/LIPI/Birdlife International-IP, 1998). Pada awal tahun 1990-an kepadatan Kakatua tertinggi terdapat di kawasan-kawasan dimana lubang-lubang sarangnya tidak dapat dicapai oleh penangkap burung setempat (Jones, dkk., 1995). Pada tahun 1995 burung ini dijumpai di sekitar separuh dari jumlah blok hutan yang tersisa di Sumba (I. Setiawan obs. pri., O’Brien dkk., 1997 dalam PHPA/LIPI/Birdlife International-IP, 1998).

Faktor terpenting yang mempengaruhi jumlah Cacatua sulphurea citrinocristata adalah luas blok hutan, keragaman spesies tumbuhan dan penutupan tajuk. Kakatua jarang atau bahkan tidak dijumpai sama sekali di hutan yang luasnya kurang dari 1.000 ha. Kakatua juga lebih menyukai hutan primer yang belum terganggu (O’Brien dkk. 1997 dalam PHPA/LIPI/Birdlife International-IP, 1998). di Pulau Sumba burung ini tidak atau jarang dijumpai pada areal hutan yang luasnya kurang dari 10 km2, dan mereka lebih memilih hutan primer yang tidak terganggu dengan karakter hutan berpohon besar sebagai lokasi bersarang (Kinnaird 1999 dalam CITES, 2004).

Populasi Cacatua sulphurea citrinocristata di Pulau Sumba juga mengalami penurunan yang sama dari tahun 1980 hingga saat ini. Berdasarkan survey terbaru dan data tahun 2003, perkiraan populasi Cacatua sulphurea citrinocristata pada tiga tipe habitat hutan yang berbeda (di luar kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Taman Nasional Manupeu Tanadaru) di Pulau Sumba sebanyak 1–2 ekor /1000 Ha. Penelitian pada tahun 1989 sampai 1992 (Marsden 1995 dalam CITES, 2004) diperkirakan populasi total Kakatua kecil jambul kuning antara 1.150–2.644 ekor. Survei BirdLife Indonesia (2002) memperkirakan populasi total sebanyak 229–1.195 ekor diluar taman nasional di Sumba. Pada survey yang dilakukan tahun 2002 oleh Wildlife Conservation Society (WCS), diperkirakan kepadatan populasi sebesar 4.3 ekor/km2 pada 4 blok hutan di 2 taman nasional Pulau Sumba (Persulessy, dkk., 2003).

D. Biologi Perkembangbiakan

Semua jenis kakatua bersarang di dalam lubang pohon. Beberapa keuntungan bersarang pada lubang pohon antara lain memberikan perlindungan dari predator, perlindungan dari cuaca ekstrim dan memberikan iklim mikro yang stabil (Cameron, 2007). Dari sekian banyak jenis pohon yang berada di kawasan hutan, hanya beberapa jenis yang digunakan sebagai tempat bersarang.

b

Gambar 2. Contoh lubang sarang Kakatua Sumba

Menurut Cameron (2007) burung kakatua tidak dapat menggali lubang sarang sendiri, mereka tinggal memilih dari lubang pohon yang tersedia di alam. Pemilihan lubang sebagai tempat bersarang dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran lubang, kondisi lingkungan di sekitar lubang sarang, termasuk ketersediaan sumber pakan dan air. Enam jenis pohon yang digunakan sebagai tempat bersarang, yaitu: Mara (Tetrameles nudiflora R.Br.), Mosa/Kahembi Omang (Engelhardia spicata Bl.), Wai Rara (Bischofia javanica Blume), Kalumbang (Sterculia foetida L.), Nggoka (Chinocheton sp.) dan Lobhung (Decaspermum sp.).

Proses perkembangbiakan Kakatua Sumba memakan waktu cukup lama, yaitu antara bulan November – Februari. Perkawinan pada Kakatua Sumba ditandai dengan proses pemilihan pasangan, kemudian proses percumbuan yang cukup lama. Kakatua akan saling menelisik pasangannya dengan menegakkan jambulnya. Pada proses percumbuan, juga dilakukan proses observasi pohon yang akan dijadikan sebagai sarang. Biasanya Kakatua Sumba akan bermain di sekitar pohon sarang untuk menjaga dan memastikan lubang sarang pada pohon yang dipilihnya aman.

 

c-2

Gambar 3. Perilaku bercumbu Kakatua Sumba

E. Pakan

Pakan Kakatua Sumba sebagian besar berbentuk buah, bagian yang dimakan berupa daging buah dan juga pada beberapa jenis dimakan pula bijinya. Dengan paruhnya yang kuat, kakatua mampu menghancurkan kulit biji yang keras, seperti kulit biji kaduru. Beberapa jenis pakan Kakatua Sumba (Kakatua Jambul Jingga) dapat disajikan pada tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Jenis-jenis pakan Kakatua Sumbad-2

F. Penutup

Kecilnya populasi dan tingginya ancaman terhadap Kakatua Sumba di habitat alami membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak untuk mencegah kepunahan Kakatua Sumba. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya serius berupa aksi konservasi nyata terhadap kelestariannya. Kajian pengenalan jenis secara mendalam merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian Kakatua Sumba dalam berbagai aspek. Dengan kajian ini diharapkan pengetahuan secara komprehensif dapat diketahui sehingga dapat melengkapi hasil-hasil penelitian sebelumnya.

G. Daftar Pustaka

Cameron, M. 2007. Cockatoos. CSIRO Publishing. Australia.

CITES. 2004. Proposals for amendment of Appendices I and II, CoP 13 Prop. 11. CITES. Bangkok. Thailand.

Jones, M.J,. Linsley, M.D., and Marsden, S.J. 1995. Population size, status, and hábitat associations of the restricted-range bird species of Sumba, Indonesia. Bird Conserv. Internat. 5: 21-52.

O’Brien, J. 2007. Husbandry Guidelines for Cacatua spp.. EEP. England.

Persulessy, Y. Djarawai, Y.B. and Marut, R. 2003. Survei Populasi dan Distribusi Kakatuakecil Jambul-kuning Cacatua sulphurea citrinocristata dan empat jenis paruh bengkok lain di Pulau Sumba (pada blok hutan di luar Taman Nasional). Birdlife Indonesia/ZGAP.

PHPA/LIPI/Birdlife International-IP. 1998. Rencana Pemulihan Kakatua-kecil Jambul-kuning. PHPA/LIPI/Birdlife International Indonesia Programme. Bogor, Indonesia.


10 responses to “Marapu’s Jambul Jingga”

  1. augustine1896 says:

    Apakah kakaktua Sumba hanya ada di Pulau Sumba atau terdapat juga di daerah lain ?
    Blognya menarik dan tersusun dengan baik, keep writing 🙂

  2. desikeon95 says:

    wow,,tulisan yang menambah wawasan,,
    komentar sedikit ya mungkin bisa ditambah habitatnya ya,,di daerah pegunungan atau datran rendah,,atau yang lainnya,,makasih,,

  3. victoriaintan08 says:

    Artikel yang menarik, terima kasih sudah menambah wawasan saya. kalau boleh tau usaha apa yang sudah dilakukan pemerintah setempat dan masyarakat lokal dalam menjaga burung ini?

    • yunita1521 says:

      menurut Literatur g sy baca Untuk melindungi keberadaan satwa langka ini, pemerintah sudah membuat peraturan yang tertulis dalam Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konseravasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,pengaturan lebih spesifiknya lagi ada pada pasal 21 ayat 2 dengan ketentuan pidana yang telah diatur juga pada pasal 40 ayat 2 dan 4. tapi kalo masyarakat setempat sih mungkin lebih ke menjaga kelestarian hutan itu sendiri terutama pohon,karena spesies ini tempat hidup dan berkembang biaknya itu di lubang pohon..
      terima kasih sudah berkomentar Intan, semoga jawaban saya bermanfaat 🙂

  4. vianjb says:

    informasinya menraik! baru tau kalo burung ini sudah terancam punah, kasian!

    • yunita1521 says:

      Hehehe iyaa ..
      Makanya nanti pulang ke Sumba kk adakan penyuluhan konservasi burung sudah 😀
      Makasih sudah berkunjung ke blog saya ..

  5. Selice Fernandes Tavares Leite says:

    wah menarik sekali blog ini, dimana spesies endemik dari sumba juga sangat bervariasi… namun sayangnya sudah terdaftar sebagai spesies yang kritis oleh IUCN,, berarti harus tetap dijaga ya agar tidak punah.. tulisan di blognya sangat rapi, sehingga yang membaca pun tidak bosan 🙂 keep writing Din…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php