Yunita Gole

Si Elok dari Pulau Dewata

Posted: August 29th 2016

 

Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi )

Bali-Starling-Leucopsar-Rothschildi

  1. Nama spesies adalah Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)
  2. Status menurut IUCN: Critically Endangered
  3. Deskripsi Jalak Bali

Leucopsar rothschildi dengan nama lokal Jalak Bali Pertama kali dilaporkan penemuannya oleh Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung berkebangsaan Inggris pada tanggal 24 Maret 1911. Atas rekomendasi Stressmann, Dr. Baron Victor Von Plessenn mengadakan penelitian lanjutan (tahun 1925) dan menemukan penyebaran burung Jalak Bali mulai dari Bubunan sampai dengan Gilimanuk dengan perkiraan luas penyebaran 320 km2. Pada tahun 1928 sejumlah 5 ekor Jalak Bali di bawa ke Inggris dan berhasil dibiakkan pada tahun 1931. Kebun Binatang Sandiego di Amerika Serikat mengembangbiakkan Jalak Bali dalam tahun 1962.

Jalak Bali merupakan  salah satu satwa yang terancam punah  dan endemik yang ada di Indonesia tepatnya di pulau Bali, dengan sebaran terluasnya antara Bubunan Buleleng sampai ke Gilimanuk, namun pada saat ini  terbatas pada kawasan Taman Nasional Bali Barat tepatnya di Semenanjung Prapat Agung dan Tanjung Gelap Pahlengkong yang habitatnya bertipe hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim dan savana. Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali, dimana pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.

Burung Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Mata burung Jalak Bali berwarna coklat tua, daerah sekitar kelopak mata tidak berbulu dengan warna biru tua, Burung Jalak Bali mempunyai jambul yang indah, baik pada jenis kelamin jantan maupun pada betina, Jalak Bali mempunyai kaki berwarna abu-abu biru dengan 4 jari jemari (1 ke belakang dan 3 ke depan), Paruh runcing dengan panjang 2-5 cm, dengan bentuk yang khas dimana pada bagian atasnya terdapat peninggian yang memipih tegak. Warna paruh abu-abu kehitaman dengan ujung berwarna kuning kecoklat-coklatan. Sulit membedakan ukuran badan burung Jalak Bali jantan dan betina, namun secara umum yang jantan agak lebih besar dan memiliki kuncir yang lebih panjang.

Jalak bali mencari makan dengan cara membongkar tanah gembur dengan paruhnya untuk menangkap serangga, larva serangga, dan cacing. Jalak bali juga mencari makanan di permukaan tanah di padang rumput. Dalam mencari makan jalak bali biasanya berkelompok. Karena saat hujan lebat jalak bali suka nekat mencari makan, banyak kawanan jalak bali yang mudah ditangkap karena badannya basah. Suara jalak bali yang khas dengan pekik melengking serta campuran siul dengan jeda tertentu yang kadang-kadang sangat melodius.

Dalam Konvensi Perdagangan Internasional bagi jasad liar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora) Jalak Bali terdaftar pada Apendix I, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Sedangkan IUCN (International Union for Conservation of Natur and Natural Resources) memasukkan Jalak Bali dalam kategori “kritis” (Critically Endangered) yang merupakan status konservasi yang diberikan terhadap spesies yang memiliki risiko besar akan menjadi punah di alam liar atau akan sepenuhnya punah dalam waktu dekat. Menurut IUCN, Jalak bali termasuk dalam Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Class Aves, Order Passeriformes dan Family Sturnidae dengan nama spesies Leucopsar rothschildi.

 ss (2)

  1. Faktor-faktor Ancaman

Kepunahan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) di habitat aslinya disebabkan oleh deforestasi (penggundulan hutan) dan perdagangan liar. Selain itu karena penampilannya yang indah dan elok, Jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasinya  cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Bahkan pada tahun 1999, sebanyak 39 ekor Jalak Bali yang berada di pusat penangkaran Taman Nasional Bali Barat, di rampok. Padahal penangkaran tersebut bertujuan untuk melepasliarkan satwa yang terancam kepunahan ini ke alam bebas.

Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan Jalak Bali kian menuju kepunahannya antara lain :

  1. Faktor Alam

Pengaruh iklim, geologi, dan gangguan predator buas seperti ular adalah musuh utama bagi burung ini. Adanya kebakaran hutan, tanah longsor, dan gunung meletus dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dalam lingkungan. Selain itu karena ketidakmampuan menyesuaikan diri di habitatnya dapat menyebabkan populasi burung Jalak Bali semakin menurun.

  1. Faktor Manusia

Adanya perburuan liar dan perusakan habitat sebagai tempat tinggalnya di daerah-daerah hutan. Perburuan liar banyak dilakukan oleh penduduk karena jenis burung ini laku mahal di pasar-pasar burung. Gangguan populasi burung Jalak Bali juga diperberat lagi oleh perusakan habitat melalui penebangan kayu secara liar yang dilakukan penduduk untuk kebutuhan kayu bakar rumah tangganya atau untuk di jual.

  1. Upaya Konservasi

Terkait dengan hal itu, maka diperlukan suatu konservasi. Konservasi adalah upaya pelestarian lingkungan  tetapi tetap memperhatikan  manfaat yang dapat diperoleh pada saat itu dengan tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatan masa depan. Konservasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan budidaya flora dan fauna liar serta pengelolaannya menyangkut usaha pengumpulan bibit, mengembangbiakkan, memelihara, membesarkan dan restocking, yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian atau eksistensi satwa liar dan tumbuhan liar maupun memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Dan suatu jenis perlu ditangkar apabila secara alami populasinya mengalami penurunan secara tajam dari waktu ke waktu sehingga terancam punah. Suatu jenis perlu ditangkar apabila mempunyai potensi ekonomi tinggi dan pemanfaatannya bagi manusia terus bertambah, sehingga kelestariannya terancam.

Kegiatan pelestarian burung Jalak Bali telah dilakukan sejak awal tahun 1980-an oleh berbagai pihak. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam usaha pelestarian Jalak Bali diantaranya melakukan koordinasi dan konsultasi antara  pemegang otoritas dengan instansi lain, peningkatan keamanan, pembinaan habitat, pengembangan penangkaran, reintroduksi/pelepasliaran ke habitat, peningkatan kesadaran masyarakat, menggalang kemitraan dengan stake holders, penegakan hukum serta peningkatan sarana dan prasarana.

Upaya konservasi merupakan langkah yang paling efektif untuk mencegah kepunahan Jalak Bali. Berbagai rencana pemulihan spesies telah disetujui sebagai kerangka kerja untuk  konservasi spesies langka di beberapa negara.  Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa konservasi spesies akan lebih efektif jika:

  1. Dievaluasi dan direncanakan terlebih dahulu
  2. Semua tindakan mempunyai sasaran yang bisa diukur (cara belajar yang tercepat adalah berdasarkan pengalaman)
  3. Jika semua lembaga yang mempunyai masukan untuk konservasi spesies bekerja sama untuk satu tujuan.

Awalnya upaya konservasi di dunia ini telah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Naluri manusia untuk mempertahankan hidup dan berinteraksi dengan alam dilakukan antara lain dengan cara berburu, yang merupakan suatu kegiatan baik sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, ataupun sebagai suatu hobi/hiburan.

Program konservasi dalam kegiatan pelestarian memang merupakan salah satu agenda penting, sekaligus merupakan perhatian yang besar dari dunia akan kelestarain si Curik Putih, yang mana bukan hanya sebagai kebanggaan Provinsi Bali dan Negara Indonesia, tapi satwa dengan predikat Apendix I CITES tersebut kiranya sebagai kebanggaan dunia akan anugrah-NYA yang dilimpahkan kepada negeri ini.

Yang menjadi perhatian disini bukan hanya sekedar pelepasan Jalak Bali ke alam habitatnya. Tetapi setelah pelepasan itu sendiri, agar burung-burung tersebut tetap nyaman dan aman di alam (baru) aslinya.  Burung hasil penangkaran pada umumnya menetas dan berkembang dalam kandang-kandang yang telah disediakan, pakan yang kebanyakan berupa buah-buahan seperti pisang dan pepaya selalu disajikan oleh pengelola. Sementara dalam kehidupan aslinya Jalak Bali hidup diantara pohon Pilang, yang merupakan tempat hidup, mencari pakan dan berlindung serta berkembang biak.

Referensi :

http://www.iucnredlist.org/search

https://burungkicau.net/jalak-bali-satwa-langka-yang-terancam-punah/


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php