yuniafrischilla

Posted: June 9th 2016

Tengkawang Khas Kalimantan Barat

 

Gambar 1. Pohon Tengkawang
Kalimantan Barat akan memperkenalkan kamu dengan hutan tengkawang, salah satu tumbuhan endemik Kalbar. Mungkin teman-teman yang berasal dari Pontianak pernah mendengar tentang pohon Tengkawang. Yups, Tengkawang atau dalam bahasa latinnya (Shorea spp) adalah nama buah dari pohon genus Shorea yang menghasilkan minyak nabati. Berhubung termasuk dalam kategori tumbuhan endemik, maka pohon Tengkawang hanya terdapat di pulau Kalimantan, guys!
pohon Tengkawang juga termasuk dalam golongan kayu kelas tiga. Umumnya sih digolongkan sebagai meranti merah. Nah, ciri khas pohon Tengkawang ini tinggi besar, mempunyai banyak cabang dan berdaun rimbun. Siklus hidupnya sendiri juga terbilang unik, dimana tumbuhan ini nggak setiap tahun berbuah. Biasanya dalam sekali berbuah, pohon Tengkawang harus memakan periode antara 3 hingga 7 tahun. Dan itu juga terjadi sekitar bulan Juni hingga Agustus, lama juga yak!
Mungkin lantaran periode berbuahnya yang lama, membuat masyarakat sekitar ad jarang membudidayakan tumbuhan ini. Meski begitu, buah Tengkawang bisa menghasilkan minyak lemak berharga tinggi. Cara menghasilkan minyak terbilang simple, guys, cukup menjemur biji tengkawang hingga kering, kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya.
Selain itu, secara tradisional minyak Tengkawang juga bisa digunakan untuk memasak, penyedap makanan dan ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri pun minyak Tengkawang juga digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetik. Sedangkan di masa lalu Tengkawang juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabu, margarine, pelumas dan green butter.

 

Gambar 2. Buah Tengkawang
Oh ya, di Kalimantan Barat masih banyak kok pohon Tengkawang yang dipelihara. Kebanyakan sih di kawasan hutan masyarakat yang dikenal dengan Tembawang (sebutan masyarakat Dayak). Disini pohon Tengkawang dipelihara dengan baik untuk diambil buahnya. Bahkan saat musim panen tiba, hutan ini akan ramai dikunjungi oleh masyarakat, terutama pemilik pohon. Tapi karna semakin maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dikhawatirkan pohon tengkawang banyak yang ikut ditebang oleh pihak perusahaan. Nah kalau kegiatan ini terus berlangsung dikhawatiirkan pohon tengkawang lama-lama akan habis. Maka dari itu guys kita harus turut melakukan kegiatan konservasi agar pohon tengkkawang tidak punah. Selain itu guys akhir-akhir ini pohon Tengkawang semakin langka karena banyak yang ditebang untuk dipergunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu kayu pohon ini banyak yang dijual dengan harga antara Rp. 300.000 hingga Rp. 600.000 per meter kubik. Mungkin lantaran periode berbuahnya yang lama, antara 3-7 tahun sekali, meskipun minyak Tengkawang yang dihasilkan dati flora maskot Kalimantan Barat mempunyai nilai jual yang tinggi.
Nah sebagai masyarakat asli Kal-Bar yang baik aksi yang akan saya lakukan agar pohon tengkawang tidak punah yaitu saya akan menanam pohon tengkawang di tanah kosong (tembawang biasa masyarakat Dayak menyebutnya) milik kakek dan papa saya seperti yang sudah orang tua saya lakukan yaitu menanam pohon-pohon gaharu di tanah kosong tepat belakang rumah saya. Aksi ini akan saya lakukan saat libur semester di tanah kosong yang tidak terlalu jauh dari rumah saya. Selain menanam pohon tengkawang, saya akan menanan pohon buah-buahan khas Kal-Bar. Pelestarian hutan Tengkawang secara tradisional pun perlu diupayakan agar menjadi suatu kearifan lokal bagi masyarakat sekitar. Salah satu upaya pelestarian hutan tengkawang yaitu nenanam tengkawang di hutan tembawang. Hutan tembawang ini tidak boleh dimanfaatkan secara sembarangan (tanpa izin dari pemilik atau orang yang dituakan di daerah tersebut) oleh sembarang orang ya guys. Jika dilanggar maka pelanggar akan dikenakan adat (bayar adat) kepada pemilik tanah atau hutan tengkawang dan kepada semua masyarakat daerah itu. Ingat, tanpa adanya kearifan lokal, kemungkinan besar pohon Tengkawang akan sulit dijumpai. Don’t forget to save Tengkawang, guys!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php