carl yulent  carl

Padi.. Padi.. dan Padi..

Posted: May 21st 2014

Siapa yang tidak kenal padi, pasti tau dong.. kan dimakan setiap hari 3x sehari. hehehe…

Nah, di artikel ini kita sedikit gosipin si padi ya, seputar konsumsi nasi yang berasal dari padi, seputar impor beras oleh pemerintah kita, pengelolaannya, dan tak ketinggalan faktor pendukungnya…

Padi (Oryza sativa) merupakan kebutuhan pangan pokok di Indonesia. Indonesia merupakan negara agraris, namun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah setiap tahunnya pemerintah mengimport beberapa bahan pangan dari luar Indonesia. Langkah ini bertolak belakang dengan sebutan negara Indonesia sebagai negara agraris.

Konsumsi beras Indonesia lebih besar dua kali lipat konsumsi beras dunia pada angka 60 kg per tahun. Konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia tersebut dapat diterima karena beras merupakan makanan pokok warga negara Indonesia (Husodo, 2001). Konsumsi beras di Indonesia yang tinggi ternyata tidak diimbangi dengan produsi beras yang bagus. Sehingga pemerintah melakukan langkah impor beras karena dianggap lebih mudah dan cepat daripada menunggu hasil panen beras yang lama (Djunaedi, 2012)

            Tingkat konsumsi beras di Indonesia saat dapat dikatakan tinggi karena setiap orang di Indonesia mengkonsumsi beras setiap tahunnya sebesar 139,5 kg. Konsumsi beras Indonesia lebih besar dua kali lipat konsumsi beras dunia pada angka 60 kg per tahun. Ditambah lagi beras merupakan makanan pokok warga  (Larassati,  2007).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) seperti dikutip detik Finance, Minggu (10/6/2012) impor terbesar beras ke Indonesia datang dari negara Vietnam yaitu sebanyak 416 ribu ton dengan nilai US$ 233 juta. Beras asal Thailand yang masuk ke Indonesia sebanyak 222 ribu ton dengan nilai US$ 128 juta. Disusul beras dari India sebanyak 150 ribu ton dengan nilai US$ 70 juta. Beras dari Pakistan sebanyak, 36 ribu ton dengan nilai US$ 14 juta dan beras dari China sebanyak 1.880 dengan nilai US$ 7 juta.

Pengelolaan pertanian padi ini terus memiliki inovasi baru, dengan merubah teknik pengairan, penambahan unsur hara, dan pengembangan varietas padi. Permasalahan yang dihadapi dalam pembudidayaan padi adalah sebagai berikut (Hanani, 2012):

  1. Penurunan kesehatan dan kesuburan tanah
  2. Penggunaan unsur kimia anorganik dan pestisida sintesis meningkat
  3. Perilaku petani dalam memanfaatkan potensi lokal
  4. Lahan pertanian yang semakin sempit
  5. Hama yang menyerang pertanian
  6. Alih fungsi lahan produktif

Menurut Yuril Tetanel (2008) setidaknya ada tiga pilar yang perlu dibangun guna mendukung sektor pertanian sebagaimana yang diungkapkan oleh Prowse dan Chimhowu (2007) dalam studinya yang bertajuk “Making Agriculture Work for The Poor” yakni pertama, pentingnya pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian masyarakat. Infrastruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung program pengentasan kemiskinan petani di pedesaan.

Usulan pengelolaan yang berkelanjutan, sebagai berikut (Djunaedi, 2012):

  1. Pembangunan agroindustri di pedesaan dalam upaya merasionalisasi jumlah petani dengan lahan yang ekonomis
  2. Penggalakkan sistem pertanian yang berbasis pada konservasi lahan
  3. Dikembangkan sistem pertanian ramah lingkungan (organik)
  4. Pemanfaatan lahan tidur untuk pemberdayaan masyarakat
  5. Pengurangan pengalihan fungsi lahan produktif
  6. Pengembangan varietas padi
  7. Penyuluhan pengelolaan kepada petani

 

sumber :

Badan Pusat Statistik (BPS). 2012. Data Strategis BPS. Jakarta.

Djunaedi, A. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Beras di Indonesia periode 2001-2010. Skripsi. Universitas Ma Chung. Malang.

Hanani, H. 2012. Penguatan Ketahanan Pangan di Wilayah ASEAN Sebagai Strategi Menghapuskan Kemiskinan dan Kelaparan. E-Journal Ekonomi Pertanian. Vol 1, No1.

Husodo, S.Y. 2001. Kemandirian di Bidang Pangan. Kebutuhan Negara Kita. Jakarta.

Larassati, H. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempegaruhi Volume Impor Komoditas Keramik di Indonesia. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Tetanel, Y. 2008. Globalisasi dan Nasib Pertanian Indonesia. Seminar Nasional Kedaulatan Pangan Fateta UGM 23 Agustus 2008. Fateta UGM. Yogyakarta.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php