carl yulent  carl

Rabies atau penyakit anjing gila (kuluk buduh) ??

Posted: May 13th 2014

Rabies atau penyakit anjing gila (kuluk buduh) telah mengganas yang penyebarannya cenderung meluas di berbagai daerah di Indonesia. Sampai saat ini tersebar di 24 provinsi, hanya 9 provinsi yang masih dinyatakan bebas, yakni Bangka Belitung (Babel), Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI  Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua dan Papua Barat. Dilihat dari tingkat penyebaran tersebut tampaknya rabies sulit untuk dibebaskan dalam waktu singkat. Bali dianggap paling rawan terjangkit rabies karena tingginya kasus gigitan anjing dan jumlah korban meninggal akibar rabies. Yakin rabies bisa ditanggulangi secara cepat pemerintah Provinsi Bali kemudian menargetkan Bali bebas rabies  di tahun 2012, ternyata target tersebut meleset, tetapi ada semangat untuk terus berupaya  Bali   ditarget bebas rabies tahun 2015. Tidak diketahui dengan pasti dasar pertimbangan Bali bisa  bebas  rabies di tahun 2015 (Santhia, 2013).

Upaya pemerintah melakukan pemberantasan rabies di Bali terlihat   sungguh-sungguh dan konsisten. Dalam hal ini Pemerintah Provinsi Bali dan kabupaten/kota serta  Pemerintah Pusat berupaya keras untuk melakukan pemberantasan dengan melibatkan seluruh instansi terkait dan stakeholder. Menteri Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh Prabowo Respatyo, PhD menganjurkan segera membentuk tim tanggap darurat guna menanggulangi semakin meluasnya kasus rabies, kemudian ditanggapi positif oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui leading sector Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali tengah menjajagi pembentukan tim tersebut. Agar kinerja tim tersebut efektif dan optimal maka perlu dilibatkan majelis desa pakraman di seluruh Bali. Pada rapat koordinasi Penanggulangan Rabies di Gedung Wisma Sabha Kantor Gubernur Bali, Kamis, 16 Desember 2010 Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan bahwa Kementerian Pertanian telah mengusulkan kepada DPR-RI untuk mengalokasikan dana sekitar Rp 25 milyar untuk penanggulangan rabies di Bali. Target Bali  bebas rabies dalam tahun 2012 telah disampaikan dalam peringatan Hari Rabies se Dunia yang kedua kali di Bali yang dilaksanakan di banjar Kelod, desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung pada hari Jumat, 29 Oktober 2010 (Santhia,2013).

Jumlah kasus gigitan anjing pada manusia hingga akhir tahun 2011 mencapai 84.025 kasus. Kasus gigitan anjing paling tinggi terjadi di tahun 2010 (50.301 kasus) dan berdasarkan daerah lokasi terjadinya gigitan anjing di kabupaten/kota terlihat paling tinggi terjadi di kabupaten Karangasem (7.061 kasus).  Tingginya kasus gigitan anjing di Bali disebabkan tingkat kepadatan anjing per km2 di daerah pedesaan diperkirakan 56 ekor dan di perkotaan 256 ekor, rasio populasi anjing dan jumlah penduduk cukup tinggi, sebagai contoh rasio populasi anjing dan jumlah penduduk di kabupaten Badung diasumsikan 1: 8,27 lebih tinggi dari rasio nasional, 1: 6. Selain itu banyaknya anjing liar atau anjing rumahan yang diliarkan, karakter serta ekologi anjing yang memiliki wilayah tertentu yang apabila wilayahnya merasa terancam dia akan bereaksi, apalagi dikaitkan dengan musim anjing beranak antara bulan April sampai Oktober  yang  cenderung tinggi di bulan Juli sampai Oktober, selain itu adanya provokasi dan ketidak tahuan masyarakat ciri-ciri anjing penderita rabies. Kasus  rabies tidak saja terjadi pada anjing, tetapi juga  pada sapi, kambing, babi dan kucing. Hewan ini terjangit akibat gigitan anjing positif rabies, sedangkan  tikus tidak jelas bagaimana mekanisme infeksi virus rabies   pada kedua hewan ini. Seperti diketahui anjing merupakan hospes/vektor utama dari rabies (99,0%), kucing, kera dan kelelawar perannya sangat kecil dalam penularan rabies di Bali. Apalagi kera dan kelelawar yang ekologinya berbeda dengan anjing (Santhia,2013).

Gambar 1. inveksi penyakit rabies pada manusia

Telah banyak teknologi dikembangkan untuk mengurangi kasus rabies, dengan pemberian vaksin, kontrol terhadap binatang peliharaan yang rentan terkena rabies, tanggap terhadap lingkungan sekitar, selain itu terdapat pengembangan di bidang molekuler yang membantu penelitian tentang rabies ini sehingga diharapkan lebih tepat dalam penanganan.

Telah ada penelitian di bidang molekuler yang mengkaji hal ini oleh Ketut Karuni Nyanakumari Natih, Yuni Yupiana, Dodo Hermawan, Enuh Rahadjo Djusa dengan judul ANALISIS GEN NUKLEOPROTEIN VIRUS RABIES BALI (CVB751). Metode satu tahap reverse transcriptase-polymerase chain reaction (one step RT-PCR) digunakan untuk mendeteksi gen nukleoprotein (N) virus rabies dari isolat yang berasal dari propinsi Bali (CVB751). Sepasang primer RT-PCR (RHN 17: TTC AAA GTC AAT CAG GTG G dan RHN 18: CCA TGT AGC ATC CAA CAA AGT) digunakan untuk mengamplifikasi bagian gen N. Isolat rabies yang ditumbuhkan pada mencit dan sel neuroblastoma (N2A) menunjukkan hasil yang positif pada band 947. Sekuen dari 2 produk DNA yang diamplifikasi bersama dengan 25 sekuen yang diperoleh dari gen bank dianalisa dengan menggunakan software Mega 5.05. Pada penelitian ini virus Rabies dikelompokkan menjadi 7 kelompok yaitu: I (7 isolat central Sumatra dan south Sumatra), II (4 isolat central Sumatra, south Sumatra dan North Sumatra), III (1 isolat Java), IV (9 isolat West Sumatra, Flores dan Kalimantan), V (1 isolat Rabies Bali), VI (2 isolat china), VII (3 isolat dari Thailand, CVS dan India).

Digunakan sampel sebanyak 140 μl, deteksi isolat rabies dari Propinsi Bali dengan kode CVB751 dengan teknik satu tahap reverse transcriptase-polymerase chain reaction (one step RT-PCR) menggunakan sepasang primer RT-PCR (RHN 17: TTC AAA GTC AAT CAG GTG G dan RHN 18: CCA TGT AGC ATC CAA CAA AGT) untuk mengamplifikasi bagian N, menunjukkan hasil yang positif pada band 947.

Photo

Gambar 2. Hasil RT-PCR

Isolasi dan identifikasi organisme merupakan kegiatan mikrobiologi yang paling penting dalam bidang kedokteran untuk mendiagnosa penyakit, khususnya bagi virus rabies yang bersifat zoonosis dan fatal. Saat ini metode PCR sangat ideal untuk mendeteksi penyakit infeksi karena cepat dan sensitif, dengan pemilihan primer yang spesifik untuk patogen tertentu, teknik ini mempunyai kespesifikan yang tinggi. Dengan PCR, dimungkinkan untuk mendeteksi patogen tanpa harus mengkulturkan terlebih dahulu. Ini sangat bermanfaat bila patogen tumbuh lambat atau tidak dapat tumbuh pada kondisi in vitro, bila metoda deteksi konvensional kurang sensitif atau dibutuhkan diagnosis yang cepat. Proses PCR memerlukan 2 macam primer yaitu primer forward dan primer reverse.

Gen N merupakan komponen utama di dalam nukleokapsid internal yang mempengaruhi regulasi transkripsi dan replikasi virus rabies (12). Identifikasi gen N isolat virus rabies lapang lebih cepat dan sensitif dilakukan dengan teknik RT-PCR dibandingkan dengan FAT (1). Penggunaan metode PCR berdasarkan gen N telah banyak dilakukan peneliti dan saat ini merupakan teknik yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosa rabies karena merupakan salah satu gen yang jarang terjadi mutasi (1,6) dan dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik, epidemiologi virus rabies serta hubungan kekerabatan virus rabies (6). Di Indonesia, teknik RT-PCR telah dikembangkan dan diaplikasikan untuk diagnosis rabies dan praktis digunakan pada surveilens dalam rangka upaya pembebasan rabies pada suatu daerah (10).

Banyak faktor yang menyebabkan masih adanya kasus rabies di Propinsi Bali, antara lain cakupan vaksinasi yang kurang dari 70 %, aplikasi vaksin yang tidak tepat, penanganan vaksin yang kurang baik, kemungkinan anjing yang divaksinasi sudah dalam masa inkubasi dan strain virus vaksin yang digunakan tidak cocok dengan strain virus yang ada di Propinsi Bali.

Virus rabies tidak akan pernah musnah di kehidupan alam semesta karena dia merupakan bagian dari energi spritual yang kekal dan berada dalam badan kehidupan material manusia dan hewan yang tidak kekal yang setiap akan mengalami kematian  (Santhia, 2013)

daftar pustaka :

Santhia, K.AP., 20013. Mengamati Penyebaran Rabies di Bali. artikel. Bali.

Natih,K.R.N., Yuni Y., Dodo H., Enuh R.D., 2013.  Analisis Gen Nukleoprotein Virus Rabies Bali (CVB751). Unit Uji Virologi : Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Gunungsindur-Bogor 16340. Bogor.


4 responses to “Rabies atau penyakit anjing gila (kuluk buduh) ??”

  1. radewi says:

    mengerikan ya. dan ternyata bs dianalisa pake molekuler juga.molekuler mmg luar biasa. thx infonya

  2. debbyrakhmawati says:

    menambah wawasan ttg penyakit rabies, hati hati yah utuk yang punya anjing

  3. deansadewo24 says:

    amazing….wonderful…luar biasa…spectaculer… lanjutkan…. sebarkan informasi ..

  4. sautbarcio says:

    good informasinya.. jadi yang punya anjing bisa berhati-hati.
    #KeepBloging

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php