Saat Budaya Menjadi Ancaman

    Suku Dayak merupakan salah satu suku asli yang menghuni Pulau Kalimantan. Suku ini terkenal dengan nilai kebudayaannya yang masih sangat tinggi. Hal ini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Suku Dayak, misalnya masih melakukan pertanian dengan lahan berpindah, melakukan upacara adat pada acara besar,mengadakan acara kedaerahan saat musim panen tiba, dan sebagainya. Acara kedaerahan ini seringkali mengadakan berbagai macam lomba, seperti lomba tari daerah, lomba fashion show, lomba menyanyi, dan sebagainya. Saat lomba dilakukan, peserta seringkali menggunakan kostum yang merupakan pakaian tradisional dari Suku Dayak beserta aksesorisnya untuk semakin menghayati acara.

     Pakaian tradisional Suku Dayak biasanya menggunakan kain dengan warna merah dan kuning ataupun menggunakan kulit kayu. Pakaian ini dilengkapi dengan aksesoris berupa perisai, pedang, topi, dan kalung. Aksesoris berupa topi dan kalung seringkali menggunakan hewan-hewan endemik seperti burung enggang dan kera. Bagian dari hewan yang digunakan berupa kepala, bulu, tengkorak, dan sebagainya, dimana penggunaan bagian-bagian hewan ini tentu saja mengancam keberadaan hewan-hewan tersebut, bahkan dapat menyebabkan kepunahan.

Aksesoris Suku Dayak yang Menggunakan Bagian Tubuh Hewan

    Masyarakat Dayak, khususnya yang berada di pedalaman belum mendapat pengetahuan yang memadai mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam yang ada disekitarnya, termasuk menjaga kelestarian hewan-hewan. Mereka juga umumnya tidak memahaminya peraturan yang dibuat oleh pemerintah, namun lebih memahami peraturan adat yang diteruskan secara turun-temurun. Beberapa masyarakat suku Dayak yang sudah memahami pentingnya menjaga kelestarian alam juga kerap kali enggan untuk melestarikan alam karena alasan ingin menjaga tradisi yang telah dilakukan secara turun-menurun. Mereka menganggap tradisi harus diteruskan apa adanya, padahal kondisi yang dialami sekarang tidak bisa disamakan dengan kondisi pada jaman dahulu.

     Rencana saya untuk mengatasi masalah ini adalah berdiskusi serta memberi penjelasan mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya hewan-hewan endemik yang terancam punah kepada anggota keluarga besar, terutama yang cukup dipandang dalam masyarakat adat. Saya berharap hasil diskusi dan penjelasan ini dapat diteruskan kepada masyarakat sekitarnya. Saya akan menjelaskan bahwa hewan-hewan yang selama ini digunakan sebagai aksesoris keberadaannya sudah sangat terancam sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa generasi selanjutnya tidak dapat menyaksikan hewan-hewan tersebut secara nyata. Strategi ini saya lakukan karena masyarakat Dayak cenderung lebih “mendengar” organisasi yang berhubungan dengan adat istiadat dibanding pemerintah. Penjelasan ini dapat disampaikan saat organisasi adat melakukan forum sehingga dapat diketahui oleh masyarakat umum.

    Rencana lain yang akan saya lakukan adalah memberi solusi kepada para pengerajin pakaian tradisional berupa tengkorak hewan yang digunakan diganti dengan bahan lain yang dapat dibuat dengan mudah, contohnya gypsum. Gypsum tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pembutannya serta bentuk dan tekstrunya dapat menyerupai tengkorak asli. Selain menjaga kelestarian hewan, cara ini tentu saja dapat meningkatkan perekonomian masyarakat karena dapat menjadi sumber pencaharian yang baru. Bulu burung yang digunakan juga dapat diganti dengan bulu sintetik yang cenderung lebih awet dan  tidak membutuhkan perawatan yang khusus.