Yoseph Surya

Bekantan (Nasalis larvatus) Primata Berhidung Panjang dari Kalimantan

Posted: September 6th 2015

             Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau di Indonesia yang banyak terdapat jenis primata, dan merupakan wilayah dengan derajat endemisme fauna yang tinggi, baik itu dari jenis mamalia maupun hewan melata. Salah satu jenis primata yang ada di Kalimantan adalah Bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan ordo Primata, famili Cercophytecidae, sub-famili Colobinae. Bekantan dikenal dengan julukan kera Belanda.

9782254643_8c92b7b57e

Nasalis larvatus Sumber : BBC Animal

             Apabila mengamati bentuk wajahnya, warna wajah terlihat merah kecoklatan dan tidak berbulu walaupun ketia bayi berwarna biru tua. Tangannya bersifat prehensile ( dapat memegang benda dari jari tangannya). Warna tubuh bervariasi, bagian belakang atau punggung atas dan bahu berwarna coklat kekuningan sampai coklat kemerahan sampai pada bagian kepalanya. Hidung jantan dewasa panjang dan melengkung ke bawah, sedangkan pada betina hidungnya lebih kecil, pendek dan ramping ke arah depan. Pada jantan hidung digunakan sebagai daya tarik pada betina. Berat tubuh jantan yaitu 11,7-23,6 kg pada betina 8,6 – 11,7 kg. Pada Jantan panjang tubuh dan ekornya lebih tinggi dibandingkan betina.

24stevemandel_proboscismonkey                                                             bekaantan

Nasalis larvatus Sumber : alamendah.org

            Primata ini aktif pada siang hari (diurnal), dalam melakukan kegiatan mereka membentuk anak kelompok, dan pada setiap kelompok terdapat 8 ekor jantan maupun betina. Pada suatu penelitian didapatkan hasil berupa grafik yang memperlihatkan Bekantan di S.Koala, Samboja Kabupaten Samarinda melakukan kegiatan penting untuk mempertahankan hidupnya : makan (23,39 %) berpindah (21,64%) dan istirahat (45,03%). Tingginya waktu istirahat merupakan reaksi dari suhu yang semakin panas.

Apabila ingin mengamati perilaku dan tingkah lakunya :

snip

Sumber : Jurnal Populasi dan Perilaku Bekantan Hadi S. 1997

          Satwa ini sudah tergolong langka dan endemik. Kegiatan eksploitasi hutan dan konversii hutan yang semakin yang meningkat menyebabkan kehidupannya tertekan. Dari data yang diperoleh saat ini di Kalimantan hanya tersisa 385.450 ha hutan bakau atau hanya 13 % dari seluruh habitat bekantan. Dari data yang diperoleh Mac Kinnon tahun 1987 saat ini bekantan tersisa 260.950 ekor dengan kepadatan 25.625 per km2. Kemungkinan jumlah tersebut berkurang sampai saat ini.

          Oleh IUCN redlist, bekantan masuk dalam kategori endangered(terancam) sejak tahun 2000, dan masuk CITES golongan appendix I(tidak boleh diperdagangkan secara internasional). IUCN redlist menyebutkan adanya rusaknya Vegetasi di Kalimantan akibat terjadinya kebakaran hutan tahun 1997 -1998 menyebabkan turunnya populasi (Nasalis larvatus).  Maka dari itu perlu adanya reboisasi kembali hutan – hutan dan dilakukan penanaman jenis – jenis tumbuhan yang disukai oleh Bekantan. Jenis – jenis tumbuhan tersebut diantaranya S.caseolaris, M.caesia, I.cymosa dan Durio zibethinus.

http://www.iucnredlist.org/details/14352/0

face bekantan

Capture iucn

Dalam menjaga populasi Bekantan bentuk sederhana dimulai dari penyulahan terhadap penduduk sekitar pentingnya melestarikan habitat dan populasi Bekantan. Kemungkinan lain yaitu dipersiapkan pemindahan populasi bekantan dari Sungai Koala ke Taman Nasional Kutai.

index

Sumber :

Hadi S.Alikodra. 1997. Populasi dan Perilaku Bekantan (Nasalis larvatus ) di Samboja Koala, Kalimantan Timur. Jurnal Konservasi  IPB Vol  5

http://www.iucnredlist.org/details/14352/0

alamendah.org

youtube : Probacis monkey BBC Animal


16 responses to “Bekantan (Nasalis larvatus) Primata Berhidung Panjang dari Kalimantan”

  1. dwiky130801380 says:

    Setelah saya membaca artikel ini, salah satu agar hewan ini dapat terselamatkan adalah dengan mengembalikan hutan, yang sebagai habitatnya,

  2. Handi Prihanto says:

    Informasi menarik, perlu adanya konservasi lebih lanjut tidak hanya pemindahan habitat, juga dengan memperhatikan reproduksi dan makanannya

  3. ryan130801340 says:

    jika diperhatikan satwa endemik ini membutuhkan kondisi habitat yang baik untuk keberlangsungan hidupnya…. menarik

  4. aldwint says:

    TUlisan yang menarik, semoga upaya yang dilakukan untuk melestarikan bekantan bisa berhasil, mengingat hewan ini endemik kalimantan dan lucu 😀

    mungkin bisa dibaca juga artikel saya http://blogs.uajy.ac.id/aldwint/2015/09/07/owa-jawa/

    terima kasih

  5. aldwint says:

    mengingatkan saya dengan lambang dufan

  6. Armae Dianrevy says:

    Artikel yang menarik, bekantan memang seharusnya mendapat perhatian, jujur saja saya pun saat ini sulit atau jarang menemukan hewan tersebut di Kalimantan. Konservasi sepertinya merupakan salah satu jalan untuk menyelamatkannya, tetapi menurut saya tidak hanya konservasi saja, adapun sosialisi terhadap masyarakat. Masayarakat awam yang masih belum mengerti, melihat hewan tersebut sama halnya dengan hama karena menganggu pertanian atau perkebunan sehingga kadang berujung sebagai hewan peliharaan atau dibunuh. Semoga ada jalan terbaik dalam pelestarian bekantan sehingga dapat diketahui dan dikenali oleh generasi selanjutnya.

  7. Apa pengaruh suhu juga mempengaruhi siklus reproduksi dari bekatnan?

  8. Apa pengaruh suhu juga mempengaruhi siklus reproduksi dari bekantan?

  9. felixia18 says:

    Semoga dengan adanya artikel ini banyak orang yang tergerak dan sadar untuk melestarikan dan ikut menjaga bekantan ini tetap ada. Semoga kedepannya lebih banyak lagi upaya upaya untuk konservasi hewan yang unik seperti ini

  10. sylviemonica says:

    Sangat menarik! saya berharap bahwa ada pengurangan terhadap eksploitasi hutan dan konversi hutan sehingga habitat alami bekantan dapat dilestarikan

  11. septiapuspit says:

    wah ini yah binatang yang menjadi maskot dari wahana bermain terkenal itu ya, ternyata dia sudah mulai langka. saya punya pertanyaan, sekiranya hewan ini jadi dibiakkan di luar habitat kemungkinan untuk bertahannya bagaimana ya? jika dilihat dari kebiasaannya dan kondisi habitat baru?

  12. etti14 says:

    hewan bekantan ini memang jarang terlihat lagi, hal ini karna tempat tinggalnya yang juga mulai terancam, semoga kedepannya masyarakat dan organisasi perlindungan satwa lebih diperhatikan lagi untuk habitat hewan ini maupun yang lain. sangat disayangkan satwa unik ini hilang.

  13. martha24 says:

    Upaya apa yang sudah berhasil dilakukan untuk mengatasi bekantan dari kepunahan?bagaimana partisipasi pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa dalam melestarikan primata berhidung panjang ini? Apakah misalnya, dengan penanaman hutan mangrove dapat dijadikan tempat tinggal bagi bekantan? terimakasih informasinya 🙂

  14. Neil says:

    Uhuy, monyet yang menjadi maskot Dufan (atau saya lebih suka menyebutnya Manusia Dufan 😀 )
    Lagi-lagi ulah manusia yang merusak hutan tanpa sadar bahwa fauna-fauna di dalamnya juga berhak terhadap hutan tersebut.
    Tetapi saya ingin bertanya mengapa populasi bekantan dipindahkan ke Taman Nasional Kutai? Dan apakah bekantan ini hanya terdapat di Sungai Koala saja?

  15. Robert Fernando says:

    Secara umum masalah dari pada spesies yang terancam punah adalah habitat. Hal tersebut sering kali
    disebabkan oleh kita yang melakukan aktivitas tidak melihat dari berbagi pandangan, terutma pandangan
    lingkungan. Seperti contohnya mega proyek penambangan pasir besi di daerah Kulon Progo Yogyakarta yang pastinya
    akan mengganggu ekosistem daerah pantai tersebut dan mungkin akan berdampak pada keberadaan organisme
    tertentu, seperti halnya bekantan.
    Sangat diperlukan kesadaran kita untuk selalu memikirkan aspek lingkungan terhadap aktivitas yang selalu kita lakukan, demi
    menciptakan kelestarian lingkungan hidup.

  16. ruthangelina says:

    Semoga hewan bekantan ini tetap terjaga dan terlindungi untuk kedepannya. Kita juga harus ikut membantu untuk menjaga habitatnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php