Yesi Kristi

Katak Merah unik asal Gunung Gede-Pangrango

Posted: August 29th 2016

Katak di Indonesia mencapai 351 jenis (yang teridentifikasi) dari sekitar 5.915 jenis katak yang terdapat di dunia. Jumlah ini berarti sepertiga jenis katak di dunia berada di Indonesia. Bahkan sebagian besar kodok di Indonesia adalah endemik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sayangnya tidak sedikit dari jenis katak tersebut yang terancam punah padahal sampai sekarang belum satupun jenis kodok yang dinyatakan dilindungi oleh pemerintah Indonesia.  Padahal katak adalah kelompok binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, ataupun perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, amfibi ini dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.

Demikian juga pada katak merah yang tergolong dalam jenis katak endemic  yang sudah langka/ sulit dijumpai.  Katak merah atau memiliki nama latin Leptophryne cruentata yang memiliki arti warna merah darah merupakan spesies ampibi endemik Jawa Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Katak merah pun menjadi salah satu hewan langka yang terancam punah. sehingga tidak berlebihan jika kemudian IUCN Redlist  mencatatnya dengan status Critically Endangered (Kritis). Meskipun di Indonesia sendiri katak ini luput dari daftar satwa yang dilindungi. Katak ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggian antara 1.000 – 2.000 meter dpl. Habitatnya hanya diperkirakan hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Selebihnya tentang perilaku katak merah belum banyak diketahui.

Pada tahun 1976 diperkirakan populasi katak ini masih sangat melimpah. Pada tahun 1987 dan paska meletusnya gunung Galunggung populasinya mulai jarang ditemui. Saking langkanya pada periode 90-an hingga 2003 hanya dapat ditemukan satu ekor katak merah di sekitar air terjun Cibeureum. Karena daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.

Katak Merah

Faktor utama kelangkaan katak merah di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai, dan penggunaan habitat mereka sebagai tujuan wisata juga menambah kelangkaan katak merah. Seperti diketahui bahwa Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak adalah salah satu tujuan pendakian bagi para pendaki gunung didaerah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Para pendaki yang banyak dan sering tidak memperhatikan kelestarian lingkungan  sering mencuci piring maupun mandi disungai menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat mencemari tempat hidup katak merah. Selain itu sampah yang sering ditinggalkan oleh para pendaki  juga menjadi salah satu faktor terancamnya katak merah menjadi punah.

Katak merah populasinya sudah sangat sedikit (bahkan dari tahun 90an hingga 2003 hanya ditemui 1 ekor katak merah pada air terjun Ciburem, Gunung Gede-Pangrango) sehingga upaya konservasi harus dilakukan semaksimal mungkin. Konservasi katak merah dapat dilakukan dengan penutupan jalur pendakian dalam waktu tertentu untuk pemulihan ekosistem didalamnya, seperti yang telah dilakukan pada Gunung Gede-Pangrango yang setiap tahunnya dilakukan penutupan pada jalur pendakian. Selain itu upaya lain yang dapat dilakukan adalah spanduk” sepanjang aliran sungai sehingga pendaki dapat sadar bahayanya bahan kimia bagi satwa yang berada pada Gunung-Gunung tersebut.

Daftar Pustaka:

  • Gardner, T. 2001. Declining amphibian populations: a global phenomenon in conservation biology. Animal Biodiversity and Conservation, 24(2) : 25-44
  • Iskandar, D.T. 1998. Amfibian Jawa dan Bali .Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor.
  • Kurniati, Hellen. 2003. Kodok Merah Leptophryne cruentata Ditemukan Di Taman Nasional Gunung Halimun – Jawa Barat. Jurnal Fauna Indonesia, 5(2) : 71-74

4 responses to “Katak Merah unik asal Gunung Gede-Pangrango”

  1. meliasuryadevi says:

    Artikelnya menarik, tapi lebih baik jika ditambah gambar-gambar dan kalimat pengantar yang menyapa pembaca. (87/100)

  2. stefaniebella says:

    Kasian kataknya padahal yang kita tahu katak dapat bertelur banyak, jadi kemungkinan untuk mengalami potensi kelangkaan saya rasa tidak terlalu tinggi tetapi ternyata ada juga kasus kelangkaan yang dialami oleh spesies Leptophryne cruentata ini 🙁

    • yesikristi24 says:

      Katak yang mengalami kelangkaan banyak spesiesnya kok ga cuma ini. sayangnya pemerintah belum melindungi katak-katak yang terancam punah padahal IUCN udah masukin statusnya ke krisis, atau status tertinggi sebelum punah. kepunahannya sendiri selain faktor diatas bisa karena kataknya endemik jadikalau wilayah itu rusak ga terdapat diwilayah lain lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php