MENYAPA SATWA

Kucing Merah ingin dikenal dan diselamatkan

Posted: August 30th 2016

UntitledKucing merah (Pardofelis badia) atau Borneo bay cat, bay cat, atau Bornean marbled cat dalam bahasa inggris adalah kucing endemik pulau Kalimantan yang memiliki kekhasan dari bentuk tubuhnya. Secara fisik, kucing merah Borneo memiliki bentuk yang mirip dengan kucing emas namun ukurannya lebih kecil dengan warna bulu coklat terang dan tubuh bagian bawah lebih pucat. Pada gambar dapat kita lhat juga bahwa ekor kucing merah sangat panjang sekitar 30 – 40,3 cm serta meruncing di ujung dengan warna kehitaman, telinganya agak bulat, tubuhnya memiliki panjang yang bervariasi dari 49,5 – 67 cm. Keunikan lain yang dimiliki kucing merah adalah adanya tanda garis agak gelap yang menyerupai huruf M, serta bentuk fisiknya yang mirip dengan jaguarundi.

Tanpa perlu bertanya lagi, habitat asli kucing merah Borneo adalah Kalimantan (Borneo). Yang merupakan daerah hutan hujan tropis yang lebat. Para peneliti dan pemerhati satwa juga membuktikan adanya berbagai jenis habitat kucing merah yang tersebar luas di Kalimantan (dapat dilihat pada gambar) diantaranya adalah daerah hutan rawa, dataran rendah dipterocarp hutan hingga hutan bukit dengan ketinggin 500 m. Sedangkan, pada data hasil pengamatan 2003-2005 ditemukan kucing merah pada daerah Sarawak dan Sabah.

kmerah

Kucing merah memiliki perilaku yang unik seperti kelelawar yaitu perilaku hewan nokturnal. Saat gelap, kucing merah akan aktif berburu mangsanya seperti tikus, burung, dan monyet, namun kucing merah juga dapat menjadi hewan pemakan bangkai sisa predator. Usia kawin kucing merah adalah 18-24 bulan dan akan menghasilkan anakan baru setelah masa kehamilan selama 70-75 hari dengan jumlah 1-3 anakan baru.

Nah, setelah kita tahu ciri-ciri, tempat hidup dan perilaku kucing merah Borneo akan dibahas mengenai keberadaan kucing merah Borneo yang menjadi salah satu satwa unik Indonesia.  Kucing merah Borneo diketahui telah mendiami pulau Kalimantan sejak 4 juta tahun lalu, saat Kalimantan menyatu dengan Asia. Namun, jaman sekarang susah ditemukan, lho! Para peneliti sempat mendapat potret kucing merah dari hasil pemasangan kamera di beberapa sisi hutan dari tahun 2003-2009, namun pada 2009 baru berhasil ditemukan 1 potret kucing merah. Hal ini disebabkan karena rusaknya habitat asli kucing merah yaitu hutan. Hutan di Kalimantan telah mengalami banyak kerusakan lahan oleh manusia seperti kebakaran hutan, perluasan lahan, dan penanaman kelapa sawit yang merubah bentuk hutan Kalimantan serta kehidupan satwa di dalamnya.

baycat

Upaya konservasi yang dilakukan baru saja terbatas pada terdaftarnya kucing merah Borneo CITES Appendix sebagai Caputoma badia yang dilindungi oleh perundang-undangan nasional. Di samping itu juga dibuat peraturan dalam bentuk slogan maupun sosialisasi mengenai pelarangan pembakaran hutan,  perburuan dan perdagangan hewan di Kalimantan, Sabah, dan Sarawak. Perlu diketahui pula, belum ada kucing merah yang berada dalam penangkaran.

 

 

Sumber :

Hearn, A., Sanderson, J., Ross, J., Wilting, A., Sunarto, S. 2008. Pardofelis badia. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2.

Mohd-Azlan, J., Sanderson, J. (2007). “Geographic distribution and conservation status of the bay cat Catopuma badia, a Bornean endemic”. Oryx 41: 394–397.

Sunquist, M.E., Leh, C., Hills, D. M., Rajaratnam, R. (1994). “Rediscovery of the Bornean Bay Cat”. Oryx 28: 67–70.

Meijaard, E. (1997) The bay cat in Borneo. Cat News 27: 21–23

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/456726-tertangkap-kamera-kucing-merah-langka-asli-kalimantan

 

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php