Katak Merah

Katak Merah (Leptophryne cruentata) Aset Indonesia ‘Jawa Barat’ Hampir Lenyap

Posted: August 29th 2016

Katak Merah (Leptophryne cruentata) Aset Indonesia ‘Jawa Barat’ Hampir Lenyap

katak 1

 

Satu lagi aset khas Indonesia yang akan hilang dan sudah berada diujung mata. Kekeyaan khas yang menjadi ikon dari jawa barat yaitu “katak merah” atau sering disebut sebagai kadak darah (Leptophryne cruentata ) Sangat disayangkan negeri yang memiliki gelar negara megadivesity ini juga sangat banyak kekayaan spesies yang mulai terancam keberadaannya salah satunya katak merah ini.

Katak merah merupakan katak reptilia endemik yang hanya ditemukan di Jawa Barat khususnya di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Cipanas dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Cianjur. Katak ini hidup diidaerah dekat air yang mengalir deras pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl dengan kisaran suhu 10-24oC dan memiliki kelembaban tinggi antara 60-100%.

Ciri khas yang dapat dilihat dari katak merah ini adalah penampakan luar dengan warna didominasi merah dengan totol merah kehitaman seperti darah. Ciri-ciri khusus lainnya adalah badan yang kecil dan ramping antara 20-30 mm , memiliki sebuah kelenjar paratoid yang kecil, kadang-kadang tidak jelas, tidak terdapat alur bertulang di kepala, ujung jari tangan dan kaki agak membengkak, jari-jari ketiga dan ke lima membentuk jaringan sampai ke benjolan subartikuler.

katak 2

Pada tahun 1960 D. S. S. Liem, peneliti asal Queensland, Australia, melakukan suvey satwa langka ini dan mendapatkan kesimpulan bahwa katak merah Jawa Barat ini banyak sekali hidup di kawasan Cibeureum, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Yaitu sebanyak 149 ekor selama penelitiannya. 40 tahun setelah penelitian tersebut diketahui bahwa  populasinya menurun. Bahkan pakar amfibi dari Institut Teknologi Bandung, Djoko T. Iskandar, menulis dalam bukunya yang berjudul ‘Amfibi Jawa dan Bali’ pada 1998.

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist mencatatnya dengan status critically endangered atau status terakhir sebelum kepunahan dari satwa ini, namun berbeda halnya dengan di Indonesia yang belum memasukkan satwa endemik ini kedalam jenis satwa langka yang dilindungi.

Penyebab terancam punahnya katak merah diperkirakan akibat beberapa hal, dugaan pertama dari Djokoo Iskandar adalah akibat adanya letusan Gunung Gede Pangrango beberapa tahun silam, debu dan material gunung berapi itersebut diduga menutupi habitat tempat memijah serta tercemarnya lingkuingan alami dai katak ini sehingga terjadi penurunan jumlah sepesies katak merah secara drastis.

Dugaan lain mengatakan bahwa katak ini terserang jamur chytridimycosis. Dugaan ini diperkuat dengan adanya lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangan jamkatak 3ur chytridimycosis yaitu pada  suhu 13,5-28o C dengan kelembaban yang amat tinggi, 63-100 % di Gunung Gede dan Halimun-salak.

Dugaan penurunan populasi katak merah akibat eksploitas untuk dikonsumsi sedikit diragukan kareka termasuk suku Bufonidae atau katak sejati yang memiliki kelenjar racun sehingga tidak bisa dikonsumsi, dan jika digunakan untuk hiasan nkatak ini juga memiliki warna yang kurang menarik.

Upaya terus dilakukan dari beberapa pihat terkait, baik peneliti maupun pengelola kawasan konservasi. Pendataan tetap dilakukan namun memiliki kesulitan tersendiri karena minimnya tenaga yang terlibat untuk melakukan pendataan tersebut secara intens. Upaya lain dilakukan untuk mengetahui bagaimana populasi dari katak merah ini mengalami penurunan drastis sepeti identifikasi adanya indikasi serangan  jamur chytridimycosis secara molekuler namun lagi-lagi mengalami kendala seperti biaya operasional dan untuk pengujian lebih lanjut hanya bisa dilakukan pada laboratorium khusus di Amerika Serikat dan Australia.

Usaha terakhir adalah dari pihak pengelola yaitu dengan cara mgnhimbau setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo dan Halimun-Salak, teutama kawasan air terjun tempat katak merah ini tinggal agar tidak merusak vegetasi, tidak melukai dan membawa katak merah keluar dai habitat karena merupakan katak yang tidak bisa hidup disembarang tempat.

Saat ini ada bkatak 4anyak satwa yang sudah hampir lenyap di Indonesia. Adakah niatan kita untuk berpartisipasi mendukung keberadaan mereka dimanapun itu sebagai warna-warni di Indonesia ?   

Salam Lestari…!!!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php