Vinsensius Adityo

Nrimo Ing Pandum

Posted: November 8th 2012

Nrimo Ing Pandum[1]

Menjadi Pribadi yang Sederhana dengan Segala Kekayaannya[2]

                Pernah mendengar kisah tentang seorang nelayan dengan seorang pengusaha? Pada intinya, cerita tersebut mau mengajarkan bagaimana mensyukuri Rahmat Tuhan yang diberikan kepadanya. Mensyukuri menjadi hal yang susah ditanamkan dalam diri manusia pada zaman ini, di mana manusia termakan oleh konsumerisme dan hedonisme; lebih menuruti gengsi dari pada kebutuhan yang perlu atau urgent. Ini bukan soal iri tentang rahmat yang berbeda-beda. Kalau memang rezeki iu pastilah Tuhan yang atur. Namun, pernahkah Anda mengalami yang namanya kurang puas akan suatu hal? Ketika kita melihat harta yang kita miliki, pasti saja ingin selalu mendapat lebih dan lebih lagi? Memang manusia memiliki sifat tidak mudah puas. Namun pernahkah kita mensyukuri Rahmat yang Tuhan berikan, entah kurang atau lebih Rahmat yang diberikan-Nya itu?

“Menjadi Pribadi yang Sederhana dengan Segala Kekayaannya.”

Kata-kata Mgr. Ignasius Suharyo Pr di atas menjadi menarik dan relevan dibicarakan pada masa ini. Melihat kekayaan dari kesederhanaan. Bukan perkara yang mudah di zaman ini untuk menghidupi spiritualitas “Prihatin” di zaman ini. Melihat manusia yang terlena dengan kenyamanan dan kekayaan yang sudah diperoleh, sering kali lupa dengan Tuhan yang telah memberikan Rahmat kemurahannya, dengan kelancaran dalam hidupnya dan kita kerap lupa untuk mensyukurinya. Ketika kita berada di “atas”, bergeliimang harta dan kemudahan-kemudahan, kita lupa dengan kemurahan Tuhan yang telah memberikan semua itu. Namun apabila kita susah, kita mengeluh pada-Nya dengan mudahnya. Dan pertanyaan yang muncul adalah Mana yang lebih banyak kita lakukan? Bersyukur atau mengeluh? Saya tidak tahu jawabannya, karena masing-masing orang berbeda-beda. Namun saya sadari memang kita lebih banyak mengeluh dibandingkan mensyukuri Rahmat-Nya.

“Nrimo ing pandum”  menjadi spiritualitas yang menarik. Kita diajak bagaimana mensyukuri hidup dengan Rahmat apapun yang diberikan dari Tuhan. Ketika kita berada di atas, hendaklah kita tak henti-hentinya bersyukur, bahwa Tuhan mendampingi usaha kita sampai kita berhasil. Namun, apabila kita berada di bawah, janganlah kita merasa gagal. Melainkan kita terus berusaha menjadi yang terbaik dengan memohon Bimbingan-Nya, melalui doa.

Penutup

Pada  intinya adalah jangan kita lupa pada Tuhan dan kemurahannya dengan mensyukuri dan tetaplah menerima apa yang menjadi bagiannya. Apabila kita memang harus jatuh, hendaknya kita berusaha bangkit dan memohon bantuan dan bimbingan-Nya, agar kita menemukan makna dan dapat kita gunakan agar kita tidak jatuh lagi. Namun apabila kita berada di atas; berada dalam kenyamanan dan kebahagiaan, hendaknya kita terus bersyukur, karena kemurahan Rahmat-Nya yang begitu besar pada kita.

Temukanlah kekayaan (maknamu) di dalam semangat dan hidup sederhana


[1] Menerima bagiannya.

[2] Dikutip dari kata-kata Mgr. Ign. Suharyo. Pr.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php