Vinsensius Adityo

The Answer

Posted: October 30th 2012

Sebuah Pencarian Jawaban atas kehidupan

“Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Apa yang Tuhan kehendaki padaku? Apa yang hendak Tuhan lakukan terhadapku?”

                Awal sebuah kisah dari seorang ksatria bernama Dewabrata yang dilahirkan di Astinapura. Seorang ksatria yang mencari makna atas kehidupannya di dunia. Demi mencari sebuah bunga utpala biru yang dapat menentramkan jiwanya, ia harus melewati tujuh tahap pemurnian diri yang diajarkan oleh Rama Bargawa kepadanya, ia mencoba untuk menjadi seorang ksatria yang tangguh. Melalui perjuangan yang tak mudah tentunya. Ia mengalami berbagai macam cobaan yang mencobainya di sepanjang jalan. Mengalami peperangan dengan beberapa begal, sampai ketertarikannya terhadap dua orang wanita yang pernah ia temui dalam perjalanannya. Pengalaman jatuh cinta dan dicintai, pernah dialami oleh Dewabrata sebagai salah satu tahap pendewasaan diri dan penemuan jawaban atas kehidupannya di dunia. Namun akhirnya karena kehadiran seorang seorang patih bernama patih Danureja, yang licik dan kejam, datang di tengah mereka, akhirnya cinta itu harus mencambuk Dewabrata. Cintanya kepada seorang putri bernama Dewi Amba, haruslah berujung pada sebuah kepahitan. Ia harus rela meninggalkan orang yang ia cintai dan akhirnya dengan sumpah Brahmacarya-nya, ia bersumpah bahwa ia akan menemukan jati dirinya tanpa seorang wanita dalam hidupnya. Kenyataan itu membuat perasaan Wulandari yang pernah jatuh hati padanya, harus merelakan segala keputusannya dan akhirnya ia rela diangkat menjadi adik Dewabrata. Pahit memang, tapi semua itu ia terima dengan penuh syukur.

Ternyata cinta itu tidak lebih dari sebuah kepahitan. Awal yang manis, menjadi sebuah kepahitan yang amat sangat ketika cinta itu berakhir. Perasaan yang telah terjalin, segala yang telah tercurah dalam cinta itu, akhirnya terbuang sia-sia. Namun ternyata ada sebuah makna lain di balik kepahitan itu. Cinta itu ternyata dapat mendewasakan satu sama lain. Saling melengkapi, saling member bahkan pengorbanan diri. Pengalaman yang sama juga ku alami dalam hidupku. Rasa pahit cinta itu ternyata memang tidak enak. Tetapi ada sebuah nilai positif yang aku peroleh. Memang tak selamanya cinta itu membawa kepahitan. Rasa jatuh cinta kepada seseorang, memberiku sebuah pelajaran, bahwa cinta itu memberiku sebuah kebebasan untuk menjadi dewasa dalam kebersamaan. Walaupun akhirnya harus terasa pahit, namun semua itu ku terima sebagai salah satu cara untuk memurnikan diriku. Tak akan pernah ku tolak cinta itu. Karena semuanya berawal dari sebuah kata, yakni CINTA.

Tuhan telah adil terhadap semua orang. Tuhan telah memberikan cinta-Ny kepada semua orang. Salib menjadi bukti cinta dan pengorbanan-Nya kepada manusia, agar manusia itu bertobat dan diselamatkan.

Sekarang Tuhan yang mengatur peran kita, dalam opera kehidupan kita, di mana manusia menjadi pemeran utama atas perhelatan kisah yang telah Ia rancang. Sama seperti Dewabrata yang harus mengalami pengalaman yang sama. Merasakan pehitnya cinta, aku juga pernah, sama layaknya Dewabrata. Namun di balik semua itu, ia menemukan sebuah nilai hidup yang berarti.

Tuhan memberikan tugas pada setiap manusia. Dan semuanya adalah pilihan. Masuk ke Seminari juga sebuah pilihan. Awalnya aku juga bingung, mengapa tiba-tiba muncul dalam benakku. Entah suara itu datang dari mana. Tetapi ternyata suara itu memberiku sebuah dunia lain yang begitu indah. Dalam diriku muncul sebuah rasa untuk ingin menjadi seorang imam. Apa yang membuatku merasa demikian itu tidak pernah ku ketahui. Tetapi rasa itu tiba-tiba muncul dalam benakku.

Dan jawaban itu ku temukan, saat aku mulai masuk ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius Mertoyudan. Awalnya, aku juga tak tahu apa yang ku pilih dalam hidupku itu akan menjadi jawaban atas hidupku. Tapi ternyata setelah dijalani, Tuhan semakin memperjelas jawaban itu. Tuhan mungkin hendak mengutusku untuk sebuah misi dan mungkin sekarang lebih tepat bila digambarkan dengan sebuah kata “perkelanaan.” Sekarang aku masih berkelana mencari jawaban itu, agar misi itu terwujud nyata dalam hidupku. Sekarang telah jauh aku melangkah. Tuhan ternyata semakin meneguhkanku. Hidupku tak lagi susah, terkungkung dalam gemerlap masa muda yang penuh dengan kesenangan yang semu. Di dalam kawah Candradimuka, layaknya pertapaan Giriseta yang digunakan oleh Dewabrata untuk mencari sebuah jawaban atas hidupnya, di Seminari aku belajar banyak hal yang semakin mematangkan pribadiku. Bersemedi, merenungkan apa yang hendak Tuhan lakukan terhadapku. Hendak mencari jawaban atas hidupku. Walaupun mengalami jungkir balik dalam menghadapi tantangan hidup, semua itu ku terima danku hadapi sebagai sebuah tempaan. Kerinduan jiwa muda yang ingin menikmati apa yang layaknya dilakukan oleh remaja di luar seperti pacaran, itu sering ku alami. Tapi ternyata Tuhan berkata lain sudah bukan saatnya melakukan hal itu. Tuhan menghendaki diriku untuk mencintai semua orang, bukan hanya untuk satu orang. Orang masih bisa dicari kalau hilang, karena manusia itu masih banyak. Tapi kalau Tuhan yang hilang ? Di mana lagi kita hendak mencari-Nya.

Semenjak itu aku sadar, bahwa aku sedang belajar untuk menjadi pribadi yang bebas dan bertanggungjawab. Tuhan mengajariku untuk menggunakan masa muda ini, untuk melakukan segala sesuatu yang berarti bagi hidupku nantinya. Tuhan mengajariku berbagai macam hal, lewat tantangan-tantangan yang ada dalam hidup. Pengalaman bersama-Nya, hidup dalam kesengsaraan yang mengembangkan, itulah yang selama ini aku cari. Sengsara yang membawaku pada sebuah kata, CINTA. Itulah mengapa Tuhan mengutusku untuk menjadi seperti ini. Menyangkal diri dan mengikuti diri-Nya. Inilah semangat rasul yang ku cari selama ini.

Dan jawaban Tuhan itu jelas. Cintaku, bukanlah untuk seorang, tetapi untuk semua orang yang hadir dalam hidupku. Tuhan menghendakiku untuk demikian. Karena Ia tahu yang Ia rencanakan terhadapku. Dan aku hanya bisa percaya, itulah yang bisa kupersembahkan bagi diri-Nya, Hanya pengabdianku yang pantas bagi diri-Nya.

Tuhan…
Semua ini ku percayakan kepada-Mu. Inilah cinta-Mu kepadaku. Inilah Tuhan yang aku nantikan selama ini. Inilah diriku, yang tak pernah sempurna, tetapi ingin mengabdikan diriku untuk-Mu. Sebab kepada siapa lagi yang pantas bagiku untuk mengabdi. Hanya Engkaulah Tuhanku. Hanya Engkaulah cintaku.

Amin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php