Vinsensius Adityo

Sebenarnya Cinta

Posted: October 30th 2012

Satu detik lalu dua hati terbang tinggi , lihat indahnya dunia membuat hati terbawa.

                Waktu terus berjalan dan berlalu sekejap, akhirnya aku tersadar bahwa aku sudah melangkah sejauh ini. Mencoba untuk melihat jejakku yang telah ku buat dalam hidupku. Jejak-jejak yang telah ku lalui di dunia, dalam naungan rahmat-Nya yang sungguh aku rasakan dalam hidup. Sejarah yang telah ku buat bersama keluargaku, sanak saudara dan banyak orang yang telah aku temui, ternyata memang semuanya tak pernah lepas dari rahmat-Nya ini.

Awal perutusanku ke dunia, dari bayi sampai 15 tahun usiaku, menikmati indahnya dunia dan keduniawaiannya, ternyata telah membawaku pada sebuah permenungan, bahwa aku menemukan sesuatu dari Allah sendiri, yang memberiku warna hidup, pelajaran dan rangkaian makna. Dan hal itu adalah cinta, cinta dari Allah sendiri yang terus memberiku nafas kehidupan dan memberiku kekuatan sampai sejauh ini. Tuhan memberikan cinta-Nya kepadaku.

Dan bukti cinta-Nya itu nyata dalam hidupku. Bukan hanya lewat kata-kata dan kehidupanku saja, tapi juga melalui rahmat panggilan yang Ia berikan kepadaku, yakni panggilan imamat. Berkat cinta-Nya itu membawa hatiku terdampar di suatu tempat, yakni Seminari. Sejenak hatiku meragu, “inikah jalan yang Kau kehendaki untuk ku, Tuhan ?”. Tuhan sendiri menjawab dengan cinta-Nya secara lebih kepadaku. Aku disadarkan dalam permenunganku, bahwa apabila hidupku tak pernah Ia beri rahmat, mungkin aku tak akan pernah sampai sedemikian. Jalan panggilan yang penuh batu dan sungguh terjal ini, tak akan bisa ku lalui, jika aku tidak diberi kekuatan oleh karena cinta-Nya kepadaku sampai saat ini. Dan berkat Seminari, khususnya Medan Utama, Tuhan dan aku dipertemukan, sampai akhirnya aku disadarkan akan rahmat itu di dalam retret.

Dan sebenarnya cinta itulah yang telah memberiku kekuatan. Kekuatan untuk terus melangkah di jalan panggilan ini, walaupun jalan ini penuh dengan batu yang keras dan tajam.

 

Dan bawa ku ke sana dunia fatamorgana, termanja-manja oleh rasa dan ku terbawa terbang tinggi oleh suasana.

Dan dimulailah permenugan itu dalam retret confirmatio[1] ini. Melalui retret kali ini, Tuhan dan aku dipertemukan. Dan di sana, kami berdua saling berbicara dan bertanya satu sama lain; saling berkomunikasi untuk mempertemukan antara kehendakku dan kehendak-Nya, juga semakin merasakan bahwa rahmat cinta Tuhan itu sungguh-sungguh aku rasakan dan terjadi dalam hidupku. Mencoba untuk lebih memastikan lagi, rahmat yang sudah Ia tawarkan padaku. Dan hatiku pun memulai dengan sebuah pertanyaan, “Benarkah ini semua adalah kehendaku-Mu untuk ku, Tuhan?”

Hatiku terbawa oleh suasana. Dalam keheningan, aku dapat semakin merasakan bahwa Tuhan berbicara melalui pengalaman-pengalaman hidupku. Aku ditatapkan dengan pengalaman-pengalaman yang telah ku lakukan di masa lalu dan segala hal yang ku lakukan sampai saat ini, entah itu adalah hal yang baik dan juga yang kurang baik yang pernah ku lakukan. Dari hal yang baik dapat aku teruskan dalam hidupku dan hal yang kurang baik dapat aku pahami sebagai pelajaran yang berarti untuk tidak ku lakukan lagi dalam hidupku. Dari hal-hal itulah, aku semakin sadar bahwa manusia memang lemah dan penuh dengan dosa. Namun Tuhan pernah bersabda, Ia datang memanggil orang-orang yang berdosa, supaya mereka mau bertobat dan mengikuti Dia. Maka dari situ, aku sadar bahwa aku dipanggil oleh Tuhan untuk bertobat dan melayani manusia-manusia yang lain serta mengajak mereka untuk bertobat. Dan dengan segala rendah hati, aku menyerahkan diriku sepenuhnya, dengan segala kelemahan, kekurangan dan kelebihanku kepada-Nya, dan ingin ku gunakan untuk mewartakan kabar gembira-Nya di tengah dunia kelak.

 Dan sebenarnya cinta itulah yang menyadarkan diriku. “Inilah diriku, Tuhan. Dengan segala kekuranganku, aku ingin melayani dan mencintai Engkau.”

Aku bersyukur atas retret kali ini. Karena retret kali ini, tidak hanya memantapkan dan menguatkan panggilan itu, tapi aku juga dapat menemukan kelemahan-kelemahan diriku, yang kerap kali membuatku jatuh dalam kesalahan. Namun dengan keyakinan bahwa dengan mengikuti Dia, aku dapat bertobat dan semakin siap diutus ke dunia untuk menjadi imam kelak.

 

Dari sudut mata, jantung hati mulai terjaga, berbisik di telinga, coba ingat semua.

                Retret mengajakku untuk melihat sejarah hidup dan sejarah panggilanku; melihat masa lalu, di mana masa lalu dapat aku gunakan untuk mengenali diri; melihat kecacatan dalam diri, baik itu kecacatan yang dapat diatasi dan yang tak bisa disembuhkan, serta akhirnya menemukan cara yang tepat untuk mengatasi kekurangan diri tersebut. Mengingat masa lalu yang ku alami, bersama orang tua sebagai tempat pertama aku dididik dan dibesarkan. Serta melihat pergulatan panggilanku, selama aku di Seminari.

Dari situlah, aku melihat bahwa hidupku memang tidaklah mulus-mulus saja. Pengalaman kesulitan, kegoyahan panggilan dan mengalami dihukum, itu sungguh-sungguh menyadarkanku bahwa Tuhan tetap peduli dan mencintaiku. Aku melihat dan merasakan hal itu sebagai rahmat Tuhan sendiri. Kalau tidak karena rahmat Tuhan sendiri, tak mungkin aku sampai seperti ini dan dapat bertahan sampai saat itu. Selain itu, aku juga mendapat pelajaran dari Tuhan sendiri, untuk semakin pandai ber-diskresi, menentukan dan memutuskan segala sesuatu; apakah yang saya lakukan itu baik, lebih baik atau bahkan tidak baik sama sekali.

Satu hal yang penting yakni soal diskresi tadi. Tak sembarang orang bisa berdiskresi atau mau melakukan diskresi sebelum mereka melakukan suatu tindakan. Mengingat pengalaman masa lalu itu ternyata malah membantuku untuk semakin melihat akan arti pentingnya melakukan diskresi sebelum bertindak.

 

Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku, sesak aku di sudut maya dan tersingkir dari dunia nyata.

                Dan sebenarnya cinta itulah yang membuat aku sampai demikian. Mata hatiku yang selama ini telah tertutup, akhirnya disadarkan akan cinta Tuhan sendiri; aku jadi semakin merasakan bahwa segala sesuatu yang aku alami dalam hidupku dan segala pengalaman yang ku peroleh hingga aku menjadi demikian, adalah semata dari Tuhan sendiri, yang terus mencurahkan rahmat cinta-Nya dalam hidupku.

Kelamnya hidupku adalah semata cambuk bagiku untuk semakin sadar, bahwa Tuhan tak mau aku melakukan hal yang kurang berkenan bagi-Nya dan bagi sesamaku. Aku pernah merasa tersiksa atau bahkan aku pernah ingin mengakhiri hidupku dengan emosi sesaatku, yang telah mengkalutkan hatiku. Namun rahmat cinta Tuhan itu terus hadir dan menyadarkan penting melakukan tindakan yang baik dan lebih baik.

 Dan sebenarnya cinta itu juga telah menyadarkanku, bahwa aku tak pernah berhenti dicintai-Nya, walaupun aku berdosa dan terus berbuat salah. Tuhan tetap mencintaiku apa adanya dan Ia tetap setia membimbing hidupku untuk semakin diskretif.

 

Dan bangunkanlah aku dari mimpi indahku, Terengah-engah ku berlari dari rasa yang harus ku batasi.

Sebenarnya cinta itulah yang mengajakku untuk menemukan cinta yang lain. Cinta yang membebaskanku untuk memaknai cinta itu secara lebih dalam hidupku.

Semasa hidup, aku sendiri pernah merasa jatuh cinta. Dan Tuhan memberikan rahmat itu dalam hidupku. Aku pernah ingin memiliki seorang wanita dalam hidupku. Aku ingin mencintai bahkan memiliki dirinya. Bahkan aku pernah memimpikan dan sangat mengingikan dirinya untuk menjadi pendampingku kelak. Namun akhirnya cinta yang lain itu menuntunku. Cinta yang ditawarkan oleh Tuhan, yakni cinta untuk melayani, membagi dan mewartakan Dia bagi sesamaku. Dan mau tak mau aku harus membatasi rasa cinta untuk memiliki itu. Memang membatasi rasa cinta yang memiliki itu tidak mudah, namun aku disadarkan bahwa :

Dia lebih dahulu mencintaiku, sebelum aku ada di dalam kandungan ibuku.

Walaupun aku lelah membatasi cinta itu, karena emosiku yang terus mendorongku, tapi karena kesadaran itu, aku lebih merasa dicukupkan dan dikuatkan lagi. Aku tak pernah merasakan kekurangan lagi dalam memiliki cinta.

 

Dan Kau menawarkan rasa cinta dalam hati.

                Rahmat cinta yang baru itu Dia tawarkan padaku. Dan sekarang aku mencoba untuk menanggapi rahmat-Nya itu. Dan dengan rendah hati, aku percayakan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupku. KARSA DALEM KALAMPAHANA. Cinta yang semakin mengajakku untuk membagi, bukan untuk memiliki.

Aku sendiri jadi semakin terbuka pada siapapun yang hadir dalam hidupku. Aku jadi semakin tegar dan siap menemui siapapun yang hadir dalam hidupku. Aku sudah tak ingin cinta yang memiliki itu. Aku sendiri telah terbuka bersama cinta. Aku ingin membagikan cinta yang Dia berikan kepadaku dan hendak ku wartakan kepada siapa saja.

Aku, dengan segala rendah hatiku, mau Kau utus untuk membagikan cinta itu kepada siapapun aku Engkau utus.

 

Ku tak tahu harus bagaimana untuk raba mimpi atau nyata, dan bedakan rasa dan suasana dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya.

                Walaupun terkadang aku kerap merasa ragu. “Benarkah aku sudah memilih dengan hati? Apakah ini semua kehendakku atau kehendak-Mu? Benarkah ini jalan untuk ku dari Mu?”

            Dan sebenarnya cinta itulah yang menyadarkanku, bahwa inilah cinta yang Ia tawarkan padaku dan tak mungkin aku bisa menolak-Nya.

Aku sudah dicengkram dengan cinta-Nya dan tak mungkin aku bisa menolaknya, karena di manapun hatiku bersembunyi, pasti Ia tahu di mana aku.

Karena percuma saja aku lari. Ia pasti menemukanku. Aku meragu, Ia pasti menyemangatiku lagi. Aku berdosa, Ia mengampuninya lagi. Sungguh cinta itu Ia berikan secara cuma-cuma dalam hidupku. Apakah harus ku tolak semuanya itu? Kalau dirasakan, siapa aku, yang bisa menolak cinta-Nya itu? Bodohnya aku kalau aku menolak semua itu. Ia sudah memberikan diri-Nya secara cuma-cuma, bahkan sampai Ia mati di salib karena semata-mata cinta-Nya kepada manusia.

Aku tak sanggup berlari lagi, ya Tuhan. Ku tak tahu harus bagaimana lagi. Yang ada kini adalah kepercayaanku pada-Mu, bahwa biarlah kehendak-Mu terjadi atas diriku.

Dan bangunkanlah aku dari buta mataku, jangan pernah lepaskan aku untuk tenggelam di dalam mimpiku.

                Jangan pernah lepaskan aku lagi, ya Tuhan. Aku sudah meninggalkan semuanya untuk mengikuti-Mu. Kuatkanlah aku, agar aku tak tenggelam lagi dalam mimpi-mimpi di masa laluku.

Sebenarnya cinta itulah yang telah menjawab keraguanku, bahwa aku tak akan pernah Ia tinggalkan, meski aku lemah dan penuh dosa.

Aku sudah merelakan semuanya. Mimpi-mimpiku, diriku dan seluruh hidupku. Bahwa sebenarnya hanya cinta-Mu, yang akan terus menjadi kekuatanku untuk hidup di jalan panggilan ini. Walaupun tak mudah menjalaninya, tapi dengan KARSA DALEM KALAMPAHANA, membuatku percaya bahwa aku tak akan pernah Kau tinggalkan. Cinta-Mu lah yang akan terus menguatkan dan meyakinkanku, bahwa diri-Mu tak akan pernah meninggalkanku. Dan dari situ aku sadar, bahwa :

Sebenarnya cinta-Mu akan terus menyertai hidupku.Walaupun aku tak sempurna, tapi aku mau percaya pada-Mu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwaku.

Kalau aku memang Kau panggil, mengapa aku harus meragu? Kini aku serahkan diriku, Tuhan, walaupun jalan ini tidak akan mudah ku lalui. Namun aku yakin, bahwa rahmat-Mu selalu besertaku.

-In Te Confido-


[1] Penguatan atau pemantapan atas panggilan hidup.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php