Vinsensius Adityo

Say It with Picture

Posted: October 30th 2012

Judul                            : Paparazzi, Memahami Fotografi Kewartawanan

Pengarang                    : Sugiarto, Atok.

Jumlah halaman : 113+Cover

Penerbit                        : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun terbit                  :2005

 

“Foto adalah data dan fakta, juga makna.”

Dari kata-kata di atas, tampaklah bahwa sebuah gambar foto itu juga perlu berbicara. Berbicara soal apa? Berbicara soal fakta yang terjadi, dan tentu makna di balik peristiwa. Dunia Fotografi memang menarik untuk ditelusuri, apalagi kalau kita mencoba untuk berkecimpung di dalamnya. Tapi sebelumnya, Mas Atok Sugiarto hendak membagikan pengalamannya serta trik dan tips yang dapat membantu kita, apabila kita hendak bergulat dalam dunia fotografi itu.

Dalam bukunya ini, beliau mengatakan berbagai macam hal, terutama adalah bagaimana sebuah foto itu dapat berbicara soal fakta.

Pada bagian awal atau bab 1 buku ini, beliau mengatakan tentang bagaimana seorang paparazzi[1] itu merupakan orang yang tidak “sembarangan”. Sembarangan di sini adalah bagaimana seorang paparazzi itu bukannya seorang yang mencari-cari berita, tetapi memilih berita, jadi seorang paparazzi itu merupakan orang yang selektif dalam menangkap sebuah gambar untuk dipublikasikan lewat media massa. Istilah-istilah penting seperti freelance-stringer[2] juga ia sampaikan pada bagian ini.

Pada bagian 2 hingga bab 10, beliau mengatakan tentang fotografi kewartawanan di mana seorang waratawan fotografi itu dapat menyampaikan sebuah berita lewat gambar yang ia ambil atau dapat dikatakan foto sebagai berita. Foto sebagai berita maksudnya adalah foto yang mengandung berita, karena foto tersebut dipublikasikan atau diberitakan kepada khalayak, lalu lantas dinamai dengan foto berita.Selanjutnya beliau juga mengatakan tentang kategori atau klasifikasi tentang foto yang disampaikan untuk diberitakan itu termasuk kategori foto yang mana. Apakah foto berita spot, feature, olah raga, dsb. Lalu beliau juga menyampaikan tentang bagaimana kita memposisikan diri sebagai sebuah kamera, membuat foto untuk jurnalistik dan tentang bagiamana sebuah foto itu dikatakan berhasil apabila seorang wartawan fotografer perlu menggunakan kemahirannya untuk menangkap  sebuah gambar. Bagaimana gambar itu ditinjau dari nilai seni, keahlian, objek, peralatan dan cetakan. Dan yang paling penting dari buku ini adalah bagaimana seorang fotografer memiliki kemerdekaan sebagai pers untuk dapat dihormati oleh semua pihak, yakni tentang kode etik jurnalistik, di mana  seorang fotografer juga di jamin kemerdekaannya dalam mengambil gambar atau dengan kata lain, seorang fotografer itu dapat mempertanggungjawabkan atas apa yang peroleh dari gambarnya itu.

 

Refleksi          :

Buku ini sungguh menarik untuk dibaca dan membuat saya tertarik. Karena selama ini saya sering menggunakan kamera untuk menangkap gambar. Dan dari buku ini, saya memperoleh wawasan tentang bagaimana seorang fotografer itu bekerja, apalagi berkelut dalam dunia jurnalistik. Memang tidak mudah untuk menjadi seorang fotografer yang handal. Tetapi dari buku ini, saya memperolah peneguhan bahwa dengan belajar terus menerus dan giat berusaha untuk terus berlatih menggunakan kamera secara benar dan bertanggungjawab.

Sempat saya beranggapan, apakah buku ini akan mendukung saya untuk terus giat dalam menekuni panggilan? Saya jadi teringat tentang kata-kata ini, Finding God in all things dan mungkin dengan sarana fotografi, kabar gembira Tuhan juga dapat diwartakan. Dengan cara apa? Dengan cara menggunakan dan memanfaatkan sarana itu secara baik dan benar, bukan untuk melecehkan. Gambar yang diambil perlu juga berkata. Maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tepat guna penggunaan kamera itu, maka gambar yang dihasilkan juga dapat dinikmati dan juga dapat dipertanggungjawabkan kepada semua orang. Dan juga semakin membawa kita untuk semakin menemukan Tuhan dalam segalanya dan segalanya dalam Tuhan.

 

 


[1] Dari kata Paparazzo (bahasa Italia) yang berarti para pemotret yang bekerja membuntuti orang-orang penting dan terkenal atau selebriti untuk mendapatkan gambar-gambar eksklusif.

[2] Freelance-stringer adalah pekerja pers lepas. Jika hasil karyanya dimuat, disiarkan atau dipublikasikan media cetak, ia akan menerima imbalan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php