Vinsensius Adityo

Ratapan Penuh Makna

Posted: October 30th 2012

Judul                            : Khotbah di Penjara

Nama Pengarang          : Arswendo Atmowiloto

Jumlah Halaman            : 245 hlmn +2 hardcover

Penerbit                        : Subentra Citra Pustaka, Jakarta

Tahun Terbit                 : 1994

 

Buku ini merupakan kumpulan “renungan” yang tadinya terpisah-pisah yang dikumpulkan oleh Arswendo, dalam beberapa kesempatan mengikuti kebaktian di Gereja Batu Penjuru, maupun dalam Persekutuan Doa yang ada di blok (Semua di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta). Arswendo meyiapkan naskah-naskah ini kemudian ia kumpulkan menjadi buku ini.

Buku ini menceritakan pengalaman-pengalaman para narapidana di LP Cipinang, akan hikmah yang mereka alami, terutama pengalaman mereka akan cinta kasih Allah selama di penjara.

Buku ini menceritakan tentang proses para narapidana untuk semakin beriman kepada Kristus, yang boleh dikatakan tidak mudah, dari pengalaman sampai perasaan yang mereka rasakan selama mereka tinggal di penjara. Penjara yang telah memberi mereka banyak makna dan saksi bisu atas perhelatan iman mereka.

Dalam buku ini, Arswendo tidak menyebutkan nama lengkap para narapidana yang menyampaikan pengalamannya, namun menyampaikan nama panggilan akrab saja atau bahkan nama samaran yang kerap kali dipakai untuk menyebut para narapidana itu. Namun bagian yang terpenting adalah pengalaman mereka di penjara, mereka terima dengan penuh syukur, bahwa penjara itu tidak membuat mereka merasa sengsara, namun mereka menemukan pengalaman cinta kasih Allah secara lebih.

Refleksi :

            Pengalaman akan cinta kasih Allah itu tidak hanya diperoleh dari pengalaman yang menyenangkan saja. Melainkan pengalaman cinta kasih dari Allah itu dirasakan dengan memaknai tiap pengalaman itu sebagai rahmat dari Allah sendiri.

Para narapidana mengalami hal-hal semacam itu. Bagi saya pribadi, pengalaman keterjatuhan mereka di penjara itu, malah memberikan pelajaran yang berarti, di mana kami atau paling tidak saya pribadi, diajak untuk bersyukur dengan pengalaman kami sehari-hari. Dari orang-orang yang demikian inilah, saya pribadi menjadi sadar bahwa syukur bukan semata dari pengalaman yang menyenangkan saja. Namun bagaimana memaknai pengalaman yang dialami di setiap harinya; entah itu pahit atau manisnya hidup, dengan rasa syukur.

Penjara bagi mereka bukanlah akhir dari segalanya. Mereka malah menemukan banyak makna dari pengalaman itu. Pergulatan-pergulatan yang mereka alami, mereka syukuri sebagai suatu yang membuat mereka sadar bahwa cinta kasih Allah kepada mereka begitu besar. Dari pengalaman mereka itu, kita diajak untuk mensyukuri pengalaman kita secara utuh. Tiap pengalaman menjadi rasa syukur.

-oo0Pengalaman adalah guru yang baik0oo-


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php