Vinsensius Adityo

Be a Power Full Human

Posted: October 30th 2012

“Proses belajar itu akan terus berlanjut di dalam hidup kita. Kalau kita salah dan mengalami kegagalan, itu tidak apa-apa, karena kita masih belajar. Tapi selanjutnya kita tidak boleh jatuh pada kegagalan yang sama. Maka beranilah untuk mencoba, karena dengan mencoba, kita dapat belajar untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.”

~Rm Vincensius Kirjito Pr~

 

Dari live-in selama lima hari yang telah saya lalui, saya sungguh merasa diteguhkan dalam menjalani hidup saya. Saya belajar dan diajari oleh orang-orang sederhana, yakni petani dan lagi saya semakin dikuatkan untuk melangkah dalam hidup saya selanjutnya oleh seorang imam yang boleh dikatakan arif dan bijak. Inilah secarik hikmah yang ku dapatkan selama live-in.

 

Mertoyudan, 17 Oktober 2010

Dari sinilah perutusan itu dimulai. Kami diajak oleh kepamongan untuk menulis surat lamaran tempat live-in. Pada awal saya menulis surat lamaran itu, saya pribadi bingung menentukan tempat yang ingin saya tinggali untuk live-in. Dan memang akhirnya saya sudah memilih tempat yang ingin saya pilih untuk live-in. Setelah selesai, surat itu akhirnya kami serahkan kepada kepamongan. Dengan harap-harap cemas, saya memilih tempat yang saya inginkan dan selalu muncul pertanyaan dalam hati saya “dikabulkan ga ya lamaran saya?” Tapi akhirnya saya mencoba untuk pasrah. KARSA DALEM KALAMPAHANA. Dengan motto angkatan kami, saya percayakan apa yang terjadi selanjutnya, karena live-in ini diadakan dalam rangka penghayatan nilai totalitas. Dan saya percaya bahwa saya yang akan dibentuk atau diformat, maka saya percayakan semuanya, karena semua baik adanya. Saya percaya bahwa saya yang dibentuk dan saya percaya segala sesuatu yang terjadi pada saya hari ini sampai pada hari seterusnya adalah baik adanya.

 

Mertoyudan, 18 Oktober 2010

            Dan akhirnya hari surat keputusan untuk live-in itu dikeluarkan juga. Dag dig dug hati ini. Karena memang sungguh mendebarkan menerima surat keputusan yang diberikan oleh Rm Agam. Dan akhirnya saya masuk ke kamar Rm Agam dan menghadap di depan beliau empat mata. Setelah mengungkapkan beberapa hal, akhirnya surat perutusan itu diserahkan kepada saya dan saya diminta untuk membaca surat itu di depan Rm Agam. Kurang lebih demikian bunyinya :

….

Dalam live-in kali ini, kami menempatkan Anda di :

KELUARGA MISKIN DI PAROKI St. MARIA LOURDES, SUMBER.

Melalui live-in ini kami menawarkan beberapa hal yang bisa Anda alami :

  1. Belajar mensyukuri dan menghargai kehidupan.
  2. Belajar untuk bekerja keras dalam rangka menyambung hidup.
  3. Belajar menjadi orang yang tangguh dan tahan banting dalam memberikan sumbangan kepada lingkungan sekitar.
  4. Belajar untuk semakin berani berdiskresi dan mengambil keputusan yang benar dalam situasi yang sulit.

….

            Dan setelah menerima surat perutusan itu, saya sendiri merasa tertantang untuk bertindak demikian dan saya yakin bahwa diri saya akan di”bentuk” dengan pengalaman itu. Saya terima sepenuhnya tugas ini, karena saya percaya bahwa saya yang dibentuk dan saya yang akan diajar oleh pengalaman ini.  KARSA DALEM KALAMPAHANA terus saya pegang dan menjadi semangat saya untuk mau belajar menjadi murid-Nya. Lega akhirnya hati ini. Jawaban atas pertanyaan di hati saya, akhirnya terjawab juga. Dengan rendah hati, taat dan setia saya dipilih dan diutus untuk belajar, bekerja dan berkarya di tengah-tengah umat. Menemani dan menimba pengalaman dari mereka, khususnya memperjuangkan nilai-nilai yang hendak diolah dalam live-in ini. Lagi-lagi KARSA DALEM KALAMPAHANA. Saya percayakan sepenuhnya kepada penyelenggaraan Illahi.

 

Tangkil, 19-23 Oktober 2010

            Akhirnya kami berangkat ke paroki Sumber. Saya, Dhani dan Jaya berangkat dengan menggunakan angkot dari Muntilan ke Sumber. Walaupun sempat diguyur hujan, tapi kami tetap mau menjalani live-in ini dengan gembira. Dengan optimisnya kami menjalani live-in ini. Kami sempat bercanda dan menganggap bahwa hujan ini adalah sambutan Tuhan kepada kami untuk live-in kami di Sumber. Setibanya kami di sana, kami disambut oleh Rm Kirjito dan Rm Maryana dengan baik. Kami diajak makan siang bersama. Dan sore harinya kami diutus ke rumah tempat tinggal live-in kami masing-masing. Kebetulan saya tinggal di keluarga Bpk. Gimin atau akrab dipanggil Pak Revo. Di sana kami berkenalan dan mulai berkenalan. Pak Gimin sempat ingat dengan saya, karena dulu waktu MP (Medan Pratama) saya pernah misa alam di Tangkil ini bersama Rm Supri dulu. Pak Revo adalah seorang petani. Beliau sudah berkeluarga dan mempunyai satu anak bernama Revo. Putranya baru kelas enam SD. Tapi kata Rm Maryana, saya diminta untuk menemani dia syukur-syukur bisa mengajaknya untuk masuk ke Seminari kelak kalau ia sudah lulus SMP.

Pagi-pagi benar, Pak Gimin berangkat ke kandang untuk memberi minum sapi-sapinya. Dan saya sendiri ikut membantu Pak Gimin. Setelah selesai memberi minum sapi, kami langsung berangkat ke sawah untuk memetik sayuran. Agak menantang sich, karena memang sawahnya jauh dan naik ke gunung. Tapi saya sendiri merasa tertantang untuk menjalaninya. Dan tugas memetik cabai pun selesai, lalu cabai itu langsung dijual di pasar. Memang untungnya tak seberapa, tapi Pak Gimin bersyukur bahwa uangnya cukup untuk makan sekeluarga hari ini. Karena memang tidak membawa sepeda motor, kami pun harus pulang berjalan kaki sejauh 2 km. Agak panas memang, tapi karena Pak Gimin yang terus bersharing, jadi suasana panas yang sedemikian tidaklah terasa panas. Ketika berjalan juga saya pribadi tidak merasa bosan karena Pak Gimin yang sangat senang bercanda. Mungkin untuk mencegah rasa bosan selama perjalanan itu.

Hari Kamis, 21 Oktober 2010, desa itu menerima live-in juga dari SMAK BPK Penabur, Cirebon. Mereka hendak susur sungai Lamat dan belajar dengan masyarakat di sana. Dan kebetulan ada 2 orang yang juga tinggal di rumah Pak Gimin. Mau tak mau saya harus juga menemani mereka bersharing. Mereka berdua cewek dan beragama Kristen. Mau tak mau saya harus menemani mereka sampai malam, karena mereka ingin mengenal tentang Katolik, juga mereka ingin bertanya kenapa saya memilih jadi imam atau pastor.

Jumat Paginya,  saya, Dhani dan Jaya diajak oleh panitia untuk membantu mendampingi SMA itu untuk kegiatan susur sungai. Dan kebetulan, dulu ketika MP, saya pernah melakukan hal itu, jadi saya masih ingat dengan rute sungai yang pernah saya lalui. Sungguh menarik kami bisa membantu. Ada satu hal yang saya nantikan, yakni makan nasi doa. Rasanya enak sekali. Dan yang penting dari acara makan nasi doa ini adalah bahwa kami harus bersyukur atas rahmat Tuhan lewat panenan, yang diolah untuk membuat nasi doa. Dan kami diajak untuk bersyukur, bahwa Tuhan menganugerahkan rezeki itu kepada kami lewat nasi doa itu.

Hari Jumat, 22 Oktober 2010 malah saya ikut bersama umat Tangkil untuk doa rosario bersama di rumah umat yang ada di sana. Saya diminta untuk memimpin doa rosario bersama itu dengan menggunakan bahasa Jawa. Untungnya saya bisa, kalau tidak betapa malunya. Dan akhirnya doa ditutup dengan perkenalan dan sharing dari saya. Saya sungguh belajar untuk menjadi rasul kecil. Memang bukan hal yang mudah, tapi sungguh menarik.

Hari Sabtu, 23 Oktober 2010. Para peserta live-in dari BPK Penabur itu pulang ke Cirebon. Dan kami yang live-in dari Seminari, masih tinggal di sana. Ketika malam itu, saya diajak untuk begadang sampai pagi menghitung uang yang diperoleh dari SMA yang baru saja live-in itu. Dan sebelumnya ketika hari masih sore, sekitar pukul 15.00, kami menutup seluruh rangkaian live-in kami dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Rm Maryana bersama umat di kapel Tangkil. Kami menghaturkan syukur kami kepada Allah, atas segala penyertaan-Nya selama kami live-in. Kami sungguh bersyukur sekali atas pengalaman-pengalaman yang kami peroleh selama live-in di sana.

Dan sampailah kami dipenghujung live-in kami. Kami bersyukur atas pengalaman live-in bersama mereka, juga atas sharing dan  pendampingan mereka. Kami sungguh merasa sudah in dan tak ingin berpisah. Tapi mau bagaimana lagi, hidup masih harus terus berlanjut. Kami bertiga pamit kepada keluarga kami masing-masing untuk pulang ke Seminari. Kami berjanji untuk saling mendoakan dan kelak kalau ada waktu senggang, kami diundang lagi untuk bermain ke sana lagi. Dan akhirnya kami pulang dengan penuh rasa syukur atas live-in ini.

 

Mertoyudan tercinta, 27 Oktober 2010

Pengalaman live-in ini sungguh memberi peneguhan bagi kami. Banyak sekali pengalaman yang belum terungkap di sini. Tapi perasaan yang sungguh kami rasakan adalah sama. Kami sungguh bahagia karena kami diberi kesempatan untuk belajar hidup dari mereka dan diberi peneguhan dari mereka. Terutama dari kata-kata Rm Kirjito yang ada di atas tadi. Kami sungguh diberi peneguhan sekaligus semangat untuk melanjutkan hidup, studi dan panggilan kami di Seminari Mertoyudan. Kami percaya bahwa proses belajar itu akan terus berlanjut. Dan proses belajar itu akan terus berlanjut, bahkan ketika jadi imam, kita akan terus belajar.

“Proses belajar itu akan terus berlanjut di dalam hidup kita. Kalau kita salah dan mengalami kegagalan, itu tidak apa-apa, karena kita masih belajar. Tapi selanjutnya kita tidak boleh jatuh pada kegagalan yang sama. Maka beranilah untuk mencoba, karena dengan mencoba, kita dapat belajar untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.”

KARSA DALEM KALAMPAHANA terus kami gemakan dalam hati kami, karena kami percaya kepada-Nya, apapun yang terjadi dalam hidup kami, dari hari ini sampai hari esok adalah berkat penyelanggaraan-Nya. Karena apapun yang Ia berikan kepada kami, kami anggap sebagai sesuatu yang memiliki nilai yang baik.

Ternyata menjadi baik itu juga perlu belajar. Dan yang penting kami bisa total untuk menjalani hidup kami selanjutnya juga semakin total untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan. Jangan takut untuk mencoba. Percayakan segala sesuatunya kepada Allah, biarkan kehendak-Nya terjadi atas diri kita.

 

~Viat Mihi Secundum Verbum Tuum~

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php