Vinsensius Adityo

Aku (Harus) Pergi Meninggalkan Merapiku(,) Semata Untuk Hidupku

Posted: October 30th 2012

Abu masih turun menghujani kota Magelang. Merapi masih menampakkan kegeramannya. Awan panas masih turun dan menakuti banyak orang. Masih banyak warga yang perlu mengungsi. Dan korban masih terus diefakuasi. Sungguh murka merapi masih sangat tarasa pada waktu itu. Rasa takut yang masih terus dominan mewarnai Magelang dan warga Indonesia.

Namun di tengah rasa takut itu, kami, para seminaris diajak untuk menyingkir sejenak. Kami harus mengadakan retret[1] di Parakan, Temanggung. Sontak hatiku ingin berteriak, “Dit, tega-teganya kamu, masih banyak orang yang membutuhkan bantuan, kamu malah pergi retret. Gila!!!” Hatiku terus berteriak demikian. Sungguh perasaan tidak rela dan perasaan tidak tega itu aku rasakan, karena aku berpikir sebegitu egoisnya kami, meninggalkan keadaan yang seperti itu, hanya untuk retret. Aku sungguh bingung. Aku harus memilih yang mana. Antara hidupku dan hidup orang lain.

Ketika para relawan masih sibuk menyediakan dirinya untuk membantu para korban bencana merapi dan masih banyak orang yang membutuhkan bantuan, kami harus rela menyingkir, semata karena kami ingin sejenak bertemu dengan Tuhan dalam retret. Aku sendiri merasa tidak tenang karena perasaan tidak tega itu terus mewarnai perasaanku sebelum berangkat retret. Aku terus memikirkan bagaimana nasib pengungsi di sini, karena kebetulan Seminari menjadi tempat untuk mengungsi para korban bencana merapi.

Namun apalah arti itu semua, kalau akhirnya kami melupakan Tuhan dalam hidup kami. Aku sendiri merasa, bahwa selama ini waktuku hanya terbuang untuk melakukan aktifitas. Akhirnya aku tersadar, bahwa terkadang aku sendiri tidak mau memberi waktu untuk Tuhan sendiri. Karena sibuknya aktifitas, aku jadi kering dan merasa jauh dari Tuhan. Aku sendiri merasa bahwa terkadang aku masih belum bisa menyediakan waktu untuk Tuhan hadir dalam hidupku. Dan retret inilah, waktu yang tepat untuk saling bertemu antara aku dan Tuhan. Akhirnya aku harus berangkat retret selama 4 hari di Parakan, Temanggung. Dan mau tak mau, aku harus meninggalkan sejenak keadaan itu, untuk bertemu dengan Tuhan.

Sungguh tak mudah. Antara rasa untuk menolong dan hati yang merasa kering karena jarang bertemu dengan Tuhan. Aku harus ber-diskresi[2] untuk memilih hal mana yang lebih baik dalam hidupku. Dan akhirnya retretlah yang harus ku pilih, karena aku masih perlu menyediakan diriku dan waktuku untuk Tuhan hadir dalam hidupku. Walaupun retret tidak menyita waktu yang banyak, hanya 4 hari. Namun selama waktu itulah, aku perlu merasakan dan menemukan Tuhan dalam hidupku.

 

Aku harus pergi meninggalkan merapiku, semata untuk hidupku.

Dan akhirnya aku harus pergi meninggalkan merapiku, semata hanya untuk hidupku. Jiwaku lebih membutuhkan Tuhan. Aku harus meninggalkan semuanya dan Tuhan tetap menjadi prioritas hidupku yang utama. Manusia memang perlu untuk saling membantu, tapi kalau harus merugikan satu pihak bahkan sampai melupakan Tuhan, sama saja tidak baik. 4 hari itu adalah waktu yang berharga bagiku. Sangat jarang aku bisa menyediakan waktu ku untuk hal ini. Waktu ini adalah kesempatan sejenak ku bertemu dengan Tuhan. Aku ingin berbicara dengan-Nya dan ingin memperkuat lagi panggilan hidupku. Dan aku harus meninggalkan merapiku, semata untuk hidupku yang masih akan terus ku dalami terus menerus, agar aku semakin tahu jelas akan panggilan hidupku.

Hidup memang penuh pilihan. Dan tindakan diskresi sungguh sangat dibutuhkan di sini, agar manusia semakin bisa menentukan yang terbaik bagi dirinya, bagi orang lain dan bagi Tuhan sendiri. Dengan demikian aku sendiri terus dilatih dan semakin disadarkan akan arti pentingnya diskresi dalam hidup, agar setiap pilihan yang kita pilih itu dapat menjadi pilihan yang terbaik, entah itu bagi diri sendiri, orang lain dan juga Tuhan sendiri. Pertanggungjawabkanlah setiap pilihan hidupmu. Jadikanlah tiap pilihanmu itu yang terbaik bagimu, bagi orang lain dan Tuhan sendiri.

 

-Pertanggungjawabkanlah setiap pilihan hidupmu. Jadikanlah tiap pilihanmu itu yang terbaik bagimu, bagi orang lain dan Tuhan sendiri.-  


[1] Kegiatan Seminari Menengah Mertoyudan untuk merenung dan melihat masa lalu. Tapi retret yang kami lakukan kali ini memiliki arti lain, yakni liburan bersama Tuhan.

[2] Istilah untuk memilih hal yang baik dan lebih baik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php