Rencana Konservasi Species Buaya Siam

Personal Action Plan

Posted: December 1st 2017

Buaya Siam (Crocodylus siamensis) adalah sejenis buaya anggota suku Crocodylidae. Buaya ini secara alami menyebar di Indonesia(Jawa dan Kalimantan Timur), Malaysia (Sabah dan Serawak), Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Disebut buaya Siam karena spesimen tipe jenis ini yang dideskripsi dan dijadikan rujukan berasal dari Siam (nama lama Thailand). Di Jawa, buaya ini disebut buaya kodok. Buaya ini sekarang terancam kepunahan di wilayah-wilayah sebarannya, dan bahkan banyak yang telah punah secara lokal

Buaya siam atau Crocodylus siamensis semakin langka dan terancam punah. Buaya siam yang merupakan salah satu dari 7 jenis buaya asli Indonesia ini termasuk dalam spesies Critically Endangered (kritis) berdasarkan IUCN Red List.

Ciri-ciri dan perilaku. Buaya siam (Crocodylus siamensis) berukuran sedang dengan panjang tubuh dapat mencapai 4 meter, meskipun pada umumnya hanya berukuran sekitar 2 – 3 meter saja.Di antara kedua matanya terdapat gigir yang memanjang, keping tabular di kepala menaik dan menonjol di bagian belakangnya. Mempunyai 2 – 4 buah sisik besar di belakang kepala. Selain itu buaya siam (Crocodylus siamensis) mempunyai sisik-sisik besar di punggung (dorsal scutes) yang tersusun dalam 6 lajur dengan 16 – 17 baris. Sisik perut tersusun dalam 29 – 33 baris. Warna punggung kebanyakan hijau tua kecoklatan, dengan belang ekor yang pada umumnya tidak utuh. Seperti jenis buaya lainnya, buaya siam memakan invertebrata, katak, reptil, burung dan mamalia, termasuk bangkai. Buaya siam betina membangun sarang berupa gundukan di tepi danau atau sungai. Dalam sekali musim bertelur, buaya siam betina bertelur sekitar 20 – 80 butir. Telur-telur ini akan selalu ditunggui oleh induknya hingga menetas yang memakan waktu antara 70 – 80 hari.

Habitat, Persebaran, dan Konservasi. Habitat buaya siam (Crocodylus siamensis) adalah perairan dengan arus yang lambat, seperti rawa-rawa, sungai di daerah dataran dan danau. Secara alami, buaya siam (Siamese crocodile) hidup tersebar mulai dari Indonesia (Jawa dan Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Serawak), Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam.

Karena perburuan gelap dan rusaknya habitat buaya ini di alam, IUCN memasukkan buaya Siam ke dalam kategori kritis (CR, critically endangered). Pada 1992 populasinya bahkan sempat dianggap punah di alam, atau mendekati situasi itu. Akan tetapi untunglah, survai-survai yang berikutnya mendapatkan keberadaan sebuah populasi kecil tak-berbiak di alam di Thailand (beberapa ekor saja, tersebar di beberapa tempat), sebuah populasi kecil di Vietnam (kurang dari 100 individu), sementara –yang menggembirakan– beberapa populasi yang lebih besar dijumpai di Kamboja (total hingga sekitar 4000 individu) dan Laos, di sekitar aliran Sungai Mekong. Pada Maret 2005, para konservasionis mendapatkan sebuah sarang berisi bayi-bayi buaya Siam di Provinsi Savannakhet, Laos bagian selatan. Dari Malaysia dan Indonesia, sayangnya, tak ada data yang baru. Menurut perhitungan sekarang, total populasinya di alam diperkirakan kurang dari 5.000 ekor. Di penangkaran, sebagian individu buaya Siam adalah merupakan hibridisasi dengan buaya muara, di samping beberapa ribu ekor yang masih asli yang dipelihara pada berbagai tempat penangkaran, terutama di Thailand dan Kamboja. Buaya Siam telah dilindungi oleh undang-undang negara Republik Indonesia.

perburuan komersil di era pertengahan abad ke 20 adalah penyebab utama kelangkaan species buaya siam ini. sementara ancaman yang masih berlangsung saat ini masih berupa perburuan liar dan pncurian telur buaya siam, perusakan dan degradasi habitat dan penenggelaman di area pemancingan. di Kambodja, sungai-sungai habitat alami dari buaya siam dijadikan bendungan hidroelektrik yang mengganggu keberadaa buaya- buaya tersebut, kegiatan konstruksi bendungan ini juga merusak sebagian besar sarang buaya dimana telur-terlurnya diletakan. keberadaan bendungan ini juga menarik pemburu untuk mencuri dan menangkap buaya-buaya dan telurnya yang sudah semakin langka. di Vietnam, lebih dari 19 ekor buaya siam kebun binatang Cat Tien diburu dan digunakan sepenunya untuk bahan pangan warga lokal pada tahun 2001 sampai 2012.

Sebagian besar usaha konservasi untuk buaya siam sudah dimulai 1 dekade yang lalu dan dilakukan lagi secara lebih intensif belakangan. Sebagian besar tindakan konservasi dilakukan di kambodja jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki species buaya siam ini. Program konservasi yang dilakukan berupa survey habitat secara extensif dan program perlindungan jangka panjang oleh pemerintah Kambodja bidang perhutanan dan administrasi flora dan fauna internasional yang didukung oleh pelindung dan pengawan breeding site, patroli satwa dan inisiatif konservasi berbasis komunitas yang berhasil menurunkan angka perburuan liar secara drastis sejak tahun 2001. Lokasi aman tambahan dibangun pada tahun 2012 pada kambodja utara.

Di Indonesia sendiri, tindakan untuk konservasi species buaya siam ini masih sangatlah minim. Sudah ditetapkan Undang-undang spesifik untuk perlindungan Buaya siam ini, namun tindakan perlindungan ini jika dibandingkan dengan yang di Kambodja sangatlah kurang intensif dan eksrensif, karena jika terjadi pelanggaran hukum tersebut, masalah belum ditangani 100% dan kerusakan yang terjadi tidak bisa direstorasi kembali seperti apa adanya. Disinilah Personal action planku dimulai, dengan mengajukan ide untuk melakukan tindakan konservasi dan perlindungan yang paling tidak setara dengan apa yang sudah dilakukan di Kambodja. menyediakan tempat penangkaran yang jauh lebih aman untuk para buaya siam ini agar dapat bereproduksi, tumbuh dan berkembang dan kemudian dapat dilepas kembali ke alam untuk menstabilkan kondisi buaya-buaya yang sudah terbilang langka ini. untuk perlindungan habitat asli buaya siam, perlu juga disiapkan field rangers untuk patroli dan pengamanan dari pemburu liar dan penangkapan tak berlisensi. Untuk tempat tempat yang terlanjur rusak mungkin masih bisa diperbaiki untuk perluasan habitat alami yang sudah hilang. Untuk habitat alami yang sudah digunakan oleh masyarakat entah untuk permukiman ataupun pabri industri dan keperluan lain sudah tidak bisa diklaim kembali, dan perlu digantikan dengan area baru yang tidak terpakai yang masih dapat disesuaikan ulang sesuai kebutuhan hidup buaya siam ini. bagai mana pendapat kalian tentang personal action plan yang kubuat untuk konservasi buaya siam di indonesia? beri komentar dan pendapat kalian ya…


8 responses to “Personal Action Plan”

  1. cindyyongkp says:

    aksi konservasi sudah memberikan capaian yang baik. saya sangat membaca artikel ini

  2. paulinenathania says:

    Sudah baik sekali mengenai Buaya Siam ini, tapi masih penasaran apakah ada undang-undang terkait yang melindungi spesies ini.
    Juga sebenarnya agak penasaran juga kenapa kita harus melestarikan buaya jenis ini kalau masih ada buaya jenis lain.

    Tapi Semuanya baik kok isinya, semoga Rencana kedepan bisa terlaksana 🙂

  3. Christy Jacub says:

    Artikelnya udah bagus, cukup runut, dan lengkap. Tapi format paragrafnya masih kurang (paragraf 2 harusnya bisa diedit aja dan digabung dengan paragraf 1; rata kanan kiri pada pragraf mungkin bisa diterapkan). action plannya bagus dan detail tapi gak mencantumkan kapan akan dilakukan dan mungkin bs dimuali bergandengan dengan organisasi tertentu ataupun stakeholder tertentu.

  4. ferry says:

    Buaya siam juga merupakan predator penyeimbang ekosistem di perairan, apabila terjadi kepunahan maka akan menyebabkan rusaknya ekosistem diperairan, Langkah konservasi yang dilakukan simpel dan cukup menarik, sehingga langkah yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php