Vicario Absalom Abbas

Keep Protect Me, Please!

Posted: December 5th 2015

Apa yang ada didalam benak ada saat melihat gambar spesies yang satu ini? ya spesies yang satu ini adalah burung cenderawasih dengan nama latin Paradisaea apoda.  Burung Cendrawasih (Paradisaea apoda) merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi oleh pemerintah, berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 dan dipertegas dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts- II/1992, karena adanya dugaan bahwa populasi satwa burung ini mengalami penurunan secara terus menerus atau terancam bahaya kepunahan, akibat pengrusakan habitat atau perburuan liar. Ditinjau dari tingkat kelangkaannya, sesuai dengan kategori yang digunakan oleh IUCN RedList, burung Cendrawasih (Paradisaea apoda) termasuk kategori 2, yaitu satwa yang populasinya jarang atau terbatas dan mempunyai resiko punah (Restricted/Rare). Oleh karena itu, burung Cendrawasih harus tetap dilindungi dan dijaga keberadaannya agar tidak sampai mengalami penurunan dalam populasinya atau terhindar dari ancaman bahaya kepunahan.

Usaha konservasi mahluk hidup menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah konservasi berbasis spesies. Spesies adalah sekelompok individu yang berpotensi untuk bereproduksi dalam satu kelompok dan tidak mampu bereproduksi dengan kelompok lain (definisi secara biologis). Definisi lain spesies adalah sekelompok individu yang mempunyai karakter morfologi, fisiologi atau biokimia berbeda dengan kelompok lain (definisi secara morfologis).

Dalam tulisan saya kali ini, saya akan mencoba sharing atau berbagi beberapa informasi kepada teman-teman mengenai spesies yang akan saya bahas yaitu burung cenderawasih (Paradisaea apoda) dan action plan yang akan dilakukan :).

Kita pasti setuju bahwa Hutan merupakan sumberdaya alam yang menyimpan banyak manfaat bagi manusia, hutan sering juga dikenal dengan istilah “emas hijau”. Hal ini mengandung arti bahwa di dalam hutan terkandung kekayaan, yang berupa kayu dan hasil hutan lainnya atau terdapat beraneka ragam jenis flora dan fauna yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Fungsi hutan yang berkaitan dengan konservasi plasma nutfah baik flora maupun fauna serta perlindungan kesuburan tanah, tata air perlu tetap diperhatikan agar dapat menciptakan lingkungan hidup yang sehat dan serasi bagi manusia itu sendiri.

Pembukaan wilayah hutan untuk berbagai keperluan seperti pemukiman, pertanian, perkebunan, eksploitasi hutan dan keperluan lainnya, menyebabkan luas hutan makin berkurang, serta flora dan fauna di dalamnya juga mengalami gangguan. Pengaruh pemanfaatan hutan terhadap komunitas satwa liar terjadi, dengan adanya gangguan terhadap habitat dan bahkan terjadi kehilangan habitat satwa. Ruang gerak satwa makin sempit dan kehilangan sumber pakan, dengan kata lain aktivitas satwa dapat terganggu baik makan, istirahat maupun aktivitas lainnya. Hal ini dapat menyebabkan keseimbangannya terganggu dan ketika situasi ini terus berlangsung maka bukan tidak mungkin, jumlah satwa di alam berkurang dan dapat menjadi ancaman bahaya kepunahan spesies. Kondisi ini diperparah dengan semakin tingginya perdagangan satwa dan perburuan luas.

Berdasarkan penelitian Latupapua (2006), bahwa Burung Cendrawasih (Paradisaea apoda) yang terdapat di Kepulauan Aru merupakan salah satu jenis dari 43 jenis burung Cendrawasih yang hidup di dunia, dan merupakan jenis yang endemik di Kepulauan Aru karena tidak ditemukan di daerah lain di Maluku. Burung Cendrawasih yang ditemukan di Kepulauan Aru khususnya pada lokasi penelitian Tunguwatu dan Jabulenga, adalah sebagai berikut :

cendarawasih

Gambar 1. Cendrawasih jantan dan betina yang terdapat dipulau Aru, Maluku.

Pulau Aru yang terletak dalam gugusan Kepulauan Maluku memiliki potensi fauna yang cukup besar, salah satu potensi berharga adalah burung Cendrawasih (Paradisaea apoda), yang khas dan dikenal sebagai burung yang dilindungi, serta beberapa jenis burung lain dan satwa liar lainnya. Jenis ini merupakan jenis satwa burung yang diminati karena memiliki bulu yang indah dan warna yang mencolok. Jenis ini hidup di daratan rendah di Irian dan Maluku, khususnya di Kepulauan Aru. Habitat burung Cendrawasih di Irian dan Pulau Aru hampir sama.

Menurut Latupapua (2006), hasil analisis menunjukan estimasi populasi Cendrawasih adalah sekitar 6.722 ekor dengan densitas 6,7 ekor/km2. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa populasi dan kepadatan burung Cendrawasih di Kepulauan Aru terutama pada Tunguwatu dan Jabulenga relatif kecil. Hal ini disebabkan karena walaupun vegetasi penyedia sumber pakan ataupun tempat untuk bersarang, beristirahat/bertengger dan tempat untuk berkembangbiak/kawin masih cukup tersedia, tetapi karena jenis burung Cendrawasih merupakan jenis burung dengan bulu-bulu yang indah dan terkenal dengan julukan sebagai “burung surga” terutama Cendrawasih jantan dan sering di cari oleh orang-orang tertentu untuk diperdagangkan, baik untuk dipelihara ataupun diawetkan untuk dijadikan sebagai cinderamata, akibatnya penduduk sekitar mulai berburu Cendrawasih untuk dijual dengan harga tertentu dan biasanya sekitar Rp 100.000,- untuk Cendrawasih yang telah mati sedangkan untuk yang masih hidup lebih dari harga tersebut. Akibatnya populasi burung Cendrawasih yang merupakan salah satu jenis endemik di Aru mulai berkurang keberadaannya.

Berbagai upaya untuk perlindungan dan penyelamatan satwa ini diperlukan agar dapat dicari langkah-langkah yang tepat untuk mengantisipasi penurunan jumlah satwa ini di alam. Untuk itu diperlukan penelitian-penelitian yang lebih mendalam tentang potensi dan habitat satwa ini sehingga dapat dipakai sebagai acuan untuk berbagai langkah pengelolaannya di waktu-waktu mendatang.

Setelah mengetahui ancaman kepunahan terhadap spesies ini, rencana konservasi yang akan saya lakukan adalah mencari informasi lebih jauh lagi mengenai spesies burung cendrawasih ini dan mengumpulkan beberapa data mengenai spesies ini baik data primer maupun sekunder. Untuk melengkapi data primer perlu untuk diketahui data sekunder. Data sekunder ini berupa: keadaan umum wilayah penelitian, Peta lokasi tersebut dan keadaan sosial ekonomi masyarakat (kependudukan, mata pencaharian) setelah itu baru akan didapatkan data primer berupa populasi dari burung cendrawasih dan data vegetasi, sehingga dari rencana konservasi ini tidak terjadi lagi eksploitasi terhadap spesies ini. hasil yang didapatkan nanti akan saya umumkan kepada pemerintah setempat sehingga dapat disampaikan kepada pemerintah pusat dan spesies tersebut dapat dilestarikan, dan harapan saya adalah konservasi burung dapat dilakukan secara in-situ (di dalam habitat alaminya); seperti melalui perlindungan jenis, pembinaan habitat dan populasi; dan secara ex-situ (di luar habitat alaminya), salah satu diantaranya melalui penangkaran.

Referensi

Latupapua, L. 2006. Kelimpahan dan Sebaran Burung Cendrawasih (Paradisaea apoda) Dipulau Aru Kabupaten Kepulauan Aru Propinsi Maluku. Jurnal Agroforesti 1(3) :41-49.


5 responses to “Keep Protect Me, Please!”

  1. martha24 says:

    Artikel yang sangat menarik 🙂 saya sangat senang dengan burung cendrawasih dan ternyata seperti yang telah anda paparkan burung tersebut terancam punah. Saya setuju jika kita melakukan konservasi untuk mencegah kepuahan burung cendrawasih yang ternyata dapat dilakukan secara in-situ dan juga ex-situ. Trima kasih buat informasinya. Salam konservasi !!!

  2. Cindy Natalia says:

    Terima kasih vicario atas informasi yang diberikan. Saya rasa informasi ini perlu diinformasikan pada masyarakat umum terutama untuk masyarakat setempat untuk terlibat dalam menjaga kelestarian spesies tersebut dan turut serta melakukan pengawasan untuk menghindari terjadinya perdagangan liar. Selain itu, perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah.

  3. Natalia Rizki Prabaningtyas says:

    cantik banget burung cendrawasih ya 🙂 pentingnya kesadaran masyarakat untuk tetap melihat keindahan dan kelestraian itu masih sangat kurang. saya dukung upaya konservasi burung-burung endemik di Indonesia! informasi yang sangat menarik 😀

  4. Robert Fernando says:

    Pendataan tersebut pastinya sudah dilakukan oleh pemerintah lewat BKSDA setempat, menurut saya hal utama yang perlu ditekankan saat ini adalah kepedulian masyarakat setempat untuk melestarikan burung tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan sosialisasi yang berkala dan memberikan peran pada masyarkat akan sangat efektif dalam pelestariannya terutama secara insitu

  5. ayutiya95 says:

    Artikel yang bagus Rio, mungkin alangkah lebih baik lagi apabila rencana konservasi dapat dikembangkan lebih lagi. Semoga burung Cendrawasih tetap terjaga keberadaannya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php