Vicario Absalom Abbas

Cendana? The Plants Of Perfumed

Posted: September 9th 2015

3046258_20140428042336

Dialam ini khususnya indonesia mempunyai banyak tumbuhan yang luar biasa, Tuhan menciptakan bumi dengan ragam mahkluk yang hidup didalamnya salah satunya adalah tumbuhan cendana. Mungkin dari kita belum banyak yang tahu mengenai tumbuhan yang satu ini. Cendana (Santalum album Linn) merupakan sumberdaya alam hayati yang memiliki kandungan santalol, yaitu bahan aromatik bernilai ekonomi tinggi untuk berbagai penggunaanya bagi manusia. Permintaan minyak cendana yang tinggi mendorong eksploitasi melebihi kapasitas lestarinya, sehingga pemulihannya memerlukan partisipasi semua pihak, terutama masyarakat. Dalam tulisan saya kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang konservasi cendana agar tanaman tersebut dapat dilestarikan kembali .Tetapi sebelum itu saya akan membahas sedikit tentang tumbuhan cendana itu sendiri. Check it out:)

bunga-cendana-santalum-album1

Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom   : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi                : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas                 : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas         : Rosidae

Ordo                 : Santales

Famili               : Santalaceae

Genus               : Santalum

Spesies              : Santalum album

Tanaman ini berupa pohon, tinggi antara 12 dan 15 meter yang selalu hijau dengan batang yang lurus dan bulat tanpa alur. Batang dilapisi kulit yang kasar, berwarna kelabu atau coklat tua. Kayunya berwarna putih kekuningan dan berbau harum jika kering (tua). Daun berbentuk oval atau lanset dan berminyak, dengan panjang sekitar 3,25 – 7,50 cm serta mudah gugur. Tangkai daun 1  – 1,5 cm, berwarna kekuningan. Kadar minyak yang lebih tinggi terdapat pada bagian kayu teras, namun kadar santalolnya lebih rendah. Tanaman tersebut berbunga cepat. Rangkaian bunga pendek (2 – 5 cm). Bunganya kecil, bertangkai pendek (2 – 3 mm), hermafrodit, dan berbentuk tabung yang mempunyai empat sampai lima lidah yang terlepas satu dengan lainnya. Mula-mula bunga berwarna putih kecoklatan kemudian berubah menjadi merah darah.. Pada umur 3 – 4 tahun, mulai berbuah. Buahnya bulat berbiji satu, sebesar buah kepundung dan berwarna hitam jika telah masak.

Tanaman cendana merupakan komoditi yang potensial bagi perekonomian. Nilai ekonomi yang tinggi dari cendana dihasilkan dari kandungan minyak (santalo) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Minyak cendana dihasilkan dari hasil penyulingan kayu, dan digunakan sebagai bahan obat-obatan dan bahan minyak wangi (parfum). Kayunya dipergunakan sebagai bahan industri kerajinan seperti ukir-­ukiran, patung, kipas, tasbih, dan lain-lain.

cendana

Gambar 1. Eksploitasi Cendana Sebagai Kipas

Minyak cendana banyak diekspor ke Eropa, Amerika, China, Hongkong, Korea, Taiwan dan Jepang. Sedangkan produk kerajinan dari kayu cendana banyak untuk konsumsi dalam negeri. Kebutuhan minyak cendana dunia sekitar 200 ton per tahun.

mustika-ratu-minyak-cendana

Gambar 2. Eksploitasi Kayu Cendana Oleh Perusahaan Industri Sebagai minyak

Tanaman cendana dapat diserang oleh hama atau penyakit, misalnya penyakit bulir atau “spike disease” yang disebabkan oleh sejenis mikroplasma yang banyak dijumpai di India, dengan tanda tanaman tumbuh kerdil dan menguning. Penyakit lainnya ialah reetdauw (sooty mold), berupa bercak hitam akibat jemur yang tumbuh di atas daun. Selain karena jamur, tanaman cendana sering juga rusak oleh serangga dan tikus. Serangga yang sering menyerang cendana diantaranya ialah Zeuzeura ceffea sejenis kupu-kupu yang menggerek ranting muda. Chionapsis sp dan walang kayu (Valanga nigricornis zehntneri Kraus) serta kumbang moncong.

Di pulau Timor, dikenal dua macam varietas tanaman cendana yaitu varietas cendana berdaun kecil (no menutu, no ana) dan berdaun lebar (nonaik). Masing-masing termasuk varietas longifolia dan langifolia. Pada satu pohon sering terdapat bermacam-macam bentuk dan ukuran daun.

Melalui berbagai ragam potensi pemanfaatan, peningkatan permintaan minyak cendana di pasar internasional terdorong sejak tahun 1800 di USA. Potensi pemanfaatannya yang tinggi menyebabkan spesies Santalum album Linn dikategorikan sebagai spesies yang prestisius dengan kandungan á-santalol berkisar antara 8,7-25,2% dan â-santalol berkisar antara 7,1-48,6%. Kandungan santalol sebagai bahan aromatik bernilai ekonomi tinggi menarik dan meningkatkan permintaan dunia internasional, sehingga transaksi ekonominya dinyatakan dalam satuan kilogram (kg).

Perdagangan cendana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dimulai sejak tahun 1436 dengan produksi kayu cendana tahun 1910-1916 mencapai 14.674 pikul yang setara dengan 917.125 kg, produksi tertinggi mencapai 2.458.594 kg. Kontribusi produksi kayu cendana terhadap pendapatan daerah (PAD) NTT rata-rata mencapai 38,26% pada tahun 1989/1990- 1993/1994 dan 12,17% pada tahun 1995/1996-1999/2000.

Capture333

Gambar 3. Dinamika Produksi Cendana (kg) di NTT

Penurunan kontribusi cendana disebabkan oleh deviasi antara tindakan eksploitasi dan upaya pelestariannya, sehingga lembaga International Union for Conservation of Natural Resource (IUCN) memasukkan Santalum album Linn dalam kategori vulnerable (hampir punah) atau Appendix II oleh CITES. Status vulnerable disebabkan oleh regulasi pengelolaan cendana yang tidak berkeadilan karena sejak sebelum penjajahan, zaman Portugis dan VOC, zaman pemerintahan Hindia Belanda, serta zaman orde lama dan orde baru berorientasi pada eksploitasidan dimanfaatkan sebagai alat kontrol negara terhadap masyarakat. Episentrum konflik terletak pada status penguasaan cendana di lahan rakyat oleh negara (Pemda), terutama zaman orde baru yang merupakan zaman krusial bagi populasi cendana karena: (a) tindakan eksploitasi dilakukan secara massive, sehingga menyebabkan cendana berada dalam kategori hampir punah dan (b) intervensi penguasa mengabaikan kepentingan dalam eksistensi masyarakat dan kepemilikannya terhadap cendana, serta menggunakan instrumen kebijakan sebagai alat kontrol dalam melakukan penaklukan sosial untuk menguasai cendana milik rakyat.

Akumulasi dua faktor tersebut menjadi benih ketidakpuasan dan trauma masyarakat, sehingga secara kolektif melahirkan trio-stigma yang menempatkan cendana sebagai hau plenat (kayu yang membawa perkara), hau nitu (kayu setan) dan hau lassi (kayu yang dikuasai pemerintah). Kondisi cendana dengan status vulnerable telah menyadarkan dan mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam pengelolaan cendana dari state based management ke community based management. Implikasinya adalah mencabut peraturan daerah yang menjadi sumber konflik, dan mengembalikan pengelolaan cendana kepada masyarakat melalui peraturan daerah di setiap kabupaten. Salah satu peluang untuk menyelamatkan populasi cendana adalah peran serta masyarakat dalam memeliharanya. Pekarangan, hutan rakyat, dan hutan keluarga atau dalam istilah masyarakat dikenal sebagai sistem Kaliwu memiliki sebaran cukup luas, pengelolaan menetap dan berkelanjutan, serta berbagai jenis tanaman yang bermanfaat seperti cendana yang telah terdomestikasi dari tumbuhan liar ke dalam lingkungan budidaya.

Peran serta masyarakat dalam pelestarian cendana dapat ditingkatkan melalui ketersediaan data dan informasi sebaran ekologis dan sebaran administratif sistem Kaliwu sebagai unit-unit pelestarian cendana berbasis masyarakat. Data dan informasi tersebut sangat diperlukan dalam rangka mendukung perencanaan pengelolaan dan pengembangannya pada setiap desa oleh pemerintah daerah. Selanjutnya dukungan regulasi atau kebijakan dari pemerintah daerah sebagai payung hukum perlu diikuti untuk menerapkan strategi agresif dalam memfasilitasi lalu lintas akses sumberdaya yang memungkinkan akselerasi sinergi antara masyarakat, instansi pemerintah, serta pihak swasta dalam pemanfaatan dan pengembangan cendana berbasis masyarat.

Kiranya apa yang sudah dibaca boleh bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan Terima Kasih 🙂

Sumber :

Irham., Marsono. D., Njurumana. G. N., dan Sadono. R. 2013. Konservasi Cendana (Santalum album Linn) Berbasis Masyarakat Pada Sistem Kaliwu Di Pulau Sumba. Jurnal Ilmu Lingkungan 11 (2) 51-61.


7 responses to “Cendana? The Plants Of Perfumed”

  1. marshalino says:

    hmmm jadi gt ya… semoga pemerintah dapat memberdayakan kayu cendana dengan bijak.. tidak hanya ditebang dan digunakan namun dibudidayakan juga..

  2. Neil says:

    Cendana, tanaman yang memiliki banyak kegunaan.
    Tetapi apabila cendana ini banyak dibudidayakan untuk diambil manfaatnya bukannya seharusnya tanaman ini baik-baik saja? (Meskipun mungkin tanaman ini hanya banyak terdapat di kebun-kebun perusahaan)
    Gagal Paham Ane Gan…..

    • Vicario Absalom Abbas says:

      Iya memang benar baik-baik saja tetapi artinya kan tanaman ini udah hampir punah jadi semakin dibudidayakan akan semakin banyak pula bibit-bibit yang dihasilkan sehingga tanaman ini tetap lestari. kalaupun digunakan itu hanya seperlunya saja. mungkin itu jawaban yang bisa saya berikan

  3. clararequinta says:

    tetap lestarikan tumbuhan cendana ini guys, agar indonesia bisa menjadi pemasok bahan parfum terbaik di dunia 😀

  4. destri says:

    Pelestarian Cendana memang perlu dilakukan, mengingat banyaknya manfaat dari pohon Cendana bagi masyarakat sehingga erekonomian masyarakat dapat meningkat apabila memanfaatkan pohon Cendana ini dengan baik. Dengan adanya usaha konservasi sperti pemeliharaan di pekarangan rumah, atau hutan rakyat sehingga eksistensinya tetap terjaga.

  5. Viera says:

    Dengan status yang vurnerable , mengingatkan kita agar pencegahan kepunahan pohon cendana harus dimulai sedini mungkin. Artikel yang bagus. Goodjob rio!

  6. martha24 says:

    Informasi yang menarik dan bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php