TOSY

Action plan untuk Pongo abelii

Posted: December 6th 2014

Orangutan merupakan satwa arboreal yaitu hewan yang hampir seluruh aktivitas hidupnya dilakukan di atas pohon. Mereka bergerak dengan keempat tangannya (quadramanous clambering) karena kakinya berfungsi layaknya tangan. Orangutan bergerak dari satu pohon ke pohon dengan cara berayun – ayun.

orangutan sumatra_orangutanfoundation

Pongo abelli  merupakan salah satu hewan endemik Sumatera Utara. Pongo abelli berbeda dengan orangutan Kalimantan, Pongo abelli memiliki warna bulu lebih coklat kemerahan dan jantan dewasa memiliki kantung pipi yang panjang dan panjang tubuh berkisar 1,25 – 1,5 m. Berat orangutan dewasa betina berkisar 30 – 50 kg, sedangkan orangutan jantan berkisar 50 – 90 kg. Jantan dewasa lebih penyendiri dibandingkan dengan para betina dewasa yang sering dijumpai bersama anaknya. Orangutan Sumatera betina mulai bereproduksi pada usia 10 – 11 tahun, dengan rata – rata usia reproduksi sekitar 15 tahun. Umumnya Orangutan memiliki anak setiap 8 atau 9 tahun. Anak orangutan yang telah berumur 3,5 tahun berangsur – angsur akan hidup independen tanpa induknya. Umumnya orangutan memakan dedaunan, liana, tunas palem, serangga (semut dan rayap) dan terkadang kulit kayu, di Sumatera orangutan juga memakan daging yaitu daging hewan malam seperti kukang (Nycticebus coucang)

sumatran-orangutans_6779_600x450

Menurut IUCN (2002), Pongo abelii termasuk kategori satwa yang kritis terancam punah (Critically Endangered) secara global (Kuswanda dan Pudyatmoko, 2012). Menurut Nasution dkk (2013),  ancaman – ancaman terhadap populasi Orangutan Sumatera, yaitu:

1. Hilangnya habitat alami. Hutan di konversi menjadi lahan pengembangan tanaman budidaya, co: lahan perkebunan kelapa sawit, lahan pertanian, dan pertambangan

2. Perburuan. Menurunnya ketersediaan pakan di habitat alaminya, menyebabkan spesies ini kerap kali keluar dari habitat alaminya dan masuk ke perkebunan warga untuk mencari makan sehingga dianggap hama oleh penduduk sekitar, dan untuk diperdagangkan.

3. Kebakaran hutan, dapat disebabkan oleh pihak – pihak tertentu untuk pengkonversian hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

4. Pembalakan (legal dan illegal)

5. Penyakit

6. Pembangunan infrastruktur. Implikasi penerapan Undang – Undang otonomi daerah adalah pemekaran wilayah propinsi dan kabupaten yang berakibat pula pada perubahan tata ruang wilayah yang menjadi tekanan bagi habitat Orangutan. Co: pelebaran jalan

Action plan:

  1. Pembentukan Tim Penyelamat (Rangers)
  2. Melakukan pendataan tentang jumlah populasi, habitat, jenis makanan, masa reproduksi, dan ancaman.
  3. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, LSM, dan pemerintah setempat, mengenai peran penting orangutan di lingkungan, status konservasi, keadaan habitat, dan kendala – kendala dalam konservasi.
  4. Menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat dan lembaga – lembaga yang bergerak di bidang konservasi khususnya konservasi Orangutan.
  5. Reboisasi habitat Orangutan yang rusak (mengembalikan ketersediaan makanan dan tempat tinggal orangutan)
  6. Melakukan razia dan pembebasan orangutan yang tertangkap
  7. Dilakukannya Rehabilitasi dan Penampungan orangutan dan bayi orangutan. Tempat penampungan dan rehabiltasi dibuat terbuka dan menyerupai habitat asli
  8. Melakukan pelatihan terhadap anak – anak orangutan. Dalam pelatihan ini anak – anak orangutan dididik sama seperti dididik oleh induk aslinya dalam berperilaku, agar instingnya sebagai hewan tidak hilang dan setelah dilepas ke alam, orangutan mampu survival di alam.
  9. Setelah di rehabilitasi, orangutan akan dilepas di hutan atau lahan yang telah di persiapkan (lahan yang memiliki ketersediaan bahan makanan)
  10. Pemantauan dilakukan secara berkala setiap 1 kali seminggu selama 6 bulan, dan setelah 6 bulan pemantauan akan dikurangi menjadi sebulan sekali.
  11. Dilakukannya pengawasan dan perlindungan terhadap lahan atau habitat pelepasan orangutan dan perluasan lahan untuk konservasi.

DAFTAR PUSTAKA

Kuswanda, W., dan Pudyatmoko, S. 2012. Seleksi Tipe Habitat Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) Di Cagar Alam Sipirok, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol 9 (1): 85 – 98.

Nasution, I. T., Fahrimal, Y., dan Hasan, M. 2013. Identifikasi Parasit Nematoda Gastrointestinal Orangutan Sumatera(Pongo abelii) di Karantina Batu Mbelin, Sibolangit Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Medika Veterinaria. Vol.7 (2): 67 – 70.


6 responses to “Action plan untuk Pongo abelii”

  1. jerry9212 says:

    sangat memprihatinkan yaa.. dari beberapa action plan di atas, apakah sudah ada yang mulai diterapkan di indonesia?

  2. imanuel bahy says:

    informasi yang menarik adelia :), sudah saatnya kita lebih peka dengan apa yang terjadi disekitar kita. mari selamatkan orang utan, aksi sekecil apapun pasti bermanfaat bagi mereka.

  3. anggi21 says:

    Rencana penyelamatan yang sangat bagus..
    Namun, karena telah disebutkan akan melakukan kerja sama dengan pemerintah mengenai sosialisasi, ada baiknya dilakukan kerja sama juga dalam hal melindungi habitat aslinya dengan melarang pembalakan hutan secara besar-besar terkait akan penambangan dan pembuatan perkebunan karena dengan penebangan pohon-pohon ini secara langsung jg akan menyebabkan kepunahan orangutan karena tidak adanya makanan 😀

  4. Sainawal Tity says:

    nice plan !
    saya menyarankan diadakannya campaign anti korupsi, karena korupsi juga adalah salah satu akar rusaknya hutan kita. korupsi dan konservasi adalah dua hal yang sangat penting. hal ini berkaitan dengan politik lingkungan di negara kita
    thanks 🙂

  5. ancilla says:

    Action plan yang bagus kak Tosi.. mungkin bisa ditambah dilakukannya penyuluhan ke masyarakat mengenai keberadaan orang utan ini atau dilakukan pertunjukkan orang utan di hadapan masyarakat (mirip pertunjukkan binatang yang biasanya dilakukan di kebun binatang). Tentu sebelumnya orang utan dilatih terlebih dahulu tapi. Dengan adanya pertunjukkan yang ditampilkan orang utan, pasti dapat menarik masyarakat untuk semakin peduli terhadap orang utan kak… 😀

  6. catherinekath says:

    Tapi Tossi, terkait personal action plan, bagaimana rencana pribadi kamu untuk mendukung program konservasi Pongo abelii ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php