Tessa Ayu Pitaloka

Tumbuhan dengan Julukan Abadi

Posted: November 1st 2016

Edelweis Jawa atau Bunga Senduro (Anaphalis javanica) sering disebut sebagai bunga abadi oleh banyak orang. Mengapa demikian? Ternyata bunga ini ketika mengering warna dan bentuknya tidak banyak mengalami perubahan. Dalam keadaan segar daun Edelweis memiliki warna hijau abu-abu muda karena pada bagian daunnya tertutup bulu-bulu seperti wol dan ketika bunga ini mengering warnanya menjadi gelap karena mesofil yang terdegradasi (Van Steenis, 1978).

fendi13Edelweis di Gunung Semeru (Sumber : http://phinemo.com/)

Anaphalis javanica tergolong dalam marga Compositae. Bunga Edelweis berkembang  di atas dasar bunga yang rata dan memiliki warna keemasan. Kepala sari dari bunga ini membentuk tabung yang berkumpul menjadi satu pada satu wadah (van Leeuwen, 1933). Bentuk daunnya linier, lancip, berbulu, memiliki panjang 4-6 cm dan lebar 0,5 cm (van Steenis, 1978).  Hidup dari tumbuhan ini sangat bergantung pada cahaya matahari, oleh karena itu Edelweis dapat tumbuh pada wilayah perbatasan antara hutan dan daerah terbuka (van Steenis, 1978). Edelweis dapat tetap tumbuh berkelompok pada tanah yang miskin hara. Hal itu dapat terjadi karena akar dari Edelweis dapat bersimbiosis dengan cendawan tertentu membentuk mikoriza yang membantu Edelweiss mencari unsur hara (van Leeuwen, 1933).

Banyak orang yang menyoroti keindahan tumbuhan ini namun sedikit dari mereka yang memahami peran ekologis dari Edelweis. Bunga Edelweis merupakan sumber makanan bagi beberapa serangga, yaitu serangga dari ordo Hemiptera, Thysanoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Tak hanya untuk serangga, kulit batangnya yang bercelah dan mengandung banyak air berguna sebagai tempat tinggal beberapa jenis lumut dan lichen, diantaranya adalah Cladinia calycantha dan Cetraria sanguinea. Selain itu burung-burung juga mencicipi manisnya kebaikan dari Edelweis. Oleh karena Edelweis memiliki ranting yang rapat maka burung Murai (Turdus sp) berdatangan untuk membangun sarang tempat tinggal mereka (van Leeuwen, 1933). Edelweis juga memiliki peran untuk manusia, salah satunya pada bidang kesehatan. Untuk masalah kesehatan Edelweis sering digunakan untuk pengobatan tradisional seperti mengobati sakit perut dan pernafasaan termasuk difteri dan tuberculosis (Retno, 2016).

Tumbuhan yang sempat menjadi ikon dalam perangko Indonesia ini dapat dijumpai pada ketinggian antara 1600 sampai 3600 mdpl. van Leeuwen (1933) mengatakan bahwa tumbuhan ini dapat dijumpai di Gunung Sumbing, G. Merbabu, G. Gede Pangrango, G. Ciremai, G. Lawu, G. Kawi, G. Arjuno, dan Dataran Tinggi Dieng. Selain itu menurut van Steenis (1978) Edelweis juga dapat ditemukan di pegunungan pulau Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Lombok.

flora-fauna-1 Edelweis Sebagai Ikon Perangko Indonesia

Habitatnya yang berada pada daerah pegunungan membuat tumbuhan ini dilekati oleh beberapa mitos. Banyak orang yang rela mendaki gunung untuk berjumpa dengan tumbuhan ini, namun terkadang hal tersebut disertai dengan perilaku tidak bertanggung jawab, memetik bunga ini untuk dibawa pulang contohnya. Edelweis dipetik karena mitos-mitos yang melekat pada dirinya. Orang-orang beranggapan bahwa Edelweis merupakan symbol cinta sejati dan keberanian karena untuk menjumpainya perlu menempuh perjalanan yang tidak mudah. Mitos-mitos itulah yang mengaburkan kelestarian dari Edelweis. Sebagai contoh Edelweis terlihat mendominasi puncak Gunung Gede Pangrango. Pada tahun 2012 sempat dilakukan pengukuran lapangan oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Gunung Pangrango (BBTNGP), hasil pengukuran tersebut menyatakan bahwa luas area tumbuhan Edelweis tumbuh di daerah Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede Pangrango adalah 51 Ha dan yang terindikasi mengalami degradasi adalah seluas 30 Ha (Retno, 2016).

suryakencana-gunung-gede-x             Edelweis pada Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede Pangrango (Sumber : http://blog.gogonesia.com/)

Jika degradasi yang terjadi tidak segera ditindaklanjuti maka dapat dipastikan bahwa tumbuhan ini akan mengalami kepunahan. Tumbuhan endemic zona subalpine ini ada dalam perlindungan peraturan pemerintah bidang kehutanan dan tergolong dalam tanaman langka pada katagori jarang (rere), yaitu jenis tanaman yang populasinya besar namun hanya terdapat secara lokal di suatu daerah saja, atau daerah penyebarannya luas tapi sudah jarang dijumpai karena mengalami erosi dan tekanan yang berat (Retno, 2016). Spesies ini belum terdaftar pada IUCN. Meskipun demkian kelestariannya harus tetap dijaga karena selain indah tumbuhan ini juga memiliki peran penting dalam segi ekologis. Tumbuhan ini juga telah mulai dibudidayakan oleh masyarakat sekitar, salah satunya dengan stek. Kiranya julukan abadi selalu melekat padanya.

 

 

REFERENSI

Aliadi, A. 1990. Kemungkinan Penangkaran Edelweis (Anaphalis javanica (Bl.) Boerl.) dengan Stek Batang. Media Konservasi 3(1):37-45.

Rahalus, M. 2015. Barcode DNA Edelweis (Anaphalis javanica) Berdasarkan Gen matK. Jurnal MIPA UNSRAT ONLINE 4(2): 131—136.

Retno, T. 2016. Ada Apa dengan Edelweiss???. http://www.gedepangrango.org/?s=edelweis&submit=Search. Diakses pada 1 November 2016.

Van Leeuwen, W. M. D. 1933. Biology of Plants and Animals Occuring in the Higher Parts of Mount Pangrango-Gede in West Java. Uitave van de N.V. Noord Hollandsche, Amsterdam.

Van Steenis, C.G.G.J. 1978. The Mountain Flora of Java. E.J.B. Leiden.


9 responses to “Tumbuhan dengan Julukan Abadi”

  1. Carolina Arum Permatasari says:

    wah, ternyata edelweis tidak hanya mempunyai peran yang penting di lingkungan, bagi manusia pun ada manfaatnya 🙂 terimakasih informasinya.

  2. saraprayitno says:

    Artikel yang sangat menarik. Alangkah baiknya bila keindahan dan peranan edeilweiss tetap terjaga. Semoga para penikmat edeilweiss dapat lebih bertanggung jawab dengan tidak memetiknya. Salam Lestari!

  3. jaya says:

    Informasi bioekologi sudah cukup lengkap dan baik, mungkin kekurangannya dari format tulisan yang tidak rapi, dan jenis font yang tidak sama. Semoga julukan abadi selalu melekat pada Edelweis Jawa

  4. donna says:

    Semoga dengan info ini, semua masyarakat terutama para pencinta pendaki gunung dapat sadar dan menjaga tumbuhan eldewis ini tanpamengambi, merusak, atau bahkan menginjak dengan sengaja. Kemudian dapat dipergunakan dengan bijaksana, karena sangat berperan dalam ekologi. terimakasih tessa infonnya :

  5. kevinisaac says:

    Informasi yang disampaikan sangat menarik dan memberi pengetahuan baru. Menarik juga karena mengkaji tentang tumbuhan yang langka dan unik dibandingkan dengan mengkaji hewan. Keseluruhan informasi tersampaikan dan sangat baik.

  6. jonbin8 says:

    Sangat menarik, artikel ini membantu saya untuk lebih mendalami mengenai Edelweis Jawa atau Bunga Senduro (Anaphalis javanica). semoga terus lestari, meskipun dengan mitos-mitos yang melekat pada Edelweis ini, karena dengan itulah ia dapat lestari.

  7. retnokenraras says:

    bunga yang indahh, dan aku baru tau kalo bunga ini dijadikan ikon dalam perangko Indonesia. terus aku mau sedikit tanya, kalo bunga ini belum terdaftar di iucn apakah bunga ini termasuk tumbuhan yang dilindungi di Indonesia?

  8. Irajumira says:

    terima kasih buat infomasinya,,. wah bunga yang cantik dan indah,… jadi ingin menanam sendiri.
    oh iya, mau tahu aja sebenarnya bunga ini itu termasuk tanaman yang dilindungi tidak ya ???

  9. retnawan says:

    postingannya sangat memberikan informasi kepada saya, saya baru tahu jika beberapa serangga termasuk Lepidoptera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php