Tessa Ayu Pitaloka

“Rimba Sirna, Akupun Memudar”

Posted: August 28th 2016

Tanpa kita sadari, Indonesia menjadi tuan rumah dari 13 jenis burung rangkong/julang/enggang dari 57 jenis yang ada di dunia, dan tiga diantaranya adalah endemik Indonesia. Julang sumba (Rhyticeros everetti sinonim: Aceros everetti) merupakan salah satu burung rangkong endemik Indonesia yang dapat ditemukan di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Rangkong termasuk dalam family Bucerotidae, warna bulunya dominan hitam dengan ukuran 70 cm, pada jantan memiliki kepala dan leher dengan warna merah karat, sedangkan betinanya memiliki kepala dan leher hitam (Kutilang Indonesia, 2013). Paruhnya besar berwarna kuning dan di lehernya terdapat kantung berwarna biru. Jika dibandingkan dengan jenis julang yang lain memang corak warna Julang Sumba tidak seindah yang lainnya, namun itu semua tidak menghilangkan karismanya ketika ia terbang dengan suara kepakan yang sangat kuat. Julang dapat terbang hingga 100.000 hektar (Rangkong Indonesia, 2016).

Daerah endemik Julang Sumba (Sumber : IUCN)

Daerah endemik Julang Sumba (Sumber : IUCN)

Burung ini memakan buah-buahan dan terkadang juga hewan-hewan kecil. Peran ekologisnya adalah sebagai penebar biji dari buah-buah yang telah ia makan, sehingga burung ini sangat berperan dalam menjaga kelestarian hutan. Itulah mengapa Julang Sumba dapat dijumpai di hutan dengan pohon-pohon besar dan bertajuk rapat, kebanyakan rangkong ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0-100 mdpl) dan pada daerah pegunungan (>1000 mdpl) sudah jarang ditemukan. Goanggali, begitulah masyarakat lokal memanggilnya, bersarang pada lubang pohon yang besar. Walaupun paruhnya tergolong besar dan cukup runcing ternyata rangkong tidak dapat melubangi sendiri pohon untuk tempat ia tinggal. Rangkong akan meninggali pohon yang telah memiliki lubang oleh karena ulah satwa lain yang dibarengi dengan proses pelapukan (Rangkong Indonesia, 2016). Julang Sumba dapat ditemui secara soliter atau berkelompok, masa berkembangbiaknya adalah pada bulan Oktober sampai November.

Julang-Sumba-Roland-Seitre-_-Dok.-Burung-Indonesia

Julang Sumba (Roland Seitre- Dok. Burung Indonesia)

Sayangnya burung ini termasuk dalam kategori rentan (vulnerable) dalam daftar merah IUCN. Di Indonesia sendiri, seluruh jenis rangkong telah dilindungi Undang-Undang melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa Dilindungi, dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa (Nur, 2013). Hal yang menjadi ancaman utama untuk keberadaan satwa ini adalah semakin berkurangnya habitat tempat ia tinggal, yaitu hutan. Penebangan hutan yang akan digunakan untuk budidaya serta terjadinya kebakaran hutan karena iklim yang kering menjadi penyebab utama luas hutan kian menyempit.

Jika kita melihat kembali fungsi ekologis dari burung ini sebenarnya ia merupakan pemeran utama dari kelestarian hutan. Kemampuannya menebar biji dengan baik sangat membantu kelestarian hutan dan juga manusia. Rasanya jasa yang telah ia berikan disalah gunakan dengan manisnya oleh manusia.  Telah diberitakan pada tahun 2009 bahwa luas hutan primer di Nusa Tenggara Timur hanya tersisa 4,5% dari keseluruhan daratan, padahal pada tahun 1927 wilayah ini mencapai 55% (Mongabay Indonesia, 2013). Ketika luas hutan semakin berkurang maka populasi Julang Sumba akan semakin berkurang juga. Kedua hal ini saling terkait dan akan menimbulkan dampak yang buruk ketika keseimbangan telah hilang. Sangat sulit untuk memperkirakan jumlah populasi mereka pada saat ini. Menurut Burung Indonesia (2011), jumlah dari populasi burung ini kurang dari 4000.

Julang Sumba Jantan_BI_Lars-Petersson-Burung Indonesia

Julang Sumba Jantan (BI Lars-Petersson)

Pulau Sumba sendiri merupakan salah satu dari 23 Daerah Burung Endemik di Indonesia. Salah satu wilayah yang memiliki populasi Julang Sumba terbesar adalah kawasan (TNMT) yang termasuk dalam Daerah Penting bagi Burung (DPB) (Mongabay Indonesia, 2013). Usaha konservasi burung ini telah dilakukan melalui Taman Nasional yang ada di Sumba. Taman Nasional Laiwangi Wanggameti (TNLW) telah dipantau dan dikelola oleh pihak pemerintah yang didirikan pada 2006 lalu. Burung Indonesia, salah satu organisasi konservasi burung di Indonesia, telah bekerja secara intensif dalam penguatan manajemen Taman Nasional di Sumba sejak tahun 2002 atau 2003. Proyek ini juga memfasilitasi masyarakat lokal dan pemerintah untuk mengembangkan kesepakatan konservasi desa dan menyetujui demarkasi atau perbatasan wilayah  Taman Nasional Manupeu Tandaru (TNMT) sehingga peristiwa penebangan liar dan kerusakan hutan bisa berkurang dan akan tercipta penegakan hukum yang lebih baik. Sejak tahun 2004 perdagangan satwa liar telah dipantau dan di empat kota besar di Sumba belum ditemukan adanya kasus spesies yang dicatat dalam penangkaran.

Memang cara paling mudah untuk menjaga kelestarian satwa adalah dengan menjaga tempat tinggalnya. Sudah seharusnya kita berterimakasih kepada mereka karena mereka telah berjasa menanamkan ribuan pohon untuk kita secara cuma-cuma. Kelestarian Julang Sumba harus selalu dijaga karena dengan lestarinya burung tersebut maka ekosistem hutan akan tetap terjaga. Bagaimana jadinya hutan Sumba tanpa kehadirannya, sang pemeran utama?

 

Referensi

Burung Indonesia. burung.org Diakses 27 Agustus 2016.

IUCN.  2016. Rhyticeros evertti. www.iucnredlist.org. Diakeses 27 Agustus 2016.

Kutilang Indonesia. 2013. Julang Sumba. www.kutilang.or.id. Diakses 27 Agustus 2016.

Mongabay Indonesia. 2013. Hutan Menyusut, Kawasan Endemik Burung Pulau Sumba Terus Terkikis. www.mongabay.co.id. Diakses 27 Agustus 2016.

Mongabay Indonesia. 2015. Julang Sumba: Mengapa Jenis Enggang ini Ada di Kepulauan Nusa Tenggara. www.mongabay.co.id. Diakses 27 Agustus 2016.

Nur, R.F. 2013. Kelimpahan dan Distribusi Burung Rangkong (Famili Bucerotidae) di Kawasan PT. Kencana Sawit Indonesia (KSI), Solok Selatan, Sumatera Barat. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php