Blog Pendidikan Dan Teknologi

Materi Jaringan Tumbuhan

Posted: May 15th 2019

Materi Jaringan Tumbuhan

Selamat datang di essai kedua saya ini. Pada essai pertama saya sebelumnya yang berjudul “Kloroplas dengan Ribosom, Siapakah yang Akan Menang?“, saya telah membahas banyak mengenai sel. Sekarang saya akan membahas banyak mengenai jaringan.

Sebelum itu, saya akan menjelaskan gambaran umum mengenai jaringan. Jaringan dalam dunia biologi merupakan sekumpulan sel yang memiliki struktur, fungsi, dan bentuk yang sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerjasama untuk suatu fungsi secara fisiologis yang sama akan membentuk suatu organ. Cabang biologi yang mempelajari mengenai jaringan adalah histologi. Dan cabang biologi yang mempelajari tentang berubahnya bentuk dan fungsi jaringan yang berhubungan dengan penyakit disebut hispatologi.        

Jaringan dibedakan menjadi 2 berdasarkan strukturnya, yaitu jaringan tumbuhan serta jaringan hewan dan manusia.

Saya akan membahas mengenai jaringan tumbuhan terlebih dahulu. Jaringan tumbuhan ini dibagi menjadi 2 berdasarkan aktivitas pembelahan selnya yang terjadi selama masa perkembangannya, yaitu jaringan meristem (embrional) dan jaringan permanen (dewasa).

Jaringan meristem mengandung sel-sel yang aktif membelah diri secara mitosis. Jaringan meristem memiliki beberapa sifat yaitu, aktif membelah diri, sel mengandung banyak sitoplasma, ukuran sel kecil, dinding sel tipis, sel memiliki nukleus yang besar, organel sel lain pada umumnya kecil. Berdasarkan asal terbentuknya, meristem dibagi menjadi 2, yaitu meristem primer (terdapat pada tumbuhan dewasa yang sel-selnya masih aktif membelah dan mengakibatkan perpanjangan batang dan akar) dan meristem sekunder (Berasal dari sel-sel dewasa yang berubah sifatnya menjadi meristematik. Contohnya: kambium dan kambium gabus).  Berdasarkan posisinya pada tubuh tumbuhan, jaringan meristem dibagi menjadi 3, yaitu meristem apikal (ada di ujung batang dan ujung akar), jaringan interkaler/aksilar (ada di antara jaringan dewasa yang sudah berdiferensiasi), dan meristem lateral/samping (memanjang sejajar permukaan batang/akar, contohnya: kambium pembuluh dan kambium gabus).

Sedangkan jaringan permanen merupakan jaringan yang berasal dari pembelahan sel-sel meristem primer maupun sekunder yang telah berdiferensiasi sesuai dengan fungsinya. Jaringan permanen memiliki beberapa ciri, yaitu tidak membelah diri, sel relatif berukuran besar, sel memiliki vakuola yang besar dan telah mengalami penebalan dinding sesuai fungsinya, terkadang sel-selnya mati, terdapat ruang antar sel. 

Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan permanen dibagi menjadi jaringan sederhana dan kompleks. Berdasarkan fungsinya, jaringan dewasa dibagi menjadi 4 macam, yaitu jaringan pelindung (epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan pengangkut (vaskuler).

Sekarang, saya akan membahas mengenai jaringan hewan. Jaringan hewan dapat dibagi menjadi 4, yaitu:

  • Jaringan epitel, memiliki fungsi sebagai pembatas/pelapis permukaan organ, rongga, maupun saluran di organ dalam/luar tubuh. Dapat berupa membran/kelenjar. Berdasarkan bentuk sel, dibagi menjadi 5, yaitu jaringan epitel pipih, kubus, silindris, transisional, dan kelenjar.
  • Jaringan ikat/penyambung, memiliki fungsi sebagai pengikat dan menyokong bagian jaringan lainnya. Tersusun dari bahan intersel (matriks) dan sel-sel penyusun jaringan ikat.
  • Jaringan otot, memiliki fungsi sebagai alat gerak aktif yang menggerakkan tulang manusia dan hewan. Terdapat 3 macam, yaitu jaringan otot polos, rangka (lurik), dan jantung.
  • Jaringan saraf, berperan untuk menghimpun rangsangan dari lingkungan, lalu mengubahnya menjadi impuls saraf, dan meneruskannya ke bagian penerimaan yang terorganisasi, menafsirkan impuls, lalu memberikan jawaban/respons yang tepat ke organ-organ efektor.

Setelah membahas singkat mengenai jaringan, sekarang saya akan membahas mengenai kekuatan masing-masing jaringan terhadap lingkungannya.

Siapakah yang lebih kuat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya? Apakah itu jaringan tumbuhan? Ataukah jaringan hewan?

Mari kita bahas jaringan hewan dan tumbuhan lebih dalam lagi. Disini, saya akan membahas lebih banyak mengenai sel-nya. Karena jaringan merupakan sekumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur, dan fungsi yang sama.

Pertama, saya akan membahas dilihat dari perlindungan sel-nya. Sel tumbuhan memiliki dinding sel dan membran sel, sedangkan sel hewan hanya mempunyai membran sel saja. Disini, dinding sel dan membran sel berfungsi untuk mengatur masuknya ion, molekul, dan senyawa dari luar sel ke dalam sel. Membran sel bersifat semi-permeabel, yang artinya hanya ion, molekul, dan senyawa tertentu saja yang dapat masuk ke dalam sel. Sedangkan dinding sel bersifat impermeabel, yang artinya ion, molekul, dan senyawa tidak boleh masuk ke dalam sel. 

Sel tumbuhan memiliki double-protection terhadap ion, molekul, dan senyawa karena ia memiliki dinding sel dan membran sel. Sedangkan sel hewan hanya memiliki single-protection terhadap ion, molekul, dan senyawa karena ia hanya memiliki membran sel saja. Jadi, jika dilihat berdasarkan perlindungan sel-nya, jaringan tumbuhan lebih kuat untuk beradaptasi karena ia memiliki double-protection terhadap masuknya ion, molekul, dan senyawa dari luar sel. Hanya ion, molekul, dan senyawa tertentu dan penting saja yang dapat masuk ke dalam sel tumbuhan.

Kedua, saya akan membahas jika dilihat dari transportasi pasif sel-nya. Transportasi sel pasif dibagi menjadi 2, yaitu difusi dan filtrasi. Difusi itu sendiri dibagi lagi menjadi 3, yaitu difusi sederhana, difusi air sederhana atau osmosis, dan difusi terfasilitasi. Pada difusi air sederhana (osmosis), terdapat 2 kondisi di luar sel. Yang pertama adalah pada saat kondisinya bersifat hipertonik (kondisi zat terlarut yang berada di luar sel lebih tinggi). Di saat kondisi ini, sel hewan akan menyesuaikan diri dengan cara krenasi (mengerutkan sel) sedangkan sel tumbuhan akan melakukan plasmolisis (membran sel akan tertarik menjauhi dinding sel).

Kondisi yang kedua adalah kondisi yang bersifat hipotonik (kondisi zat terlarut yang berada di luar lebih rendah). Di saat kondisi ini, sel hewan akan pecah (hemolisis). Sel hewan akan pecah karena sel menyerap terlalu banyak air tambahan ke dalam sel karena hanya memiliki membran sel tipis yang membatasi akses masuknya ion, molekul, dan senyawa kedalam sel. Sedangkan sel tumbuhan hanya mengalami pengendutan saja (turgid). Sel tumbuhan tidak akan pecah karena ia memiliki dinding sel yang kuat untuk menahan sel tanpa meledak. Pada saat kondisi hipertonik maupun hipotonik, yang lebih diuntungkan adalah sel tumbuhan. 

Karena ia masih akan tetap hidup pada saat menyesuaikan dirinya dengan kondisi tersebut. Sedangkan pada sel hewan, ia lebih dirugikan karena ia akan mati (sel pecah) pada saat mencapai kondisi hipotonik. Jadi, jika dilihat dari transportasi pasif sel-nya, jaringan tumbuhan akan lebih kuat untuk beradaptasi dengan lingkungan luar sel-nya karena ia tidak akan mati.

Ketiga, jika dilihat dari kemampuan masing-masing sel dalam penggunaan isi vakuola pada saat kondisi ekstrim. Sel tumbuhan memiliki 1 vakuola yang besar, volumenya mencapai 90% dari volume sel itu sendiri. Sedangkan sel hewan memiliki banyak vakuola, tetapi berukuran kecil, bahkan ada beberapa sel hewan yang tidak memiliki vakuola sama sekali. Vakuola berfungsi untuk menyimpan zat makanan cadangan seperti amilum dan glukosa. Zat cadangan makanan ini dapat digunakan pada saat sel tersebut tidak dapat menemukan bahan makanan dari luar sel di saat kondisi ekstrim. 

Jika mencapai kondisi ekstrim, sel tumbuhan masih dapat menggunakan zat cadangan makanan dari vakuola-nya untuk bertahan hidup lebih lama lagi. Sedangkan sel hewan hanya mampu bertahan hidup lebih singkat, mengingat ia hanya memiliki vakuola banyak yang kecil, bahkan ada yang tidak mempunyai vakuola sama sekali. Jadi, jika dilihat dari kemampuan sel dalam penggunaan isi vakuola pada saat kondisi ekstrim, jaringan tumbuhan lebih kuat untuk beradaptasi daripada jaringan hewan karena pada sel tumbuhan, ia memiliki vakuola yang lebih besar.

oddee.com

oddee.com Keempat, jika dilihat dari bukti dari hewan dan tumbuhan yang dapat hidup terlama. Tumbuhan yang dapat hidup terlama di dunia menurut para peneliti adalah Quercus palmeri atau dapat disebut Pohon Palmer Oak yang telah hidup sekitar 13.000 tahun lamanya. Pohon Palmer Oak ini ditemukan di California oleh University of California. Sedangkan untuk hewan, telah ditemukan hewan yang telah hidup terlama di dunia ini, yaitu kerang laut quahoq yang merupakan spesies kerang Artica islandica. Kerang ini telah hidup sekitar 405 sampai 410 tahun lamanya. Kerang ini ditemukan di Islandia. 

Dari 2 bukti inilah, dapat dikatakan bahwa tumbuhan dapat beradaptasi dengan baik karena ia dapat hidup sampai 13.000 tahun lamanya. Seluruh jaringannya pasti berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Karena tidak mungkin dengan rentang 13.000 tahun tersebut, lingkungan tidak berubah sama sekali. Dan setiap jaringan dan sel-nya lah yang berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya, bukan lingkungannya yang menyesuaikan dengan spesies-spesies yang ada.

Kelima, dilihat bagaimana reaksi hewan dan tumbuhan jika mereka kekurangan air. Air dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis sehingga mereka mendapatkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan hewan membutuhkan air untuk melancarkan pencernaan, menjaga suhu tubuh, mengangkut nutrisi, memproduksi susu (bagi hewan betina), minum, membersihkan diri, sebagai tempat tinggal, dan lain-lain. Jika hewan kekurangan air, mereka masih dapat mencari sumber air ke tempat lain dan meninggalkan habitat mereka karena mereka merupakan makhluk hidup yang aktif. 

Sedangkan jika tumbuhan kekurangan air, mereka tidak dapat pergi meninggalkan habitat mereka karena mereka merupakan makhluk hidup yang pasif. Mereka hanya bias mengandalkan akar mereka untuk menyerap air sebanyak-banyaknya. Jika kondisi ekstrim seperti ini berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan bahwa kedua makhluk tersebut akan mati, tetapi setidaknya ada salah satu makhluk hidup yang dapat bertahan hidup lebih lama. Jika kondisi tumbuhan dan hewan tersebut sama-sama sehat, yang akan lebih lama hidup adalah hewan.

Dari pembahasan saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa jaringan tumbuhan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan dibandingkan dengan jaringan hewan. Jaringan tumbuhan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya karena pada sel tumbuhan terdapat dinding sel dan vakuola yang besar. Dimana sel hewan tidak mempunyai dinding sel dan hanya memiliki vakuola yang kecil dan banyak (beberapa jenis sel hewan tidak mempunyai vakuola). Terlebih lagi, terdapat bukti nyata dimana tumbuhan yang paling tua di dunia lebih tua dibandingkan dengan hewan yang paling tua di dunia yang telah ditemukan oleh para ahli.

Sekian pembahasan saya mengenai jaringan pada kali ini. Saya harap essai yang telah saya buat ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi para pembaca. Saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan tulisan atau bahasa pada essai saya ini. Terima kasih telah membaca essai kedua saya ini. Semoga membantu!

Silahkan beri komentar di kolom komentar untuk saya agar saya dapat menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya. Terima kasih.


Comments are closed.

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php