Kominfo Buka Blokir Telegram

Kominfo Buka Blokir Telegram

Pekan depan, Telegram akan bisa diakses kembali. Hal tersebut terungkap setelah Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara bertemu dengan CEO Telegram Pavel Durov di Jakarta kemarin (1/8). Ada beberapa hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Salah satunya adalah rencana untuk membukaan blokir terhadap 11 DNS (domain name system) Telegram. Rudiantara mengatakan, DNS Telegram sudah bisa dinormalisasi dalam waktu dekat.

”Tentu (Telegram) akan bisa diakses lagi. Kalau saya maunya secepatnya. Tapi jangan sampai nanti dibuka, terus terjadi yang dulu-dulu lagi,” katanya kepada wartawan.

Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, Rudiantara juga meminta Durov serius menanggapi keluhan dari Pemerintah Indonesia tentang konten-konten negatif yang bertebaran di kanal publik Telegram. Dengan datangnya Durov ke Indonesia, kata Rudiantara, itu menunjukan keseriusan Telegram bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam mengelola konten yang ada di kanal publik mereka.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen ini, Kemenkominfo dan Telegram

sepakat untuk mengatur dan mengelola prosesnya. Karena untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisasi dibutuhkan kecepatan bertindak. Untuk itu, Rudiantara dan Durov sepakat prosesnya akan dibahas dalam pertemuan yang melibatkan tim teknis.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel A Pangerapan menambahkan, dengan adanya itikad baik dan komitmen dari Telegram untuk mengelola dan menangani isu-isu yang mengancam negara, melalui penyebaran isu-isu terorisme dan konten radikalisasi, maka sesuai dengan prosedur yang diterapkan, 11 DNS Telegram berbasis web segera dipulihkan.

”Kalau sudah resolve atau terindikasi resolve, kita akan proses segera.

Insya Allah dalam waktu dekat. Minggu ini. Kita akan cari hari baiknya,” katanya.

”Minggu depan sudah bisa dibuka,” tambahnya.

Pada kesempatan itu juga, Durov kembali menegaskan komitmen Telegram untuk memerangi terorisme dan radikalisme lewat propaganda di kanal-kanal Telegram. ”Tadi kami berbicara tentang pemblokiran propaganda terorisme di Telegram. Yang memang merupakan komitmen kami secara global. Terutama di Indonesia,” kata Durov.

Sebagai langkah nyata, kata Durov, pihaknya telah memberikan akses

komunikasi langsung kepada Pemerintah Indonesia. Sebelumnya, Rudiantara mengeluhkan akses komunikasi yang sulit dengan Telegram. Setelah pertemuan kemarin, keduanya sepakat untuk berkomunikasi secara lebih efisien.

sumber :

https://www.jawarafile.com/