GSSJ-Ratulangi-Pendidikan-Perjalanan-dan-Akhir-Hidup

GSSJ Ratulangi: Pendidikan, Perjalanan dan Akhir Hidup

Ia juga dikenal dengan filosofinya “si tou timou tumou tou”, yang artinya orang hanya bisa disebut manusia jika bisa memanusiakan manusia.

Ratulangi juga sempat menjadi anggota PPKI dan menyusun undang-undang dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Balaputadewa, Pembawa Kemuliaan Kerajaan Sriwijaya
pelatihan

Sam Ratulangi lahir pada tanggal 5 November 1890 di Tondano, Minahasa.

Ia memulai pendidikannya di sekolah dasar Belanda atau Europeesche Lagere School (ELS).

Kemudian Sam melanjutkan studinya di Hoofden School di Tondano.

Pada tahun 1904 Sam pergi ke Jawa untuk belajar Dokter Hindia Belanda (STOVIA) di Batavia setelah mendapat beasiswa dari sekolah tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Namun, sesampainya di Batavia, Sam justru berubah pikiran.

Ia belajar di Sekolah Tinggi Teknik Sekolah Koningen Wilhelmina.

Setelah lulus pada tahun 1908, ia mulai bekerja di konstruksi kereta api di daerah Priangan Selatan Jawa Barat.

Selama bekerja di sana, Sam diperlakukan tidak adil dibandingkan dengan karyawan Indo dalam hal upah dan akomodasi bagi karyawan.

Baca juga: Jong Islamieten Bond: Latar Belakang, Tujuan, dan Karakternya
Persatuan Indonesia

Pada tahun 1912 Sam pergi ke Amsterdam untuk melanjutkan studinya selama dua tahun.

Namun, dia tidak dapat menyelesaikan pelatihannya karena dia tidak diizinkan mengikuti ujian.

Ini karena Sam tidak memiliki ijazah SMA.

Dia kemudian mendaftar dan diterima di Universitas Zurich di Swiss.

Di Amsterdam, Sam sering bertemu dengan Sostro Kartono, kakak RA Kartini dan tiga pendiri Partai India.

Mereka adalah Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Soewardi Suryaningrat.

Ia juga aktif di Perhimpunan Indonesia (Indian Association).

Tujuan organisasi ini adalah untuk memajukan kepentingan bersama rakyat Indonesia.

Pada tahun 1914 Sam terpilih sebagai ketua Persatuan Indonesia.

Selama masa jabatannya, ia aktif menulis artikel, salah satunya berjudul Sarekat Islam dan dimuat di Onze Colonies (1913).

Dia menulis tentang pertumbuhan koperasi perdagangan lokal Sarekat Islam dan juga memuji gerakan Budi Utomo.

Baca juga: Jong Bataks Bond: Latar Belakang dan Karakternya
Kembali ke Indonesia

Pada tahun 1919 Sam kembali ke Indonesia.

Ia dipindahkan ke Yogyakarta untuk mengajar matematika dan sains di Sekolah Teknologi Putri Juliana.

Setelah tiga tahun, Sam dan Roland Tumbelaka, seorang dokter dari Minahasa, mendirikan perusahaan asuransi bernama Assurantie Maatschappij Indonesia.

Pada tahun 1923 Sam diangkat menjadi sekretaris kantor wilayah Minahasa di Manado oleh Partai Persatuan Minahasa.

Ia menjabat dari tahun 1924 hingga 1927.
PPKI

Pada awal Agustus 1945, Sam diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili Sulawesi.

Setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, PPKI mengadakan rapat keesokan harinya.

Sam Ratulangi juga hadir dalam pertemuan tersebut dan memimpin konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Raja Cheoljong: Sejarah, Pemerintahan, dan Kisah Tragis
akhir

Selama agresi militer Belanda kedua, Yogyakarta dikuasai oleh Belanda.

Para pemimpin Indonesia, termasuk Soekarno-Hatta, ditangkap dan dibuang ke Bangka.

Sam sendiri ditangkap oleh Belanda pada 25 Desember 1948. Pada 12 Januari 1949, ia dipindahkan ke Jakarta dan kemudian ke Bangka.

Namun karena masalah kesehatan, Sam diizinkan tetap menjalani tahanan rumah di Jakarta.

Sam meninggal pada 30 Juni 1949. Jenazahnya dimakamkan sementara di Tanah Abang.

Kemudian, pada 23 Juli 1949, Sam dibawa ke Manado dengan KPM Swartenhondt.

Kapal tiba di Manado pada 1 Agustus 1949. Keesokan harinya, jenazah Sam disemayamkan di kampung halamannya di Tondano.
memaafkan

Pada Agustus 1961, Sam dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Soekarno.

Kemudian pada tahun 2016 Kementerian Keuangan menerbitkan uang kertas seri baru 2016 sebesar Rp 20.000.

Wajah Sam Ratulangi tergambar di bagian depan uang kertas.

Nama Sam Ratulangi juga digunakan sebagai nama bandara di Manado yaitu Bandara Sam Ratulangi.

LIHAT JUGA :

https://indi4.id/
https://connectindonesia.id/
https://nahdlatululama.id/
https://www.bankjabarbanten.co.id/
https://ipc-hm2020.id/
https://sinergimahadataui.id/