Monthly Archives: December 2020

Pengertian Sel Elektrolisis

Pengertian Sel Elektrolisis

 
Sel Elektrolisis adalah   sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan reaksi redoks  yang  diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita.  Baterai  aki yang dapat diisi ulang merupakan salah satu contoh aplikasi  sel  elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari. Baterai aki yang sedang diisi kembali (recharge) mengubah energi listrik yang diberikan menjadi produk berupa bahan kimia yang diinginkan. Air, H2O,   dapat diuraikan dengan menggunakan listrik dalam sel elektrolisis.   Proses ini akan mengurai air menjadi unsur-unsur pembentuknya. Reaksi   yang terjadi adalah sebagai berikut :     2 H2O(l) ——>  2 H2(g) + O2(g)
Rangkaian sel elektrolisis hampir menyerupai sel volta. Yang membedakan sel elektrolisis dari sel volta adalah, pada sel elektrolisis, komponen voltmeter diganti dengan sumber arus (umumnya baterai). 


 Larutan atau lelehan yang ingin  dielektrolisis, ditempatkan dalam suatu  wadah. Selanjutnya, elektroda  dicelupkan ke dalam larutan maupun  lelehan elektrolit yang ingin  dielektrolisis. Elektroda yang digunakan  umumnya merupakan elektroda  inert, seperti Grafit (C), Platina (Pt), dan  Emas (Au). Elektroda  berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi.  Reaksi reduksi berlangsung di katoda, sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda. Kutub   negatif sumber arus mengarah pada katoda (sebab memerlukan elektron)   dan kutub positif sumber arus tentunya mengarah pada anoda. Akibatnya, katoda bermuatan negatif dan menarik kation-kation yang akan tereduksi menjadi endapan logam. Sebaliknya, anoda bermuatan positif dan menarik anion-anion yang akan teroksidasi menjadi gas. Terlihat jelas bahwa tujuan elektrolisis adalah untuk mendapatkan endapan logam di katoda dan gas di anoda.
Ada dua tipe elektrolisis, yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis larutan. Pada proses elektrolisis lelehan, kation pasti tereduksi di katoda dan anion pasti teroksidasi di anoda. Sebagai contoh, berikut ini adalah reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl (yang dikenal dengan istilah sel Downs) :
Katoda (-)            :   2 Na+(l) + 2 e- ——>  2 Na(s) ……………….. (1)
Anoda (+)            :   2 Cl-(l)  Cl2(g)  +  2 e- ……………….. (2)
Reaksi sel            :   2 Na+(l) +  2 Cl-(l)  ——>  2 Na(s) +  Cl2(g) ……………….. [(1) + (2)]
Reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl menghasilkan endapan logam natrium di katoda dan gelembung gas Cl2 di anoda. Bagaimana halnya jika lelehan garam NaCl diganti dengan larutan garam NaCl? Apakah proses yang terjadi masih sama? Untuk mempelajari reaksi elektrolisis larutan garam NaCl, kita mengingat kembali Deret Volta (lihat Elektrokimia I : Penyetaraan Reaksi Redoks dan Sel Volta).
Pada katoda, terjadi persaingan antara air dengan ion Na+. Berdasarkan Tabel Potensial Standar Reduksi, air memiliki red yang lebih besar dibandingkan ion Na+. Ini berarti, air lebih mudah tereduksi dibandingkan ion Na+. Oleh sebab itu, spesi yang bereaksi di katoda adalah air. Sementara, berdasarkan Tabel Potensial Standar Reduksi, nilai red ion Cl- dan air hampir sama. Oleh karena oksidasi air memerlukan potensial tambahan (overvoltage), maka oksidasi ion Cl- lebih mudah dibandingkan oksidasi air. Oleh sebab itu, spesi yang bereaksi di anoda adalah ion Cl-. Dengan demikian, reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan garam NaCl adalah sebagai berikut :
Katoda (-)            :   2 H2O(l) +  2 e- ——>  H2(g)  +  2 OH-(aq) ……………….. (1)
Anoda (+)            :   2 Cl-(aq) ——>  Cl2(g)  +  2 e- ……………….. (2)
Reaksi sel            :   2 H2O(l) +  2 Cl-(aq)  ——>  H2(g) +  Cl2(g)  +  2 OH-(aq) ……………………. [(1) + (2)]
Reaksi elektrolisis larutan garam NaCl menghasilkan gelembung gas H2 dan ion OH­(basa) di katoda serta gelembung gas Cl2 di anoda. Terbentuknya ion OH- pada   katoda dapat dibuktikan dengan perubahan warna larutan dari bening   menjadi merah muda setelah diberi sejumlah indikator fenolftalein (pp).   Dengan demikian, terlihat bahwa produk elektrolisis lelehan umumnya   berbeda dengan produk elektrolisis larutan.
Selanjutnya kita mencoba mempelajari elektrolisis larutan Na2SO4. Pada katoda, terjadi persaingan antara air dan ion Na+. Berdasarakan nilai red, maka air yang akan tereduksi di katoda. Di lain sisi, terjadi persaingan antara ion SO42- dengan air di anoda. Oleh karena bilangan oksidasi S pada SO4-2 telah mencapai keadaan maksimumnya, yaitu +6, maka spesi SO42- tidak dapat mengalami oksidasi. Akibatnya, spesi air yang akan teroksidasi di anoda. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Katoda (-)            :   4 H2O(l) +  4 e- ——>  2 H2(g)  +  4 OH-(aq) ……………….. (1)
Anoda (+)            :   2 H2O(l)  ——>   O2(g) +  4 H+(aq) +  4 e- ……………….. (2)
Reaksi sel            :   6 H2O(l) ——>  2 H2(g) +  O2(g) +  4 H+(aq) +  4 OH-(aq) …………………….. [(1) + (2)]
 6 H2O(l) ——>  2 H2(g) +  O2(g) +  4 H2O(l) …………………. [(1) + (2)]
2 H2O(l) ——>  2 H2(g) +  O2(g) …………………….. [(1) + (2)]
Dengan demikian, baik ion Na+ maupun SO42-,   tidak bereaksi. Yang terjadi justru adalah peristiwa elektrolisis air   menjadi unsur-unsur pembentuknya. Hal yang serupa juga ditemukan pada   proses elektrolisis larutan Mg(NO3)2 dan K2SO4.
Bagaimana  halnya jika elektrolisis  lelehan maupun larutan menggunakan elektroda  yang tidak inert, seperti  Ni, Fe, dan Zn? Ternyata, elektroda yang  tidak inert hanya dapat  bereaksi di anoda, sehingga produk yang dihasilkan di anoda adalah ion elektroda yang larut (sebab logam yang tidak inert mudah teroksidasi). Sementara, jenis elektroda tidak mempengaruhi produk yang dihasilkan di katoda. Sebagai contoh, berikut adalah proses elektrolisis larutan garam NaCl dengan menggunakan elektroda Cu :
Katoda (-)            :   2 H2O(l) +  2 e- ——>  H2(g)  +  2 OH-(aq) ……………………..  (1)
 
Anoda (+)            :   Cu(s) ——>  Cu2+(aq) +  2 e- ……………………..  (2) 
Reaksi sel            :   Cu(s) +  2 H2O(l) ——>  Cu2+(aq) +  H2(g)  +  2 OH-(aq) ……………………..  [(1) + (2)] 
Dari pembahasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan reaksi elektrolisis :
Baik  elektrolisis lelehan maupun larutan, elektroda inert tidak akan   bereaksi; elektroda tidak inert hanya dapat bereaksi di anoda
 Pada elektrolisis lelehan, kation pasti bereaksi di katoda dan anion pasti bereaksi di anoda
 Pada elektrolisis larutan, bila larutan mengandung ion alkali,   alkali tanah, ion aluminium, maupun ion mangan (II), maka air yang   mengalami reduksi di katoda
 Pada elektrolisis larutan, bila larutan mengandung ion sulfat,   nitrat, dan ion sisa asam oksi, maka air yang mengalami oksidasi di   anoda 
Salah satu aplikasi sel elektrolisis adalah pada proses yang disebut penyepuhan. Dalam proses penyepuhan,   logam yang lebih mahal dilapiskan (diendapkan sebagai lapisan tipis)   pada permukaan logam yang lebih murah dengan cara elektrolisis. Baterai   umumnya digunakan sebagai sumber listrik selama proses penyepuhan berlangsung. Logam yang ingin disepuh berfungsi sebagai katoda dan lempeng perak (logam pelapis) yang merupakan logam penyepuh berfungsi sebagai anoda.   Larutan elektrolit yang digunakan harus mengandung spesi ion logam  yang  sama dengan logam penyepuh (dalam hal ini, ion perak). Pada proses   elektrolisis, lempeng perak di anoda akan teroksidasi dan larut  menjadi  ion perak. Ion perak tersebut kemudian akan diendapkan sebagai  lapisan  tipis pada permukaan katoda. Metode ini relatif mudah dan tanpa  biaya  yang mahal, sehingga banyak digunakan pada industri perabot  rumah tangga  dan peralatan dapur.
Setelah  kita mempelajari aspek kualitatif  reaksi elektrolisis, kini kita akan  melanjutkan dengan aspek  kuantitatif sel elektrolisis. Seperti yang  telah disebutkan di awal,  tujuan utama elektrolisis adalah untuk  mengendapkan logam dan  mengumpulkan gas dari larutan yang  dielektrolisis. Kita dapat menentukan  kuantitas produk yang terbentuk  melalui konsep mol dan stoikiometri. 

Sumber: https://rumahbudidaya.co.id/

Pengertian Geografi & Definisi menurut para ahli

Selamat datang kembali di blog ini, setelah satu minggu tidak blogging akhirnya hari ini ada waktu untuk mulai postingan kembali. Ayo kita simak artikel berikut mengenai pelajaran Geografi tentang “Pengertian geografi & definisi menurut para ahli”. Read Now.!

Pengertian Geografi

Tahukah anda apa itu geografi ?

Ini dia jawabannya !! Istilah Geografi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu ‘geo’ Yang berarti bumi, dan ‘graphien’ yang berarti gambara, lukisan , atau tulisan . Jadi geografi adalah tulisan tentang bumi. Perkataan ini pertama kali diperkenalkan oleh Erathosthenes dengan nama “Geographica” yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar ilmu geografi.

Geografi adalah ilmu

yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi.
Geografi juga merupakan nama judul buku bersejarah pada subjek ini, yang terkenal adalah Geographia tulisan Klaudios Ptolemaios (abad kedua).


Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Geografi tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, kadang diartikan dengan “lokasi pada ruang.”
Geografi mempelajari hal ini, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.

Pengertian geografi menurut para ahli


Claudius Ptolomaeus

Geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi.
Karl Ritter (1779-1859): Geografi merupakan suatu studi telaah mengenai bumi sebagai tempat hidup manusia.
John Mackinder (1861-1947): Geografi adalah satu kajian mengenai kaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.
Elsworth Huntington (1876-1947): Geografi merupakan suatu studi tentang alam dan persebarannya, melalui relasi antara lingkungan dengan aktivitas atau kualitas manusia.


Herioso Setiyono (1996)

Geografi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dan merujuk pada pola persebaran horizontal di permukaan bumi.


Bisri Mustofa (2007):

Geografi merupakan ilmu yang menguraikan tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna serta basil-basil yang diperoleh dari bumi.
Wikipedia : Geografi adalah ilmu tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi.


Von Rithoffen (1905):

Geografi adalah studi tentang gejala dan sifat-sifat permukaan bumi serta penduduknya yang disusun berdasarkan letaknya, dan mencoba menjelaskan hubungan timbal balik antara gejala-gejala dan sifat tersebut.


Paul Vidal de La Blace (1915)

Geografi adalah studi tentang kualitas negara-negara, dimana penentuan suatu kehidupan tergantung bagaimana manusia mengelola alam ini.
Lobeck (1939): Gegografi adalah suatu studi tentang hubungan-hubungan yang ada antara kehidupan dengan lingkungan fisiknya.


Richard Harstone (1939)

Geografi adalah sebuah ilmu yang menampilkan realitas deferensiasi muka bumi seperti apa adanya, tidak hanya dalam arti perbedaan-perbedaan dalam hal tertentu, tetapi juga dalam arti kombinasi keseluruhan fenomena di setiap tempat, yang berbeda dari keadaanya di tempat lain.


Frank Debenham (1950)

: Geografi adalah ilmu yang bertugas mengadakan penafsiran terhadap persebaran fakta, menemukan hubungan antara kehidupan manusia dengan lingkungan fisik, menjelaskan kekuatan interaksi antara manusia dan alam.
Hartshorne (1950): Geografi adalah ilmu yang berkepentingan untuk memberikan deskripsi yang teliti, beraturan, dan rasional tentang sifat variabel permukaan bumi.


Ullman (1954) : Geografi adalah

interaksi antar ruang.
Maurice Le Lannou (1959): Objek studi Geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi.
Yeates (1963): Geografi adalah ilmu yang memperhatikan perkembangan rasional dan lokasi dari berbagai sifat yang beraneka ragam di permukaan bumi.


James Fairgrive (1966): Geografi

memiliki nilai edukatif yang dapat mendidik manusia untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap kemajuan-kemajuan dunia. Ia juga berpendapat bahwa peta sangat penting untuk menjawab pertanyaan “dimana” dari berbagai aspek dan gejala geografi.


Strabo (1970): Geografi erat kaitannya dengan faktor lokasi, karakterisitik tertentu, dan hubungan antar wilayah secara keseluruhan. Pendapat ini kemudian disebut Konsep Natural Atrribute of Place.


Paul Claval (1976): Geografi

selalu ingin menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan.
Vernor E. Finch & Glen Trewartha (1980): Geografi adalah deskripsi dan penjelasan yang menganalisis permukaan bumi dan pandangannya tentang hal yang selalu berubah dan dinamis, tidak statis dan tetap.
Prof. Bintarto (1981): Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang bersifat fisik maupun yang menyangkut kehidupan makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, kelingkungan, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan.
Hasil seminar dan lokakarya di Semarang < IGI > (1988): Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.
Depdikbud (1989): Geografi merupakan suatu ilmu tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna, serta hasil yang diperoleh dari bumi.
Demikianlah untuk postingan hari ini yang berjudul “pengertian geografi menurut para ahli”.

Sumber: https://tanpaiklan.com/