Talita Danielle

Bagaimana Nasib Konservasi Penyu Sisik di Pulau Terluar?

Posted: December 1st 2018

Sebelum membuat Personal Action Plan ini, sempat terpikir beberapa jenis spesies hewan yang terancam lainnya. Namun, aku teringat tentang hal yang kutemui di pasar sekitar 5 tahun lalu. Sesuatu yang membekas dan masih bisa ku ingat sampai sekarang.

Liburan bulan juli sebelum aku masuk SMA, aku bersama keluarga menyempatkan pulang ke kampung halaman ayahku bertempat di Melonguane, Talaud, Sulawesi Utara. Melonguane merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Talaud. Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten induknya yaitu Sangihe, merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina. Kepulauan Talaud merupakan gugusan pulau-pulau terluar di bagian utara jazirah Sulawesi Utara yang merupakan daerah bahari.

Pagi hari, aku pergi bersama ayah ke pasar membeli ikan untuk dimasak sebagai sarapan… masih ku ingat saat pertama kali aku melihat dari jauh “sesuatu” yang besar diatas meja pemotongan daging di pasar pagi itu. Rasa penasaran pun timbul, kenapa “sesuatu” itu tidak tampak seperti ikan ya… sambil berjalan mendekati meja pemotongan daging itu, dengan polosnya aku bertanya kepada ayahku “Pa, itu ikan apa ya kok gendut?” dengan santai ayahku menjawab “Itu ikan penyu kakak…”

Semakin aku mendekat, tampak diatas meja pemotongan daging tergeletak 2 ekor penyu yang sudah mati dengan posisi terbalik dan diikat dengan tali. Hal itu sontak mengejutkan, aku berkata dengan suara keras “ih kasihan…” reaksi ku sampai terlihat bodoh di depan ibu-ibu penjual di pasar. “Gausah kaget kak, disini sudah biasa ada penyu” kata ayahku coba menenangkanku yang hampir meneteskan air mata. Berikut merupakan dokumentasi seorang fotografer di pasar Melonguane pada tahun 2011:

  

Gambar 1 dan 2. (Dokumentasi Penyu di Pasar Melonguane 2011).

Tahun-tahun berlalu, aku tidak pernah kembali lagi ke kampung halaman ayahku namun ayahku masih sering kesana karena pekerjaan. Beberapa hari sebelum menulis blog ini aku menelepon ayahku dan bertanya apakah sampai sekarang masih ditemukan penyu di pasar Melonguane, dan kata ayahku “biasanya memang masih ada” ternyata dugaanku benar. Berikut adalah dokumentasi penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang ditemukan di pasar Melonguane pada tanggal 1 Desember 2018.

Gambar 3. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) (Dokumentasi Pribadi, 2018).

Sangat menyedihkan sekaligus memalukan memang, tapi beginilah kenyataan di daerah kepulauan yang minim informasi tentang konservasi. Penyu yang ditemui di pasar Melonguane diketahui merupakan jenis Penyu Sisik dengan nama latin (Eretmochelys imbricata). Penyu tersebut diletakkan didalam ember untuk dijual dan dikonsumsi.

 

PENYU SISIK

Penyu merupakan hewan laut yang dapat ditemukan di seluruh samudra di dunia. Penyu sendiri sudah ada dari zaman dinosaurus yaitu sekitar akhir zaman Jura (145-208 juta tahun yang lalu). Dahulu, nenek moyang penyu berukuran seperti mobil volkswagen beetle yaitu jenis Archelon ischyros. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate) atau dikenal sebagai hawksbill turtle karena paruhnya tajam dan menyempit/meruncing dengan rahang yang agak besar mirip paruh burung elang. Demikian pula karena sisiknya yang tumpang tindih (imbricate) seperti sisik ikan maka orang menamainya penyu sisik. Ciri-ciri umum adalah warna karapasnya bervariasi kuning, hitam dan coklat bersih, plastron berwarna kekuning-kuningan. Paruh penyu sisik agak runcing sehingga memungkinkan mampu menjangkau makanan yang berada di celah-celah karang seperti sponge dan anemon. Mereka juga memakan udang dan cumi-cumi.

Gambar 4. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata).

Berikut adalah klasifikasi dari penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Sauropsida

Ordo : Testudinata

Family : Cheloniidae

Genus : Eretmochelys

Species : Eretmochelys imbricata

Nama lokal : Penyu sisik

 

ANCAMAN

Berikut merupakan beberapa ancaman terhadap eksistensi penyu sisik Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yaitu: menghadapi banyak, ancaman berat termasuk

  1. Perdagangan Penyu Sisik.
  2. Pengumpulan telur.
  3. Penyembelihan untuk daging.
  4. Kerusakan habitat bersarang dan mencari makan.

 

PERAN PENYU SISIK

  1. Penyu sisik adalah satu-satunya konsumen laut yang sebagian besar makanannya terdiri dari spons, dan dengan demikian memainkan peran utama dalam ekosistem terumbu karang tropis.
  2. Penyu sisik umumnya bersarang di vegetasi pantai di pantai terpencil yang rendah energi.
  3. Penyu sisik di Pasifik Timur mungkin adalah populasi penyu laut yang paling terancam di dunia.

 

STATUS KONSERVASI

Status konservasi Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) menurut IUCN redlist adalah Critically Endangered (terancam punah).

 

 

UNDANG UNDANG YANG MELINDUNGI

Penyu di Indonesia dilindungi Undang-undang (UU) No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan UU No. 31 tahun 2004. Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Peluang dan pemanfaatan melalui penangkaran diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 tahun 1999. Secara internasional, Indonesia termasuk negara yang telah menandatangani CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/Konvensi Internasional yang Mengatur Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah). Menurut CITES, seluruh penyu termasuk Appendiks I CITES, yang berarti, satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan karena kondisinya terancam punah.

 

PERSONAL ACTION PLAN

  1. Membangun kesadaran masyarakat sekitar tentang konservasi dan fungsi penyu dalam ekosistem lewat sosialisasi; bagaimana penyu telah bertahan hidup dari zaman dahulu dan bagaimana penyu sisik sendiri memiliki peran utama bagi ekosistem terumbu karang.
  2. Menciptakan gerakan peduli konservasi (lembaga swadaya masyarakat) khususnya hewan-hewan laut yang dilindungi seperti penyu.
  3. Mengusulkan untuk membuat peraturan daerah tentang perlindungan satwa dan memberi sanksi tegas bagi masyarakat yang masih menangkap, membunuh dan mengonsumsi penyu.
  4. Melakukan survei berkala di pasar tradisional sehingga penjualan satwa dilindungi dapat dicegah.
  5. Mengedukasi orang-orang terdekat kita tentang pentingnya konservasi.
  6. Membangun cabang dari balai konservasi di setiap pulau-pulau di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara kepulauan. Pulau-pulau terluar contohnya daerah kepulauan Talaud dengan ibukota kabupaten Melonguane identik dengan ketertinggalan dimana kasus penyu dijual bebas di pasar masih ada sampai sekarang. Hal ini salah satunya disebabkan tidak adanya balai konservasi disana karena balai konservasi hanya terdapat di ibukota provinsi, sehingga masyarakat Melonguane yang terpisah oleh pulau kurang terdidik dan mendapat informasi. Kita tentu saja tidak mau kalau konservasi hanya familiar di telinga para peneliti dan anak-anak biologi, konservasi harus menjadi bagian dari seluruh elemen masyarakat.

One response to “Bagaimana Nasib Konservasi Penyu Sisik di Pulau Terluar?”

  1. Junina Baun says:

    Saya jadi tersentuh dengan cerita anda, memang masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu tentang spesies-spesies apa saja yang sebenarnya keberadaannya terancam punah. Aksinyata yang direncanankan sudah sangat bagus, semoga bisa terlaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php