konservasi ternak

Aplikasi PCR dalam diagnosis penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF) di Indonesia

Posted: May 26th 2013

Maligant catarrhal fever (MCF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, pemyakit ini menyerang sapi, kerbau dan ruminansia liar lainnya. Penyakit ini bersifat fatal ditandai dengan terjadinya proliferasi dan infiltrasi limfosit dalam jaringan, kemudian diikuti dengan nekrosis organ yang terinfeksi. Ditinjau dari virus penyebabnya, MCF dikelompokkan menjadi dua macam yaitu wildebeest-associated MCF(WA-MCF) yang disebabkan oleh Alcelaphinae herpesvirus-1 (AHV-1) dan sheep-associated MCF (SA-MCF) yang disebabkan oleh ovine herpesvirus-2 (OHV-2).

MCF yang ada di Indonesia adalah MCF yang erat hubungannya dengan domba. Karena virus utuh SA-MCF belum pernah bisa diisolasi, maka diagnosis penyakit ini hanya didasarkan pada gejala klinis dan kelainan patologi . Keberhasilan mengisolasi segmen tertentu dari Deoxyribonucleid acid (DNA) virus SA-MCF dari kasus-kasus SA-MCF pada kelinci, rusa dan sapi memungkinkan para peneliti untuk mempelajari sekuen dari segmen DNA tersebut dan mengembangkannya sebagai suatu teknik diagnosis.

Deteksi agen penyebab MCF dengan teknik PCR dapat digunakan menggunakan sampel yang diambil dari hewan yang diduga terinfeksi penyakit tersebut . Sampel dapat berupa sediaan usap mukosa mulut, mata, vagina domba atau folikel bulu hewan tersebut. Di Indonesia, uji PCR untuk mendiagnosis penyakit MCF sudah dimanfaatkan terhadap beberapa kasus MCF pada kerbau dan sapi Bali, baik dari kasus alami maupun kasus asal penularan buatan. Di samping itu, uji PCR telah dipergunakan untuk deteksi Ovine herpesvirus-2 (OHV-2) pada sel darah putih induk dan anak domba.

Para peneliti telah mempergunakan uji PCR untuk mendeteksi OHV-2 pada sediaan usap mukosa hidung, mata dan vagina serta folikel bulu anak dan induk domba. Mekanisme penyebaran OHV-2 yang pasti dari domba ke sapi atau ke kerbau belum jelas, akan tetapi virus SA-MCF dalam sekresi tersebut sangat potensial untuk menyebarkan penyakit MCF. Para peneliti juga telah berhasil mengembangbiakkan sel lestari limfoblastoid (lymphoblastoid cell line=LCL) yang berasal dari biakan jaringan kornea mata sapi dan kerbau yang berasal dari kasus MCF dari daerah Banyuwangi. Sel LCL ini diketahui membawa informasi genetik virus penyebab SA-MCF, dan setelah dilapokan uji PCR ternyata diidentifikasi sebagai OHV-2.

Dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa dari biakan LCL yang diperoleh, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan vaksin rekombinan MCF. Dengan demikian, teknik PCR merupakan langkah awal untuk memulai penelitian variasi genetik terhadap agen penyebab penyakit MCF (OHV-2) pada sapi atau kerbau yang dicurigai terserang penyakit MCF di beberapa daerah di Indonesia . Dengan teknik tersebut, dapat diketahui persamaan atau perbedaan genetik agen penyebab penyakit MCF tersebut di daerah yang satu dengan daerah yang lain .

 


4 responses to “Aplikasi PCR dalam diagnosis penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF) di Indonesia”

  1. Michael 100801131 says:

    Seperti telah dijelaskan di atas bahwa penyakit MCF ini disebabkan oleh virus yang menyerang hewan ruminansia. Adakah suatu kemungkinan penyakit MCF ini menyerang manusia seperti banyak virus yang menyerang hewan (flu burung, flu babi, dll.) yang pada akhirnya menyerang manusia?

  2. Libertho Ricky says:

    Aplikasi PCR yang digunakan mungkin bisa lebih diperjelas lagi, teknik PCR ada banyak dan yang digunakan teknik yang mana?

  3. oswaldia says:

    kayaknya ini dari jurnal, mungkin bisa dimasukan juga sumber jurnalnyaa.. 😀

  4. stianita says:

    Siap, terima kasih atas masukannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php