Walla, this is it….

Symphalangus syndactylus, Kera Hitam Sumatera Berstatus Endangered

Posted: September 9th 2015

siamang4      siamang6

    Gambar 1. Siamang (www.arkive.org)              Gambar 2. Siamang berpasangan (www.arkive.org)

Tahukah kalian terhadap jenis primata yang satu ini? Ya, ini adalah siamang atau disebut siamang Sumatera. Mungkin beberapa dari kalian mungkin belum pernah mendengar nama itu bahkan asing. Memang siamang tidak se-eksis jenis primata lainnya seperti monyet, kera, orang utan, dan gorilla karena hewan ini memang sudah dikategorikan ke dalam hewan terancam punah. Nah, sebelum kita membahas mengenai status siamang yang sudah mulai langka, yuk kita kenalan dulu dengan hewan yang satu ini karena ada pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang”. Siamang atau siamang Sumatera memiliki nama latin Symphalangus syndactylus merupakan sejenis primata yang tidak memiliki ekor dan berpostur kurang tegap namun berlengan panjang. Hewan ini memiliki bulu berwarna hitam agak cokelat kemerahan di seluruh tubuhnya kecuali pada sekitar mulut berwarna agak keputihan.

Siamang memiliki kantung suara di bawah dagu untuk bersuara, yang mana berwarna warna kelabu ketika membesar (sebelum berteriak) dan berwarna merah muda ketika berteriak. Siamang jantan dan betina dibedakan melalui rambut scrotal yang menjuntai di antara kedua paha dari individu jantan, sedangkan pada betina tidak memilikinya. Hewan ini kebanyakan menghabiskan waktu mereka di atas pohon seperti makan, bermain, berisitirahat, dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Siamang memakan setidaknya 160 jenis tumbuhan tetapi makanan utama mereka dalah buah ara, nah ini dia beberapa tumbuhan yang sering menjadi makanan siamang…

siamang2

Tahukah kalian kalau siamang merupakan salah satu hewan yang setia? Artinya selama hidupnya, siamang hanya akan bersama pasangannya (monogami) dan kebiasaan tersebut akan diturunkan ke anak – anaknya. Bahkan kadang kita sebagai manusia tidak bisa setia kan terhadap pasangannya? Masa kita kalah dengan siamang, malu dong. Dalam ekologi hutan, hewan ini memiliki fungsi dalam meregenerasi hutan dengan cara memencarkan biji melalui kotorannya. Pemencaran biji secara efektif dapat mengurangi persaingan antara tumbuhan dan turunannya serta memungkinkan jenis tumbuhan tersebut menyebar ke tempat baru. Bayangkan saja kalau tidak ada siamang maka akan ada persaingan antar tumbuhan dan turunannya serta tidak adanya penyebaran jenis tumbuhan ke tempat baru.

Ternyata siamang memiliki banyak keunikan dan peran yang besar dalam ekologi, namun hal ini tidak diimbangi dengan statusnya yang semakin lama semakin langka bahkan terancam punah. Di Indonesia keberadaan hewan ini dapat dijumpai di pulau Sumatra khususnya di barisan pegunungan Sumatera Barat – Tengah dan pulau Bangka sedangkan di luar wilayah Indonesia, populasi asli siamang hanya ditemukan di Semenanjung Malaysia  (pegunungan Melayu Semenanjung selatan Sungai Perak ) dan beberapa di semenanjung Thailand.

Siamang1

Berdasarkan IUCN Red List 2009, siamang termasuk dalam kategori hewan yang terancam punah (endangered) bahkan berdasarkan tingkat kerentanan terhadap perdagangan satwaliar, siamang tergolong Apendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora), yang berarti dalam perdagangannya diawasi dengan sangat ketat oleh pemerintah karena jumlahnya yang sangat sedikit di alam. Di Indonesia sendiri, penetapan keberadaan siamang sebagai jenis primata yang dilindungi yang diatur dalam Undang-Undang No.5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999.

siamang3

Kembali ke awal pembicaraan kita, mengapa Siamang dapat dikategorikan ke dalam hewan yang terancam punah? Banyak faktor yang mempengaruhi menurunnya jumlah spesies di dalam namun faktor utama yang sangat berpengaruh adalah tingginya laju kerusakan habitat siamang akibat adanya fragmentasi hutan. Terjadinya fragmentasi hutan akibat pembukaan kawasan hutan dan pembukaan lahan untuk perkebunan menyebabkan populasi siamang terdesak pada habitat dan wilayah yang sempit.  Selain itu, penurunan populasi siamang dapat disebabkan illegal logging, pemburuan liar untuk diperdagangkan dan konsumsi, pembalakan hutan, pembakaran hutan dan pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian. Bahkan angka konsumsi terhadap primate (siamang) di Indonesia semakin tinggi  karena adanya kepercayaan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma meski belum ada bukti ilmiah hingga sekarang.

Kebanyakan dari mereka sekarang telah tidak berada lagi di habitat asli namun berada di berbagai kawasan hutan lindung dan mampu mempertahankan jumlah populasinya. Namun hal ini tidak beararti bahwa di masa depan siamang  tidak akan punah oleh sebab itu harus ada pemantauan dang pengawasan yang lebih ketat di masa mendatang.Pencegahan punahnya siamang perlu campur tangan dari pemerintah dengan menjadikan keberadaan siamang sebagai objek wisata dan riset sehingga mendatangkan manfaat bagi daerah tanpa harus mengganggu atau menangkap satwa tersebut. Selain itu, kita sebagai manusia juga dapat mencegahnya dengan tidak melakukan hal – hal yang dapat merusak habitat asli siamang. Yuk cintai dan sayangi siamang agar generasi di bawah kita dapat melihat dan mengenal siamang!

 Referensi :

Gittin, S.P. dan Raemaekers, J.J. 1980. Siamang, Lar, and Agile Gibbon. Malayan Forest Primates. p. 63–105.

Kwatrina, R. T., Kuswanda, W., dan Setyawati, T. 2013. Sebaran dan Kepadatan Populasi Siamang (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) di Cagar Alam Dolok Sipirok dan Sekitarnya, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 10(1) : 81 – 91.

Nijman, V. dan Geissman, T. 2008. Symphalangus syndactylus. The IUCN Red List of Threatened Species 2008. Diunduh pada  09 September 2015.

Supriatna, J. dan Wahyono, E. H. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan  Obor Indonesia. Jakarta


4 responses to “Symphalangus syndactylus, Kera Hitam Sumatera Berstatus Endangered”

  1. fennylc says:

    Artikel yang sangat informatif. Jika tidak membaca artikel ini, mungkin saya tidak mengetahui bahwa di Indonesia ada spesies primata yang unik, yang memiliki kantung suara berukuran cukup besar di bawah dagunya. Sudah saatnya kita lebih peduli akan kelestarian mahluk hidup di sekitar kita 🙂

  2. Trifonia Javalin says:

    Kalau tidak ada siamang, masih ada burung-burung yang dapat menyebarkan biji haha.. Fungsi lain dari Siamang terhadap habitatnya apa yah? Supaya lebih bisa menyadarkan masyarakat untuk lebih menjaga kelestarian hewan ini. 🙂

  3. Viera says:

    Wah, sayang sekali jika punah spesies endemik unik ini. Semoga lebih banyak yang mendukung perlindungan ekstra untuk spesies ini dibandingkan dengan yg merusak kera hitam sumatera. Informasi yang menarik. Goodjob elsa!

  4. Febriyanti Vera says:

    Tulisan yang sangat menarik tentang siamang yang pernah saya lihat di media.. saya mau tanya apakah ada pelindungan konservasi berbasis undung-undang hukum untuk siamang ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php