Walla, this is it….

Inbreeding Mempengaruhi Fekunditas Neovison vison

Posted: September 1st 2015
ma0037_1l

Sumber : www.uniprot.org

american-mink-and-offspring-in-hollow-log

Sumber : www.arkive.org

Sebelum saya membahas panjang lebar tentang artikel Cerpelai Amerika tersebut, ada baiknya kalau kita berkenalan terlebih dulu dengan Cerpelai. Apa itu cerpelai? Cerpelai merupakan mamalia  berukuran kecil yang membentuk Genus Mustela, bertubuh panjang dan ramping dengan kaki pendek dan merupakan predator aktif. Sedangkan Cerpelai Amerika merupakan spesies semi air yang berasalah dari Amerika Utara, karena adanya jangkauan ekspansi yang luas maka hewan ini digolongkan sebagai hewan dengan tingkat perhatian yang rendah oleh IUCN.

Pada artikel ini, dijelaskan bahwa perkawinan sekerabat atau dalam versi asli artikel (bahasa inggris) disebut dengan inbreeding merupakan suatu masalah yang terus meningkat dalam peternakan bulu cerpelai. Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, perlu kita ketahui tentang inbreeding itu sendiri, inbreeding adalah perkawinan antara dua atau lebih individu yang masih memiliki hubungan kekerabatan genetik. Kembali ke awal kenapa bisa jadi masalah? Hal ini disebabkan karena keterbatasan pertukaran individu antar peternakan sehingga memaksakan adanya perkawinan sekerabat. Perkawinan sekerabat ini menyebabkan meningkatnya persentase kemandulan Cerpelai Amerika yang mana merupakan indikator dari depresi inbreeding. Ternyata yang bisa depresi tidak hanya manusia tetapi Cerpelai Amerika juga bisa depresi, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan adanya ekspresi gen alel – alel yang merugikan yang disebabkan adanya perkawinan sekerabat sehingga menyebabkan penurunan kebugaran suatu individu/populasi.

Tujuan penulisan artikel tersebut yaitu menghubungkan tingkat keterkaitan (R) dengan kemampuan reproduksi. Penelitian artikel ini akan mempelajari kekerabatan genetik 33 galur yang mewakili 7 warna bulu Cerpelai Amerika (meliputi warna hitam, putih, safir, tipe liar, perak, mahoni, dan warna mutiara) yang diambil dari 13 peternakan berbeda di Denmark dengan menggunakan lokus mikrosatelit 21 polimorfik. Metode yang digunakan pada penelitian ini lumayan panjang jadi saya akan langsung menyampaikan intinya, yaitu darah dan limpa dari betina yang tidak terkait diambil kemudian diekstraksi sehingga diperoleh genotip setiap individu lalu individu – individu dikelompokkan berdasarkan genotip warna bulu mereka. Pengelompokan ini akan menunjukkan heterozigositas sehingga diperoleh hubungan antara keterkaitan/kekerabatan (R) dengan fekunditas atau kemampuan reproduksi masing – masing galur (nomor 1 – 33). Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini….

 Tabel 1

Dilihat dari tabel diatas diketahui bahwa rata – rata nilai R tertinggi diperoleh dari galur Cerpelai warna safir, hitam dan mutiara (Tabel 1) sedangkan Cerpelai warna mahoni dan perak menunjukkan rata – rata nilai R terendah (Tabel 1) karena mereka berasal dari campuran. Apabila kita membandingkan galur hitam, putih dan tipe liar, rata-rata nilai R yang tertinggi yaitu hitam (0.31 ± 0.13 SD), diikuti oleh putih (0,28 ± 0,04 SD) dan tipe liar (0,16 ± 0,07 SD). Selain hasil pada tabel 1, diketahui pula korelasi antara R dan fekunditas ternyata sangat signifikan (P = 0,0015, n = 32) dengan korelasi negatif linear (r = 0,536) (Gambar 1).

Grafik 1

Dari grafik tersebut dapat hanya terdapat tiga galur yang memiliki nilai R tidak berbeda secara signifikan dari nol menunjukkan bahwa hampir semua galur dipengaruhi oleh perkawinan sedarah dan menunjukkan bahwa hampir semua galur dipengaruhi oleh perkawinan sedarah. Hasil penelitian ini menunjukkan kepada kita (saya dan pembaca) bahwa penting untuk menghindari perkawinan sekerabat untuk menjaga kesuburan Cerpelai dan tingginya keragaman genetik. Selain itu menghindari perkawinan sekerabat dapat meningkatkan heterozigositas juga memberikan efek positif (efek heterosis) selain fekunditas, seperti ukuran, panjang dan berat tubuh saat lahir. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan keuntungan dari penerapan informasi genetik molekuler dalam pelaksanaan peternakan bulu Cerpelai Amerika di masa depan.

Yap selesai sudah saya memberikan informasi tentang perkawinan sekerabat Cerpelai amerika, apabila ada kurang atau salah jangan sungkan untuk memberi masukan dan koreksi.. Thankyouuuu….

Sumber :

Demontis, D., Larsen, P. F., H. Baekgaard, H., Sønderup, M., Hansen, B. K., Nielsen, V. H., Loeschcke, V., Zalewski, A., Zalewska, H. dan Pertoldi, C. 2010. Inbreeding affects fecundity of American mink (Neovison vison) in Danish farm mink. Stichting International Foundation for Animal Genetics, 42 : 437– 439.


6 responses to “Inbreeding Mempengaruhi Fekunditas Neovison vison”

  1. Renita Nurhayati says:

    Tulisan mu itu sangat bagus dan memberikan wawasan yang baik bagi pembaca seperti saya. Saya menjadi lebih mengerti tentang inbreeding pada hewan 😀
    memang banyak hewan yamg melakukan perkawinan yg sekerabat, mungkin karena mereka sndiri jg tidak tahu apakah mereka berkerabat atau tidak. Tetapi, jika kita (manusia) memiliki binatang kesayangan dan ingin mengkawinkan’nya sebaiknya kita juga mengerti yg akan d kawinkan tersebut berkerabat atau tidak dengan hewan kita, agar tetap ada kesuburan pd hewan kitaa 😀

    • Elsa Rian Stevani S says:

      Terimakasih untuk renita, perkawinan sekerabat memang dapat menurunkan kesuburan pada cerpelai namun komentar anda telah menunjukkan kemungkinan pada hewan lain sehingga dapat dikaji lebih lanjut.

  2. GOOD JOB! Tapi yang ingin saya tanyakan hindari perkawinan sekerabat atau antar spesies?

    • Elsa Rian Stevani S says:

      Terimakasih untuk pertanyaan ayu, dari artikel yang saya peroleh adalah perkawinan yang masih ada kekerabatan atau kedekatan namun tetap dengan spesies yang sama bukan antar spesies. Seperti perkawinan cerpelai induk dengan anaknya sendiri itu tidak diperbolehkan, namun cerpelai satu dengan yang lainnya diperbolehkan.

  3. Ayu Tiya Rima says:

    saya ingin bertanya, perkawinan tipe inbreeding inidikatakan dapat menyebabkan kemandulan, tetapi pada faktanya masing sering terjadi perkawinan ini…menurut anda cara sederhana apa yang dapat mengatasi masalah tersebut apabila dipandang dari segi ekologi ?? terimakasih 🙂

  4. destri says:

    Tulisan yang cukup menarik. Memang perkawinan sedarah (1 spesies) menyebabkan variasi genetik menjadi kecil, tapi perkawinan dalam 1 spesies tetap dibutuhkan pada hewan-hewan yang statusnya terancam punah karna akan meleestarikan spesiesnya.. keep blogging Elsaa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php