Stephanie Rani T. S.

Colours are Smile of CORAL

Posted: December 4th 2017

Indonesia sangat kaya sekali dengan karang dan memiliki eksositem terumbu karang yang sangat indah, namun tahukah kamu keindahan terumbu karang di Indonesia terancam????


Luas terumbu karang yang dimiliki Indonesia adalah 25.000 km² atau 10% dari luas total terumbu karang di dunia. Di Indonesia terdapat 569 jenis dari 845 jenis total yang ada di dunia (LIPI, 2017). Ekosistem terumbu karang di perairan Indonesia memiliki peran yang cukup penting, karena sekitar 600 jenis fauna Echinodermata dilaporkan menempati ekosistem terumbu karang perairan Indonesia. Ekosistem terumbu karang ini terbagi menjadi menjadi 3 zona utama, yaitu zona rataan terumbu, zona tubir (puncak terumbu), dan zona lereng terumbu.

Menurut LIPI (2016), kondisi ekosistem terumbu karang di Indonesia 35,15% dalam keadaan yang buruk/rusak. Kondisi ini menyebabkan beberapa spesies karang menjadi terancam. Salah satu spesies karang yang terancam adalah Acropora suharsonoi. IUCN sejak tahun 2008 telah menetapkan Acropora suharsonoi termasuk dalam spesies dengan status endangered. Acropora suharsonoi merupakan spesies karang endimik Indonesia yang berasal dari Lesser Sunda Islands dan tersebar di laut central Indo-Pacific. Spesies ini pertama kali dipublikasikan secara resmi oleh Wallace tahun 1994. Habitat dari spesies ini berada di zona lereng terumbu dan terdapat pada kedalaman 15-25 meter. Spesies ini memiliki bentuk bercabang seperti Acropora lainnya dan memiliki warna ungu, merah, biru, dan hijau neon.

Ancaman utama yang dapat mengancam Acropora suharsonoi dan jenis terumbu karang lainnya diantaranya adalah bleaching, penyakit, sedimentasi, meningkatnya populasi predator (Acanthaster planci), dan perdagangan terumbu karang. Dari berbagai ancaman yang ada bleaching dan perdagangan terumbu karang adalah ancaman yang banyak mendapat sorotan. Di Indonesia peristiwa bleaching mulai menjadi sorotan sejak tahun 1983. Pada tahun 1983 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengamati peristiwa pemutihan karang besar-besaran dengan tingkat kematian yang luas mulai dari Selat Sunda (Jawa Barat), Kepulauan Seribu (Jakarta) sampai Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah). Sejak saat itu terjadi lagi peristiwa pemutihan karang secara global pada tahun 1998, dimana lebih dari 55 negara mengalami tingkat pemutihan dan kematian karang yang tinggi. Sebanyak 90% karang mati akibat pemutihan pada 1998 di Sumatera Barat dan Kepulauan Gili, Lombok. Karang di wilayah Indonesia yang lain juga banyak yang terkena pemutihan.

Bleaching atau pemutihan terumbu karang mengakibatkan menghilangnya zooxanthellae yang merupakan tempat bergantungnya polip karang. Peristiwa ini terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu karang sehat, karang stres, dan karang memutih. Apabila hal ini terus-menerus terjadi dapat menyebabkan kematian pada karang, sehingga karang menjadi rapuh dan sedimentasi terumbu karang pun akan semakin meningkat. Hal ini juga memberikan dampak negatif terhadap fauna laut yang lain. Kenaikan suhu laut, meningkatnya curah hujan dan polusi, paparan berlebih sinar matahari, pasang surut laut yang ekstrim, dan meningkatnya tekanan antropogenik menyebabkan meningkatnya frekuensi dan durasi terjadinya penyakit dan proses bleaching pada terumbu karang.

Lalu dari semua permasalahan tersebut apa yang bisa kamu perbuat???

Aksi konservasi yang akan saya lakukan bernama “Colours are Smile of CORAL“. Program ini diberi nama “Colours are Smile of CORAL” memiliki arti bahwa penyeragaman warna putih (bleaching) pada karang menandakan bahwa karang dalam kondisi buruk dan kondisi ini dapat menyebabkan terancamnya kehidupan karang dan kehidupan makhluk lain dalam ekosistem terumbu karang. Aksi konservasi ini diperlukan karena ekosistem terumbu karang merupakan habitat dari banyak fauna laut (terutama Echinodermata). Selain itu, proses regenerasi terumbu karang yang sangat lama (sekitar 12-15 tahun) menyebabkan perlunya aksi untuk mengurangi kerusakan terhadap terumbu karang. Apabila hal ini dibiarkan maka dapat menyebabkan kepunahan terumbu karang yang disertai dengan kepunahan beberapa fauna laut yang hidup dalam ekosistem ini.

“Colours are Smile of CORAL” merupakan salah satu bentuk kampanye untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi terumbu karang dan membantu peneliti dalam membuat rencana tindak lanjut yang akan dilakukan. Aksi konservasi yang akan saya lakukan ini membantu komunitas REEF CHECK INDONESIA dalam mengumpulkan data, dimana data tersebut digunakan untuk memudahkan NOAA Coral Reef Watch dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memperoleh data mengenai kerusakan terumbu karang akibat bleaching. Kampanye yang akan saya lakukan dalam bentuk penulisan mengenai terumbu karang endemik Indonesia yang akan saya posting setiap 1 bulan sekali diakun blog pribadi saya dan akan mempublikasikan poster kampanye “Colours are Smile of CORAL” pada tanggal 9 Juni tahun 2018 dalam rangka memperingati CORAL TRIANGLE DAY.  Postingan poster ini akan saya lakukan di akun pribadi saya seperti di instagram, facebook, line, dan blog. Media sosial saya pilih sebagai jembatan untuk melakukan kampanye ini karena memudahkan banyak orang untuk mengakses sehingga kampanye ini dapat berjalan dengan efektif. Selain itu, masyarakat juga dapat melaporkan peristiwa bleaching yang terjadi di Indonesia, sehingga informasi akan lebih cepat tersampaikan.

Kampanye ini juga bertujuan menyampaikan pesan bahwa untuk menjadi volunteer yang terlibat dalam konservasi terumbu karang itu tidaklah sulit asalkan kita mau peduli dengan lingkungan sekitarnya. Yuk mulai saat ini kita lebih peduli dengan kondisi laut Indonesia dan jangan ragu untuk melaporkan peristiwa bleaching yang mungkin terjadi disekitar kalian ke link dibawah ini:

http://reefcheck.or.id/bleaching-indonesia/


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php