Siprianus Bhuka

LESTARIKAN CENDANA

Posted: December 6th 2014

BERTAHANLAH POHON CENDANA
(Santalum album)
cendana
1. Diskripsi dan Persebaran.
Cendana (Santalum album) memiliki batang berukuran kecil hingga sedang dengan diameter mencapai 40 cm dan tinggi mencapai 20 meter, dan kerap menggugurkan daun. Batangnya bulat agak berlekuk-lekuk. Tajuk pohonnya ramping atau melebar. Kulitnya kasar dan berwarna cokelat tua. Batang yang sudah tua berbau harum.
Daun cendana tunggal, berhadapan dengan bentuk elips dan tepi daun yang rata. Ujung daun runcing meskipun terkadang membulat. Akar cendana tanpa banir. Cendana memiliki perbungaan yang terminal atau eksiler yang tumbuh di ujung dan ketiak daun. Cendana memiliki buah batu berbentuk bulat yang berwarna hitam saat masak.
Cendana tumbuh di tanah yang panas dan kering terutama di tanah yang banyak kapurnya pada ketinggian hingga 1.200 m dpl. Cendana merupakan tumbuhan hemiparasit (setengah parasit) yaitu bersifat parasit hanya dalam sebagian tahap perkembangannya. Pada awal masa pertumbuhannya kecambah pohon cendana membutuhkan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan..
Pohon cendana dimanfaatkan terutama sebagai penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Minyak dan kayu cendana umumnya digunakan sebagai wewangian pada dupa, kosmetik, parfum dan sabun. Kayunya pun dapat dijadikan bahan ukiran yang indah sekaligus menebarkan aroma harum.
Selain itu, pohon cendana kerap kali dimanfaatkan juga sebagai bumbu makanan dan minuman, aromaterapi, dan obat tradisional. Cendana memiliki sifat antiplogistik (anti-inflamasi), antiseptik, antispasmodik, karminatif, astringen, diuretik, emolien, ekspektoran, relaksan dan tonik.
Menilik kemanfaatan pohon cendana dan daerah sebarannya yang asli Nusa Tenggara Timur tersebut tidak berlebihan jika kemudian tumbuhan ini dinobatkan sebagai flora identitas (maskot) provinsi Nusa Tenggara Timur.

2. Deskripsi Masalah.
Berbagai kemanfaatan dan kegunaan kayu dan minyak cendana menjadikannya sebagai primadona sejak abad ke-15 silam. Pada masa penjajahan Belanda, seluruh pohon cendana diberi cap sebagai milik pemerintah Belanda. Bahkan peraturan ini berlanjut saat Indonesia merdeka hingga tahun 1980-an. Di mana hasil penjualan cendana harus disetorkan kepada pemerintah Indonesia dan pemiliknya hanya mendapatkan bagian 15% dari hasil penjualan tersebut. Kebijakan ini yang kemudian membuat rakyat enggan untuk menanam pohon cendana sehingga cendana mulai langka.
Penyebab kelangkaan pohon cendana lainnya adalah penebangan dan eksploitasi besar-besaran yang tidak diimbangi dengan pembudidayaan yang baik. Apalagi dengan karakteristiknya sebagai pohon hemiparasit sehingga sukar dibudidayakan.
Menurut data Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Utara, pada tahun 2012 ini tercatat hanya terdapat 45.428 pohon saja di kabupaten tersebut. Jauh menurun dibandingkan pada tahun 1980-an dimana jumlahnya tidak terhitung.
Melihat keberadaan pohon cendana yang mulai langka itu tidak berlebihan jika kemudian IUCN Redlist memasukkannya sebagai spesies vulnerable (rentan) yang berarti sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang jika tidak ada tindakan penyelamatan yang serius.
3. Rencana dan aksi sosial
Mengingat bahwa tanaman cendana adalah tanaman hemiparasit maka dibutuhkan penanganan yang tepat agar keberadaan tanaman ini tak hilang. Cendana bersifat parasit hanya dalam sebagian tahap perkembangannya. Pada awal masa pertumbuhannya kecambah pohon cendana membutuhkan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
Oleh karena itu rencana penangananya adalah dengan menananam kembali cendana secara besar besaran dan juga penanaman pohon pohon lain didekat cendana itu, agar menjadi inang untuk pertumbuhan cendana karena mengingat kembali sifat dari cendana yang hemiparasit.Untuk tanaman atau pohon sebagai inangnya dapat digunakan saat di persemaian atau inang primer seperti tumbuhan krokot atau Alternanthera, Crotalaria Juncea atau orok-orok, dan Deamanthus Virgatus. Kemudian saat ditanam dilapangan beberapa jenis tanaman yang dapat dijadikan inang sebagai inang skunder adalah tanaman Johar, Turi, dan Lamtoro. Namun berdasarkan kebutuhan inang dan wilayah untuk Cendana, wilayah Nusa Tenggara dan Bali merupakan wilayah yang paling cocok untuk ditanami Cenana.
Pada umumnya wilayah NTT merupakan wilayah yang terbaik karena wilayahnya berbatu serta iklim yang cocok yaitu iklim tipe D dan tipe E. Target Penanaman Cendana ini akan dilakukan di Desa Ponai, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pertimbangan menanam Cendana di Desa Ponai, selain kondisi dan waktu, juga didukung musim hujan masih sangat baik. Akses jalan menuju lokasi pun cukup baik. Selain itu, di Desa Ponai telah ada Kelompok Tani Cendana binaan Balai Penelitian Kehutanan Kupang yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Program rehabilitasi pohon Cendana di Nusa Tenggara Timur, adalah prakarsa Menteri Kehutanan di tahun 2006.


2 responses to “LESTARIKAN CENDANA”

  1. likasta0701 says:

    ku mau tanya ni rian, apakah dalam pembibitan dari cendana ini sulit di lakukan?/
    makasi.

    • siprianus bhuka says:

      jadi bgni yana…pembibitaqn itu sebnarnya sudah dilakukan hanya masih ada oknum oknum tertentu yang masuh trauma untuk menanamnya kmbali karean mengingat sistem pemerintahan indonesia yang dulu yang smua penm\nhasilan daerah harus \diserahkan ke pusat dan daerah itu sendiri hanya mndapat 15 % saja dari hasilnya itu,,oleh karena itu minat msyrakat terhadapa penanaman kemvbali tanaman jenis ini sudahlah menurun. trima kasih,,salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php