Sigit Purnomo

weblog

Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat serta akan masuknya PTS asing ke Indonesia, PTS Katolik yang tergabung dalam APTIK hendaknya harus segera berubah. Saat ini justru banyak perguruan tinggi besar dan yang telah lama berkibar, termasuk PTS Katolik, ditinggalkan peminat. Saat ini customer lebih melirik kampus-kampus yang “sexy” yang terkesan muda dan metroseksual, menerapkan kemajuan IT, memberikan pelayanan cepat, kerja sama internasional, dan menawarkan learning, leisure, dan work. Demikian pernyataan Rhenald Kasali di depan peserta Seminar sehari “Hari Studi” APTIK kerja bareng dengan Universitas Sanata Dharma di Hotel Santika Jumat (14/10). Informasi selengkapnya klik di sini.

Sebagai bagian dari sebuah PTS, kondisi tersebut sungguh-sungguh memberikan tantangan dan inspirasi. Change! itulah kata kuncinya menurut Rhenald Kasali. Pertanyaannya adalah perubahan seperti apa yang harus dilakukan? Apakah harus menjadi “sexy” yang terkesan muda dan metroseksual? Ataukah menerapkan kemajuan IT? Setelah sekian waktu merenung, akhirnya jawabannya adalah dua-duanya. Yup, perubahan itulah yang bisa dilakukan! Berubah dengan menerapkan kemajuan IT untuk menjadi “sexy” yang terkesan muda dan metroseksual. Perubahan yang mungkin kecil tetapi memberikan harapan bahwa kelak dapat memberikan suatu added value yang berharga.

Perubahan sudah jelas, yaitu menerapkan kemajuan IT untuk menjadi “sexy” yang terkesan muda dan metroseksual. Bagaimana pengejawantahannya? 4 (empat) tahun lalu, tepatnya 1 April 2002, berawal dari sebuah harapan untuk membangun sebuah media/sarana berkomunikasi atau berinteraksi yang lebih luas dengan memanfaatkan kemajuan IT (Internet), telah hadir sebuah personal web site. Setelah 4 (empat) tahun berlalu, ternyata kehadirannya kurang begitu berarti atau mengena. Selain karena Web Server yang sering bermasalah, desainnya juga terlalu formal dan tidak terkesan muda. Content yang tersediapun juga jarang diubah dan tidak tersedia fasilitas lain untuk berinteraksi selain guest book sehingga membuat orang malas untuk mengunjunginya. Hal ini menunjukkan bahwa harus ada sesuatu yang berubah. Sekali lagi, change! Saya perlu untuk berubah lagi. Saya harus membuat personal web site saya menjadi “sexy” dan terkesan muda (informal).

Akhirnya format personal web sites yang seperti blog-lah yang saya pilih. Mengapa? Perkembangan penggunaan Internet selama dua tahun ini tidak lepas dari jaringan pertemanan (friendster) ataupun blog. Blog dengan segala sistem pendukungnya (misal: WordPress) membuat segala keterbatasan yang ada dalam personal web site yang lama dapat dihilangkan. Desain visual bisa dengan mudah diubah-ubah sehingga tidak membosankan dan kaku. Content dapat dikelola dengan mudah sehingga informasi yang tersedia senantiasa up-to-date. Informasi juga dapat dengan mudah dikelompokkan ke dalam berbagai kategori sehingga informasi yang tersedia akan semakin banyak dan tidak melulu tentang diri saya saja. Satu hal lagi yang sangat penting adalah fasilitas untuk berinteraksi dengan pengunjung melalui fitur pemberian comment terhadap informasi yang saya posting. Hal ini tentu saja dapat membuat proses interaksi menjadi lebih intensif dikala terjadi diskusi mengenai topik yang saya posting.

Finally, let’s be “sexy” and let’s start blogging!


© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php