Sigit Purnomo

No Motivation, No Passion, and No Creativity: Death

Posted: December 16th 2008

Alkisah, pada jaman dahulu kala, ada sebuah padepokan di negeri antah berantah. Pada suatu pagi yang cerah dan indah, sang guru sedang berkumpul bersama murid-murid kesayangannya. Setelah memberikan petuah/wejangan kepada para muridnya, sang guru pun memberikan tugas kepada para muridnya.

Tugas yang diberikan sang guru kepada muridnya adalah untuk menemukan jurus baru dan menemukan keselarasan jurus tersebut dengan alam sekitar. Sang guru memberikan contoh bagaiamana ketika beliau dahulu berhasil mempelajari Jurus Kungfu Satu Jari, Jurus Kungfu Peremuk Tulang, dan jurus-jurus lainnya. Sang guru memberikan waktu satu bulan untuk mengerjakan tugas tersebut.

Hari-haripun berlalu, dan sang guru senantiasa mengingatkan murid-muridnya untuk segera mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya. Sang guru juga berusaha membantu murid-muridnya dengan memberikan pengarahan-pengarahan tentang bagaimana mengerjakan tugas tersebut.  Sang guru mempunyai harapan besar terhadap murid-muridnya karena keberhasilan mereka adalah kebahagiaan bagi sang guru.

Akhirnya tiba waktunya bagi para murid untuk menunjukkan hasil tugasnya kepada sang guru.  Ada murid yang menunjukkan Jurus Kungfu Panda, ada yang menunjukkan jurus Kungfu Seribu Bayangan, dan berbagai jurus kungfu lainnya. Mereka pun juga menjelaskan keselarasan jurus mereka dengan alam sekitar.  Namun, ternyata ada yang aneh dengan ekspresi sang guru ketika menyaksikan para muridnya menunjukkan jurus-jurus mereka. Rona wajah sang guru terlihat tidak bahagia.

Sang guru pun akhirnya menutup sesi itu dengan menceritakan kenapa beliau merasa tidak bahagia.

“Murid-muridku tersayang. Guru hari ini sangat sedih. Guru sedih karena kalian tidak memiliki motivasi, passion, dan kreatifitas di dalam mengerjakan tugas dari guru. Jurus-jurus yang kalian tunjukkan hanya berbeda nama saja dengan apa yang dulu sudah pernah dikerjakan kakak seperguruan kalian.  Bahkan jurus kalian ada yang sama dengan jurus teman kalian sendiri. Guru tidak ingin kalian seperti katak dalam tempurung. Guru ingin kalian membuka pikiran kalian dan berkembang. Guru juga ingin kalian mampu meruntuhkan Benteng Takeshi yang ada di dalam diri kalian. Contoh yang ada bukan untuk membatasi kalian bahwa semuanya harus dikerjakan seperti itu.”

Finally, sang gurupun menyampaikan sebuah kutipan dari Charles Darwin tentang perubahan, dengan harapan para muridnya mau berubah menjadi lebih baik.

“It is not the strongest of the species that survives, not yet the most intelligent, but the one most responsive to change.”


2 responses to “No Motivation, No Passion, and No Creativity: Death”

  1. Mixmax says:

    Salah satu murid terpandai juga berkata kepada sang guru:
    “Kenapa Guru selalu mengajarkan jurus2 yang sama dengan kakak2 seperguruan saya sebelumnya?”

    Kemudian sang murid melanjutkan dengan sebuah kalimat:
    “Good artist copy and modify it, but GREAT artist steal it, that’s why Bill is so rich…”

  2. y_sigit_p says:

    @Mixmax:
    hmm… jurus-jurus yang diajarkan akan selalu dievaluasi untuk dilakukan pemutakhiran (update) dan biasanya hal itu dilakukan kurang lebih 4 tahun sekali (pergantian kurikulum)… kadang 4 tahun terlalu lama, sehingga pemutakhiran selama ini dilakukan dengan melakukan update pada bagian contoh2/implementasinya disesuaikan dengan kondisi terbaru…

    btw, i’ll prefer choose to become a good artist rather than a great artist…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php