Sigit Purnomo

Komunitas dengan Solidaritas Semu ala Gossip Girl

Posted: September 10th 2008

Sebenarnya pingin nulis tentang tema “comfort zone” karena sepertinya kehidupan di kampus (khususnya mahasiswa) sedang berada pada kondisi ini, tapi setelah nonton Gossip Girl di Trans|7, terlebih diepisode hari Senin, 08 September 2008 kemarin, jadi pingin nulis tentang tema solidaritas semu di suatu komunitas. Ditambah lagi, di 2 minggu ini, di berbagai media juga sedang dibicarakan mengenai kontroversi penyebab kematian Sophan Sopiaan bulan Mei lalu yang berhubungan dengan masalah komunitas juga. Jika memang kematian beliau tidak wajar dan ada yang ditutup-tutupi, maka bisa jadi ada yang salah dengan komunitas mereka. Atau kalau mau diingat-ingat lagi beberapa waktu yang lalu muncul kasus-kasus seperti genk motor, genk Nero dan genk lainnya.

Dalam beberapa episode Gossip Girl yang sudah ditayangkan di Trans|7, terlihat bagaimana karakter Jenny Humphrey berusaha mati-matian untuk masuk ke komunitas gadis kaya (Blair Waldorf, dkk) untuk membagun image dirinya. Bahkan, di episode hari Senin lalu ketika telah berhasil masuk ke dalam komunitas dan menjadi pemimpin komunitas (menggantikan Blair), Jenny sampai mencuri baju mahal dari keluarga salah satu anggota komunitas gadis kaya tersebut untuk dipakai pada saat pesta ulang tahunnya. Hmmm… sampai segitunya, padahal kalau dilihat di dalam komunitas tersebut, kalau menurut saya solidaritas yang ada hanya bersifat semu. Saling menjatuhkan antar anggota, menjatuhkan orang lain, memikirkan diri sendiri, dan hanya untuk saling show-off saja. Sayang, jika kita membangun suatu komunitas hanya untuk hal seperti itu.

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa membangun komunitas yang lebih baik? Komunitas dimana kita bisa berkembang dan belajar bersama seperti yang disampaikan Alex di blognya melalui tulisan ini. Komunitas dimana para blogger saling berbagi dan bertemu untuk suatu hal yang baik seperti yang dilakukan oleh cahandong dan komunitas blogger lainnya seperti bali blogger community. Anda bisa belajar dari pengalaman mereka. Di P.S. Teknik Informatika sendiri banyak sekali komunitas dalam bentuk kelompok studi. Ada KSP (Kelompok Studi Pemrograman), KSA (Kelompok Studi Animasi), KSL (Kelompok Studi Linux), yang sudah berjalan dan KSAM (Kelompok Studi Anti Malware) serta KSR (Kelompok Studi Robotika) yang sedang akan dibangun. Sejauh yang saya tau, jika komunitas yang dibentuk didasari motivasi untuk berbagi dan belajar serta berkembang bersama, inklusif, dan humanis, maka komunitas Anda akan menjadi komunitas yang baik dan solidaritasnya tidak hanya solidaritas semu.


12 responses to “Komunitas dengan Solidaritas Semu ala Gossip Girl”

  1. Gin Vegas says:

    Wah, peminat Gossip Girl juga ya, Pak. Nice taste 🙂

    Saya setuju, Pak Sigit. Memang terkadang di tengah-tengah masyarakat luas yang kini men-tuhan-kan sesuatu yang disebut “trend” dan “hip”, sukar untuk menemukan kesejatian diri kita sendiri.

    Iklan di negara kita lebih sering menggembar-gemborkan semboyan be yourself, namun entah mengapa selalu disisipi unsur komersil dan mempersuasi orang menjadi konsumtif. Seakan belum cukup, sinetron kita menjadi contoh buruk (dan baik) mengenai kehidupan konsumtif. Hal ini bisa dilihat, bahkan pada sebuah sinetron yang mengusung tema hidup miskin, sanga karakter tepa terlihat tinggal di rumah mewah dan memakai dandanan yang serba wah ke sekolahnya.

    Padahal, tiap manusia adalah individu yang unik. Meskipun begitu, justru – terbalik dari cara pemikiran orang biasanya – dengan menyadari keunikan kita itulah kita bisa bersolidaritas secara sejati pada orang lain. Menurut pepatah, orang buta tidak akan bisa menuntun orang buta. Demikian juga, orang yang terhanyut dalam “solidaritas” semu tadi, juga akan sukar untuk mengajak orang lain untuk bebas dari “persekutuan” yang semu ini. Karena itu, sebelum mengerti orang lain, adalah penting untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu.

    Walah, malah jadi khotbah ^_^. Intinya, saya setuju dengan Pak Sigit yang dosen informatika UAJY tapi mau “keluar kantor” sejenak dan berkunjung ke tanah “character builiding” dan ilmu sosial. Salut saya untuk Anda. Keep blogging, Sir, keep blogging.

  2. BTW, tertarik untuk buat Open Solaris Study Club pak?
    atau mungkin SUN Campus Club?

  3. y_sigit_p says:

    #Alex Budiyanto:
    prosedurnya bagaimana Lex?
    UAJY kan belum bekerjasama dengan SUN?

  4. @y_sigit_p,
    Pak Sigit,
    Untuk Open Solaris Study Club sendiri, bisa independent seperti hal-nya KSL, untuk resources belajar, nanti bisa saya kirimkan.
    Untuk SUN Campus Club, saat ini rencana program-nya masih di godog, jadi masih harus nunggu beberapa saat lagi.
    BTW, untuk bekerjasama dengan SUN di bidang edukasi, mungkin bisa lewat Sun Academic Initiative yang detailnya bisa dilihat DISINI

  5. y_sigit_p says:

    #Alex Budiyanto:
    OK, Lex, nanti saya tawarkan ke temen2 dosen dan mahasiswa…
    thanks a lot ya informasinya… untuk yang Sun Academic Initiative nanti sama Pak Kusworo aja… rencana tahun ini memang kita mau ke sana…

  6. @y_sigit_p,
    Pak Sigit,
    OK Pak, semoga rekan-rekan dosen dan mahasiswa TF-UAJY, tertarik untuk belajar sebuah sistem operasi yang sudah proven di enterprise and now going to open source.

  7. […] komunitas yang baik dan tidak hanya sekedar menjadi komunitas semu seperti yang sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Anda juga akan belajar bagaimana mengelola konflik yang terjadi. karena konflik pasti ada dalam […]

  8. andyx says:

    klo saya balik ke kampus lagi… mmm bikin komunitas “nongkrong di kantin yuuk” pak sigit pa kabar??? dah punya momongan blum?

  9. dedy says:

    Salam Pak sigit pa kabar???
    sory agak skeptis, tapi belajar dari pengalaman, komunitas biasanya bermula dari beberapa orang yang punya visi yang sama sehingga dikembangkan menjadi suatu komunitas,berkembang “kebanyakan” untukshow up/biar bisa “dapet orang unt mengerjakan tugas kampus” selain itu “entertainment” kayaknya nomor satu. masalah yang terjadi ketika 2-3 tahun kemudian pendiri komunitas sudah meninggalkan kampus maka komunitas mulai bubar. Menurut bapak gimana ya caranya biar Soul dan cita-cita awal pendirian komunitas bisa terus terjaga dan terregenerasi???
    Salam

    dedy
    Eks Anggota Animatics,KSL

  10. ciqipi says:

    mas,tLg juga bahas ttg komunitas high class yg ada di gossip girl yaa…bwt bahan penelitian…

  11. adi says:

    pa sigit,…aku mau tanya ni,.bagaimanakah tips dan trik membangun sebuah komuitas ,…khusunya komunitas di bidang informatika,……hehehe…..

    soalnya slama ini aku pengen skali hidup dalam komnitas,…tapi ga berhasil juga,…….

  12. y_sigit_p says:

    @adi:
    sejauh yang saya tau, keberhasilan sebuah komunitas salah satunya karena anggota-nya punya passion yang sama di bidang yang ditekuni oleh komunitas itu, so bisa punya awareness untuk sama-sama mengembangkan komunitasnya…

    btw, sebagai langkah awal silahkan saja join ke beberapa milist atau forum diskusi yang sesuai dengan minta Anda…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php