Sigit Purnomo

Mahasiswa lebih Pintar dari Dosennya, Why Not?

Posted: March 18th 2008

Artikel ini terinspirasi dari sebuah cerita yang saya baca di buku “Mutasi DNA Powerhouse” karangan Rhenald Kasali (Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008). Cerita yang menggambarkan bagaimana Petronas yang saat ini merupakan Powerhouse Malaysia, pada masa awal sebelum pendiriannya belajar dari Pertamina (Powerhouse Indonesia). Petronas sebagai murid saat ini lebih “pintar” dari Pertamina sebagai gurunya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Sebagai murid, Malaysia mengambil yang baik-baik dari Pertamina dan menutupi “bolong-bolong” yang ada di Pertamina dengan kekuatan original yang dimiliki. Jika Anda penasaran mengenai hal-hal apa saja yang diadopsi dan ditambal oleh Malaysia dapat Anda baca di buku tersebut (silahkan beli dan dibaca karena isinya sangat bagus :p).

Mahasiswa sebagai murid sangat memungkinkan untuk menjadi lebih pintar dari dosen yang menjadi gurunya. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar mahasiswa dapat menjadi lebih pintar dari dosennya? Sama seperti dengan apa yang dilakukan oleh Malaysia pada saat mendirikan Petronas, yaitu mengadopsi yang baik dari dosen dan menambal “bolong-bolong” yang dimiliki oleh dosennya. Mahasiswa dapat mengambil hal-hal positif (baik) yang diberikan dosen dalam proses belajar mengajar dan melengkapi hal-hal yang menjadi kekurangan dosen pada saat proses belajar mengajar. Nah, biasanya “bolong-bolong” yang dimiliki oleh seorang dosen bermacam-macam. Jika Anda sebagai mahasiswa merasakan bahwa apa yang diberikan oleh dosen masih sebatas hal-hal yang bersifat konseptual saja, maka Anda dapat melakukan studi mandiri dengan mencari informasi mengenai bagaimana implementasinya di dunia nyata. Studi mandiri dapat Anda lakukan melalui Internet maupun media cetak lainnya. Hal yang sama juga dapat Anda lakukan untuk mengisi “bolong-bolong’ dosen yang lain, misal keterbatasan penguasaan tools, keterbatasan pengalaman dan lain-lain (silahkan Anda lengkapi dengan memberikan comment pada artikel ini, apa saja hal-hal yang menurut Anda menjadi “bolong-bolong” dosen).

Finally, sebenarnya inti jawaban dari pertanyaan pada judul adalah student-centric learning. Permasalahannya adalah apakah mahasiswa dan dosen sudah siap untuk menjalankan student-centric learning?


5 responses to “Mahasiswa lebih Pintar dari Dosennya, Why Not?”

  1. Hery says:

    Mohon maaf terlebih dahulu…. Terkadang ada dosen yang mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Sehingga jika ada mahasiswa yang ingin bertanya mengenai suatu hal yang berkaitan dengan MK tersebut, tidak dapat dijawab oleh dsn yang bersangkutan (atau kurang memuaskan). Tapi untuk sejauh ini, dosen2 UAJY memang berkompeten… Gak nyesal g kul di sini…

    Harganya berapa pak? beli di mana pak?

  2. Yup, sekarang tergantung kita sendiri, mau ngembangin ilmu yang kita dapat di kuliah dan menambah-nya dengan ilmu atau pengalaman dari luar bangku kuliah apa tidak 🙂

  3. y_sigit_p says:

    #Hery:
    nah, itu dia salah satu ‘bolong’ dosen yang harus ditambal oleh mahasiswa… saya yakin jawaban yang kurang memuaskan itu akan membuat mahasiswa menjadi termotivasi untuk menemukan jawaban yang memuaskan sehingga pada akhirnya mahasiswa lebih pintar dari dosennya… btw, buku bisa dibeli di Gramedia (175rb) atau Toga Mas(140rb)…

    #Alex Budiyanto:
    yup… seperti yang kmu lakukan kan Lex… sampai2 skripsinya gak kelar2 karena sibuk mencari ilmu di luar hehehehe…:p

  4. masboi says:

    salam sigit. blog-nya mantab! masih kuliah atau dosen 🙂 ? saya alumni fisip 93-99. skrng lagi iseng2 lg menggerakkan teman2 di http://www.formasinet.com. bisa bantu gak git?

  5. y_sigit_p says:

    #masboi:
    thanks… skrg udah dosen hihihi…:p mas boi PASTI ya? dulu sering nongkrong di PUSGIWA atau Kantin? ok, saya usahakan tuk bantu & apa yang bisa tak bantuin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php