Sigit Purnomo

Disaster Recovery Plan (DRP)

Posted: June 8th 2006

Ketika semua mata dan persiapan penanggulangan bencana tertuju pada Gunung Merapi, pagi itu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sebagian daerah Jawa Tengah (Jateng) diguncang gempa bumi yang telah meluluhlantakkan sebagian besar daerah di DIY dan Jateng. Gempa 5,9 SR ini terjadi pada pukul 05.53 WIB, Sabtu (27/5/2006) dan berada pada koordinat 8,26 LS dan 110,33 BT. Pusat gempa berkedalaman di 37,6 KM selatan Yogya dan 33 KM di bawah permukaan laut (detikcom). Dampak dari bencana ini bisa dikatakan sangat dasyat. Banyak bangunan yang roboh dan mengalami kerusakan parah (termasuk rumah saya 🙁 ). Korban meninggal maupun luka sangat banyak. Masyarakat juga dibuat panik dengan berbagai isu baik tsunami maupun lainnya, seperti penjarahan maupun gempa susulan yang lebih besar.

Kejadian ini tentu saja juga melumpuhkan sistem informasi berbasis jaringan komputer yang telah ada di daerah bencana. Bank, perusahaan dan instansi pemerintah serta bidang-bidang lainnya yang telah memanfaatkan teknologi informasi mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar baik secara finansial maupun lainnya. Lalu bagaimana proses pemulihan terhadap teknologi informasi yang dipakai untuk mendukung operasional bisnis harus dilakukan? Pada kondisi ini, Disaster Reovery Plan (DRP) harusnya sangat berperan, tetapi terkadang hal ini sering dilupakan sehingga tidak semuanya memiliki DRP.

DRP adalah langkah-langkah pemulihan atau penyelamatan terhadap sumber daya perusahan/instansi, khususnya fasilitas teknologi informasi (TI) yang digunakan untuk mendukung proses bisnis suatu perusahaan/instansi. Tujuan DRP adalah meminimalkan dampak dari bencana dan mengambil langkah-langkah pasti yang diperlukan untuk memastikan agar sumber daya dan proses bisnis dapat kembali me-resume operasional dari proses bisnis secepatnya. Dengan kata lain proses bisnis harus tetap berjalan meski ada disaster sehingga kerugian finansial tidak terlalu besar dan sumber daya, khususnya fasilitas TI dapat selamat dari disaster. Lalu apa saja strategi DRP?

Sebelum menentukan strategi DRP, kita harus memperhatikan aktifitas-aktifitas bisnis apa saja yang harus dilakukan selama fasilitas TI sedang di-recover. Jika sudah, maka kita dapat memilih salah satu dari strategi berikut.

Hot Site
Strategi hot site dilakukan dengan membangun fasilitas backup sistem yang dikonfigurasi secara penuh dan siap untuk beroperasi dalam waktu yang singkat. Sistem harus kompatibel dengan data yang di-backup dari main site dan tidak menimbulkan permasalahan interoperabilitas. Strategi ini dapat mendukung untuk jangka pendek/panjang dan fleksibel dalam hal konfigurasi maupun pilihan, tetapi sangat mahal.
Contoh penerapan strategi ini adalah sebuah bank yang memiliki satu kantor cabang dan banyak kantor cabang pembantu di suatu daerah. Di antara kantor-kantor cabang tersebut, salah satunya dapat dibangun fasilitas backup sistem yang dikonfigurasi secara penuh seperti apa yang ada pada kantor cabang sehingga jika terjadi disaster pada kantor cabang maka operasional bisnis dapat dipindahkan pada kantor cabang pembantu tersebut.

Warm Site
Strategi warm site dilakukan dengan membangun fasilitas backup sistem yang biasanya dikonfigurasi sebagian dan menggunakan komputer yang spesifikasinya tidak sama dengan yg di main site (lebih rendah). Strategi ini tidak terlalu mahal dan paling banyak digunakan.
Contoh penerapan strategi ini adalah sebuah bank yang memiliki satu kantor cabang dan banyak kantor cabang pembantu di suatu daerah. Jika terjadi disaster pada kantor cabang, maka operasional bisnis dapat dipindahkan pada kantor cabang pembantu tersebut meski fasilitas yang ada tidak selengkap apa yang ada di kantor cabang.

Cold Site
Strategi cold site dilakukan dengan membangun fasilitas backup sistem yang terdiri dari komponen-komponen environmental dasar, seperti listrik, AC, meja, dan lain lain.Strategi ini membutuhkan waktu untuk dapat diaktifkan dan siap untuk dioperasikan. Strategi ini murah tetapi membutuhkan banyak waktu dan usaha agar dapat segera beroperasi pada saat terjadi bencana.
Contoh penerapan strategi ini adalah sebuah bank yang memiliki satu kantor cabang dan banyak kantor cabang pembantu di suatu daerah. Jika terjadi disaster, maka operasional bisnis dapat dipindahkan pada tempat lain yang memiliki fasilitas environmental dasar, misal rumah karyawan bank, ruko ataupun tempat lainnya dan kemudian operasional bisnis segera disiapkan sehingga dapat berjalan.

Finally, apa yang saya sampaikan di atas merupakan materi kuliah Perencanaan dan Manajemen Jaringan. Materi ini saya sampaikan di kelas 2 minggu sebelum terjadi bencana di DIY dan Jateng dan tidak disangka ternyata 2 minggu kemudian, kita mengalami disaster yang sebenarnya.


5 responses to “Disaster Recovery Plan (DRP)”

  1. y_sigit_p says:

    it’s happen again (click here)… please always be carefull… your live n your business…

  2. y_sigit_p says:

    for more information about how the implementation please read here

  3. […] my profile Disaster Recovery Plan (DRP) Graphical User Interface (GUI): Dari Masa Ke Masa June 10th, 2006 […]

  4. sam says:

    pak “nyicil” dikit dari sini yah buat bikin ujian pmj…
    khan resource… ^^

  5. budy wijaya says:

    Mungkin untuk recovery Sistem Informasi berbasis komputer yang terjadi di lapangan bisa dilihat melalui tips2 yang ada di blog saya, semoga bisa membantu

    http://boedblog.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php