Pascalia Shendy

Biologi Konservasi : Si Kecil Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang Hampir Punah

Posted: August 24th 2016

Duskyleafmonkey1

Hallo! Si Kecil Lutung Jawa yang lucu ini akan menemani kalian selama mengunjungi blog ini. Selamat membaca!

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang saat ini keberadaannya terancam. Satwa ini telah dilindungi sejak tahun 1999 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No:733/KptsII/1999. Pada tahun 2009 IUCN memasukkan lutung Jawa pada kategori Vulnerable (Rentan) A2cd Versi 3.1. spesies ini juga tercantum dalam CITES Appendix II. Menurut CITES, termasuk dalam Appendix II apabila spesies tersebut mendekati kisaran terancam (Threatened) sampai punah (Extinct).1472475463062

Menurut Mace dan Balmford dalam the IUCN Red List of Threatened Species tahun 2000 serta Supriatna dan Wahyono (2000), klasifikasi dari Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) adalah :

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Family : Cercopithecidae
Genus : Trachypithecus
Spesies : Trachypithecus auratus

Menurut Supriatna dan Wahyono (2000), keluarga besar lutung pada awalnya dimasukan kedalam genusPresbytis, namun sekarang beberapa jenis dimasukan kedalam genus Trachypithecus. Indonesia memiliki keluarga lutung (family Cercopithecidae) yang terdiri dari sepuluh jenis Presbytis dan dua jenisTrachypithecus.

Deskripsi

Lutung Jawa mempunyai ukuran tubuh sekitar 55 cm dengan panjang ekor hampir dua kali lipat panjang tubuhnya mencapai 80 cm. Berat tubuhnya sekitar 6 kg. Bulu lutung jawa (Trachypithecus auratus) berwarna hitam dan lutung betina memiliki bulu berwana keperakan di sekitar kelaminnya. Lutung jawa (lutung budeng) muda memiliki bulu yang berwarna oranye. Untuk subspesies Trachypithecus auratus auratus (Spangled Langur Ebony) meliki ras yang mempunyai bulu seperti lutung jawa muda dengan warna bulu yang oranye sedikit gelap dengan ujung kuninglutung-jawa-trachypithecus-auratus.

Habitat dan Ekologi

Menurut Groves, (2001) dalam Kurniawan, (2010) selain di Pulau Jawa, satwa ini juga dapat ditemukan di pulau-pulau yang lebih kecil seperti Bali, Lombok, Sempu, dan Nusa Barung. Nijman dan Supriatna, (2008) dalam Kurniawan, (2010) menyebutkan bahwa ada dua sub-spesies lutung Jawa yaitu Trachypithecus auratus auratus tersebar di Jawa Timur, Bali, Lombok, Sempu, Nusa Barung dan Trachypithecus auratus mauritius memiliki distribusi terbatas di Jawa Barat.

Lutung Jawa termasuk primata dari sub famili Colobinae. Lutung Jawa memakan lebih dari 66 jenis tumbuhan yang berbeda. Komposisi makanan ialah 50 % daun, 32% buah, 13 % bunga dan sisanya bagian dari tumbuhan serta serangga. Ruang jelajah antara 15 – 23 Ha, dengan pergerakan harian dapat mencapai 500 – 1.300 meter. Dalam hidupnya lutung Jawa membentuk kelompok dengan beberapa individu mulai dari 6 – 23 ekor. Dalam setiap kelompok hanya ada satu jantan dewasa sebagai pimpinan, dan beberapa betina dewasa sebagai pasangan serta anak-anak yang masih dalam asuhan induknya (Supriyatna dan Wahyono, 2000).

Populasi Lutung Jawa semakin terancam karena kawasan hutan berubah menjadi lahan pertanian. Mempertimbangkan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang merupakan spesies endemik Indonesia dengan status konservasi terancam punah dan fungsi ekologisnya yang tinggi sebagai penyebar biji, maka dibutuhkan suatu langkah-langkah konservasi yang tepat sasaran agar kelestarian jenis tersebut di hutan alam tetap terjaga.

Aksi Konservasi

Spesies ini terdaftar dalam CITES Appendix II, dan telah dilindungi oleh hukum Indonesia sejak tahu 1999. Ini telah dicatat dari Cagar Alam Pangandaran (Watanabe et al, 1994), Gunung Halimun dan Taman Nasional Ujung Kulon (Gurmaya et al, 1994).

Daftar Pustaka

http://www.iucnredlist.org/details/22034/0

Kurniawan, I. 2010. Survei Populasi lutung Jawa (Trachypithecus auratus E. Geoffroy) Di Cagar Alam Pulau Sempu, Malang Selatan, Jawa Timur, Indonesia. Javan Langur Center. Batu. p 2, 4-9, 29.

Supriatna, J. dan Wahyono, E, H. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. p 225-227.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php