Sharon

Anggrek Bulan dalam ambang kepunahan, kita bisa apa?

Posted: December 8th 2020

Kemajuan zaman menyabkan semakin banyaknya eksploitasi flora dan fauna eksotis di segala belahan dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan situs IUCN Red List diketahui bahwa ada 6 spesies tumbuhan yang sudah dalam daftar terancam punah, yaitu Meranti (Shorea faguetiana), Anggrek kantong, bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanium), Katimbang balao (Etlingera spinulosa), dan Etlingera penicillata. Maraknya perdagangan ilegal, deforestasi, dan eksploitasi tanpa memikirkan konservasi menjadi penyebab utama suatu flora/fauna menjadi terancam punah. Dalam artikel ini saya akan membahas tentang salah satu bunga nasional Indonesia yang hampir punah, yaitu Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis).

Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) memiliki ciri khas kelopak bunganya lebar dan berwarna putih dengan corak yang beraneka ragam, anggrek ini merupakan salah satu jenis anggrek yang ada di Indonesia yang statusnya terancam punah yang tercatat dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) apendix II . Anggrek bulan terancam punah akibat banyaknya eksploitasi berlebihan dan juga oleh deforestasi yang sekarang banyak terjadi. Anggrek bulan sendiri tersebar luas di Indonesia mulai dari pulau Kalimantan, jawa, Papua, dan Sumatra.

Cara konservasi yang dapat kita lakukan untuk pelestarian anggrek bulan dapat dilakukan dengan cara mengkultur anggrek secara in-vitro untuk memperbanyak bibit anggrek tersebut. Kultur in vitro dapat dilakukan dengan alat dan metode yang cukup sederhana sehingga dapat dilakukan dalam laboratorium skala kecil maupun dalam skala rumah tangga. Mahasiswa teknobiologi UAJY telah dibekali dengan mata kuliah kultur jaringan tumbuhan yang dapat menunjang aksi konservasi ini. Saya percaya bahwa kultur in-vitro dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah dari anggrek bulan dalam waktu yang cukup singkat dan efektif. Selain itu cara konservasi juga dapat kita lakukan dengan menghentikan perdagangan ilegal anggrek bulan. Anggrek bulan banyak diperjualbelikan di e-commerce, apabila kita mendapati suatu akun yang memperjualbelikan anggrek bulan maka kita dapat mereport akun tersebut atau melaporkan akun tersebut kepada pihak berwajib karena telah memperjualbelikan tanaman yang dilindungi. Selain itu kita juga harus mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan eksploitasi pada anggrek bulan di habitat aslinya dan menolak deforestasi untuk pembukaan lahan yang bersifat tidak penting dan sangat merusak ekosistem.


9 responses to “Anggrek Bulan dalam ambang kepunahan, kita bisa apa?”

  1. deyaeufresia04 says:

    wih bener kultur in vitro harus dikembangkan untuk ke depan karena kepunahan dapat dicegah mungkin malah hasil nya bisa ditingkatkan

  2. Ryu says:

    Artikel yang bagus, memberikan wawasan mengenai Anggrek Bulan

  3. Ignasius Trisna Laksana says:

    Wah artikelnya sangat menarik..semoga upaya yang dilakukan dapatmelestarikan tumbuhanlangka. Salam Sehat!

  4. Gregorius Valens Eryen says:

    Mantap mungkin kedepannya benar benar dapat direalisasikan untuk kultur anggrek tersebut

  5. Rebecca says:

    Artikel sangat lengkap dan informatif. Saya baru tahu bahwa anggrek bulan terancam punah. Terima kasih sudah memberikan cara konservasi anggrek bulan.

  6. Artikel yang sangat menarik, menambah wawasan tentang anggrek bulan dan opsi opsi untuk melestarikan anggrek tersebut dengan cara kultur jaringan, mereport akun jual beli ilegal dan menolak deforestasi.

  7. divaamira says:

    sungguh sangat menarik, semoga kedepannya anggrek ini semakin banyak dilestarikan yaaa

  8. caeciliadayu says:

    bagus dan menarik sekali artikelnya, dapat menambah pengetahuan serta dengan adanya informasi bahwa anggrek bulan ini terancam punah kita dapat melakukan konservasi dan semoga kultur dapat dilakukan secara nyataa

  9. anastasianovita219 says:

    Artikelnya menarik, semoga semua orang di sekitar mampu memanfaatkan cara konservasi yang akan dilakukan sehingga dapat menjaga kelestarian dari anggrek bulan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php